TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Duka di Tengah Pandemi


Ramadhan tahun ini memang terasa berbeda. Meskipun kebiasaan sebelum ramadhan harga bahan pokok menaik tajam, namun kondisi tahun ini benar-benar harus semakin sabar. Di tengah kondisi pandemi ini terasa semakin sulit untuk mendapatkan uang, pengangguran akibat Corona pun dimana-mana, belum lagi PHK terjadi di beberapa kota besar di Indonesia. Penghasilan tidak menentu, namun kebutuhan pokok hidup sudah pasti harus dipenuhi. Maka hal ini benar-benar membuat angka kejahatan semakin tinggi. Persoalan perut lapar memang tidak bisa diabaikan.

Sungguh ironi, di negeri yang kata orang surga dunia seperti Indonesia ini ternyata biang dijumpai banyak orang yang kelaparan dan hidup di bawah angka kemiskinan. Innalillahi. Ekonomi kapitalisme yang menjadi biang kerusakan negeri ini. Asasny hanya untuk kepentingan para kapital yakni penguasa dan pengusaha. Kepentingan dan kebutuhan rakyat di semua bidang dibiarkan begitu saja. Tanpa ada pelayanan yang baik. 

Pilu rasanya hari-hari di tengah pandemi rakyat miskin semakin sulit untuk sekedar mendapatkan nasi. Seakan rasa lapar puasa terus berlanjut sebab tak ada yang bisa untuk dimakan. Ancaman kelaparan pun terjadi dimana-mana.

Persoalan demi persoalan kerap menimpa negeri ini. Di tengah kondisi pandemi kejahatan terjadi dimana-mana. Pencurian, penjambretan dan banyak lagi kejahatan yang ada di tengah masyarakat. Terlebih pelakunya ternyata eks narapidana yang telah mendapatkan asimilasi. Mereka berulah kembali berbuat kriminal kepada warga sekitarnya.

Kebijakan untuk tetap di rumah pun terus digencarkan. Masyarakat tidak diizinkan kemana-mana. Sehingga kebijakan aneh pun terkesan dipaksakan. Seorang menteri mengatakan akan memberikan sanksi penjara bagi yang tetap tarawih di mesjid. Ini kebijakan lebay dan alay. Sepertinya tidak harus sedemikian kerasnya. Masyarakat kita cukup terus dihimbau dan diingatkan saja. Jangan semakin memperburuk kondisi dengan adanya keputusan yang diluar nalar. 

Belum lagi kebijakan PSBB yang tidak jelas. Penerbangan domestik dilarang, tapi penerbangan internasional diperbolehkan. Tka asal Cina datang ke Indonesia. Padahal kita sama-sama tahu cina sebagai pusat penularan virus Corona ini. Lalu bagaimana pandemi ini akan berakhir?.

Hukum di negeri ini pun semakin terancam. Narapidana korupsi begitu mudah dibebaskan. Seperti kasus mantan ketua umum PPP yang sudah lepas dari masa tahanan. Sedangkan aktivis Islam tetap ditahan. Walaupun kesalahan yang ditudukan terkesan mengada-ada. Terlihat aroma busuk kriminalisasi terhadap para aktivis dakwah yang mencoba untuk mengungkap kebusukan penguasa.

Kondisi ini semakin meyakinkan kita akan solusi Islam. Alasan apa lagi yang membuat kita tidak yakin dengan sistem mulia aturan sang pencipta. Kesombongan seperti apa lagi yang kita perbuat jika masih enggan untuk menerapkan aturan dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak ada aturan yang lebih tinggi dari aturan yang bersumber dari kitab suci. Al-Qur'an dan sunah telah menjadi wasiat Rasulullah SAW, agar tidak tersesat. Maka sungguh tersesat ya kita di alam kapitalisme ini akan segera berakhir. Bukankah setelah pekatnya malam, maka  tanda dekatnya waktu munculnya matahari yang menerangi dalam indahnya pagi. Sudah seharusnya sebagai muslim kita yakin bahwa janji Allah SWT adalah sebuah kepastian. Kemenangan Islam akan segera datang setelah masa-masa sulit ini.

Semoga setelah hancurnya kapitalisme global yang kian menampakkan kebusukannya ini, maka fajar khilafah Islamiyah akan segera datang dengan segala kebaikannya. Sebab syariat Islam Kaffah yang menyebarkan rahmat hanya ada dalam naungan khilafah.[]

Oleh Ina Siti Julaeha

Posting Komentar

0 Komentar