Depresi Sosial Meningkat Saat Wabah, Dimana Tanggung Jawab Pemerintah?

sumber foto: republika.co.id

Wabah corona covid-19 telah memporakporandakan kehidupan masyarakat Indonesia. Tak hanya menelan korban jiwa akibat terpapar virus dari Wuhan ini, namun juga banyak masyarakat yang ikut terkena dampaknya.  Roda ekonomi pun tak lagi berputar dengan normal akibat wabah corona ini.  Banyak perusahaan yang gulung tikar hingga berakhir pada keputusan yang menyedihkan hati. Para pekerja terpaksa di-PHK atau pun dirumahkan sementara hingga situasi normal kembali.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) menyebutkan, secara nasional sudah ada sekitar 685 ribu buruh yang kena PHK, dan 1,8 juta lainnya dirumahkan. PHK massal tersebut terjadi dikarenakan tidak adanya bahan baku untuk produksi, terlebih sektor industri di Indonesia sangat tergantung dengan bahan baku dari luar negeri (Redaksi24.com, 1/05/20).

Ratusan ribu korban PHK kini hidup dalam tekanan. Penghasilan tak ada, uang pun tak punya. Sementara kebutuhan dasar hidup harus tetap terpenuhi. Diantaranya ada yang terpaksa hidup menggelandang. Kondisi tersebut akhirnya berdampak pada meningkatnya depresi sosial di tengah masyarakat. Bahkan ada yang putus asa menghadapi kenyataan hingga mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

Tak hanya bunuh diri, wabah covid-19 juga menyebabkan meningkatnya kasus sakit jiwa di Indonesia. Dirjen Pelayanan Kesehatan, Bambang Wibowo dalam peluncuran aplikasi Sehat Jiwa (Sejiwa) oleh pemerintah melalui video conference, Rabu (29/4) mengatakan bahwa wabah Covid-19 membuat jumlah penderita gangguan jiwa di masyarakat bertambah dibandingkan dampak bencana-bencana lainnya. Meskipun, ia tidak menyebutkan angka pastinya(Tribun-Bali.com, 30/04/20).

Depresi tak hanya mengena masyarakat umum, tenaga medis pun tak lepas dari kondisi tersebut. Masih ditemukannya kasus baru Covid-19, rencana pelonggaran penerapan PSBB dan ketidakperdulian masyarakat membuat beban tenaga medis semakin berat. Hal itu memicu depresi dikalangan medis. Ramainya tagar “Indonesia Terserah” membuktikan hal tersebut. 

Dimana Tanggung Jawab Pemerintah?

Depresi Sosial yang terjadi di masa wabah covid-19 ini bukan semata-mata karena mental masyarakat yang rapuh. Namun, pemerintah yang abai dan sewenang-wenang lah yang justru menjadi pemicu utama meluasnya depresi sosial di tengah masyarakat. Menurut E. Kristi Puwandari (Pengajar Fak.Psikologi UI), faktor penyelenggaraan kehidupan bernegara yang carut-marut menjadi penyebab depresi terbesar bagi masyarakat Indonesia (Al wa’ie, no 49 thn 2004).

Pernyataan pemerintah yang berubah-ubah dan implementasinya yang jauh panggang dari api, menghasilkan kebijakan yang tak pernah menyesaikan masalah. Membuat rakyat bingung dan berujung pada kekecewaan. Termasuk dalam hal penanganan wabah covid-19 ini.
 
Mulai dari aturan PSBB, namun tidak disertai dengan kebijakan yang memudahkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Menyeru pasar tradisional untuk tutup tapi membiarkan kerumunan masa di market-market besar. Kebijakan lain yang membingungkan dan membuat geram adalah larangan mudik bagi rakyat, namun disisi lain membiarkan ratusan tenaga asing Cina masuk ke Indonesia. Begitu juga dengan carut marutnya bantuan sosial, yang lebih tercium aroma pencitraannya daripada tulus ikhlas membantu rakyat yang sedang kelaparan.

Kini pemerintah berulah lagi dengan mengeluarkan kebijakan pelonggaran PSBB. Pemerintah memilih untuk mengaktifkan kembali moda transportasi umum agar ekonomi tetap berjalan, dari pada mengambil kebijakan lockdown untuk menyelesaikan permasalahan corona.

Kebijakan yang membingungkan tersebut lahir dari kegagapan penguasa dalam menangani wabah. Kegagapan lahir dari ketidaksiapan penguasa menghadapi wabah. Ketidaksiapan lahir dari buruknya tata kelola pemerintahan saat ini. Buruknya tata kelola pemerintahan lahir dari rezim yang tak mengerti caranya mengurus umat. Rezim yang dilahirkan oleh sistem Demokrasi-Kapitalisme.  Rezim yang hanya berpikir untung-rugi ketika membuat kebijakan.

Mengatasi Depresi Sosial : Perlu Terapi Komprehensif dan Integral

Depresi sosial adalah permasalahan yang komplek, banyak faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, solusi untuk mengatasinya harus komprehensif dan integral. Dibutuhkan adanya sinergitas yang harmonis dari semua pihak, baik individu, masyarakat dan negara. 

Pertama, ketaqwaan individu. Sebagai individu yang beriman, kita harus memahami sepenuhnya bahwa wabah covid-19 ini adalah qadha Alloh SWT. Kita wajib beriman terhadap qadha, baik dan buruknya berasal dari Alloh SWT.“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya IV/451). Keimanan terhadap qadha Alloh juga harus dibarengi dengan ikhtiar yang opminal. Seperti menjaga kesehatan diri, menerapkan SOP saat hendak keluar rumah, mengkonsumsi makanan yang bergizi, menghindari kerumunan dan sebagainya.

Kedua, keperdulian masyarakat. Banyak dari masyarakat yang terkena dampak wabah ini, khususnya dalam hal ekonomi. Maka menumbuhkan solidaritas sebagai bentuk keperdulian masyarakat dalam meringankan beban yang lain sangat penting untuk mencegah munculnya depresi sosial. “Tidaklah mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya.”(HR Bukhari).

Ketiga, peran pemerintah. Menjamin kesehatan dan kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab pemerintah. Dalam hal penangangan wabah Covid-19, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat harus menjadi fokus utama pemerintah. Dari sisi kesehatan pemerintah harus melakukan penguncian areal wabah sesegera mungkin.“Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Kemudian, melakukan isolasi kepada yang sakit.“Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari). Selanjutnya, pemerintah berkewajiban mengadakan pengobatan segera hingga sembuh. Dari sisi kesejahteraan, pemerintah berkewajiban menanggung semua kebutuhan rakyat terutama di daerah yang terkena dampak wabah. “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Solusi yang komprehensif dan Integral inilah yang akan mampu menghindarkan terjadinya depresi sosial. Dan hal tersebut hanya akan terbentuk secara sempurna ketika sistem yang diterapkannya pun shalih. Sistem yang berasal dari sang Pencipta, yaitu Islam. Wallahu'alam.

Oleh Tity Maharani Swastika, S.si
(Anggota Majelis Ta’lim Khairunnisa Ciamis)

Posting Komentar

0 Komentar