TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Corona Singkap Bobroknya Kapitalis


Kita telah mengetahui bersama bahwa covid19 adalah makhluk kecil yang tak kasat mata. Virus corona secara umum berbentuk bulat dengan diameter 100-120 nm (nanometer). Virus corona tidak bisa memperbanyak diri kecuali dengan menginfeksi makhluk hidup, sama seperti virus lain. Namun virus ini dapat menghasilkan efek-efek yang dahsyat, seperti yang kita saksikan baru-baru ini secara bersama-sama. Kita seharusnya banyak mengambil hikmah dan menangkap pesan dari wabah yang ditimbulkannya. 

Melihat perilaku dan kebijakan penguasa yang terkesan mencla-mencle, membuat banyak masyarakat yang jatuh ke jurang kemiskinan. Alhasil masyarakat akhirnya bukanlah patuh, mereka justru melakukan banyak pelanggaran atas berbagai kebijakan yang diputuskan pemerintah yang berubah-ubah tersebut.

Masih hangat dalam ingatan kita, adanya penerbitan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/239/2020 tentang Penetapan PSBB di Provinsi DKI Jakarta dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Surat Kepmenkes itu ditetapkan di Jakarta pada Selasa, 7 April 2020.(Kompas.com 7/4/2020)

Parahnya lagi di tengah kebingungan rakyat untuk memperjuangkan nasibnya sendiri-sendiri, pemerintah pun tega menaikkan iuran BPJS setelah sebelumnya terjadi tarik ulur kebijakan. Iuran BPJS naik, kemudian dibatalkan MA dan naik lagi berdasarkan perpres no 64 tahun 2020.

Pemerintah mengurus negara ini terkesan mencla-mencle mulai dari tarik ulur kebijakan kenaikan BPJS, termasuk PSBB yang secara fakta di lapangan kurang berhasil. Banyak kasus di beberapa daerah yang senantiasa mengalami kenaikan jumlah kasus positif Covid19 bahkan hingga hari ini penambahan jumlah kasus kian meningkat tajam dilansir dari covid19.kemkes.go.id pertanggal 18 mei 2020 jumlah kasus covid19 menjadi 17.025, dinyatakan sembuh 4.129 dan meninggal 1.148.

Di satu sisi dikutip dari CNN Indonesia pada tanggal 3 Mei lalu menkopolhukam menyatakan pemerintah tengah memikirkan relaksasi PSBB dengan alasan supaya masyarakat tak terkekang karena PSBB. Ia mengatakan jika kondisi masyarakat tertekan dan stres yang dikhawatirkan imun menurun. Sehingga masyarakat menjadi rentan tertular Covid-19.

Dari CNN Indonesia akhirnya per tanggal 7 Mei lalu menyatakan seluruh moda transportasi boleh beroperasi kembali walaupun telah mendapat kritik pedas dari banyak kalangan. Pemerintah tetap membuka kembali operasional seluruh moda transportasi. Alhasil paska diputuskannya kebijakan ini, bandara Soekarno Hatta langsung dipenuhi penumpang. Lantaran biaya naik pesawat jauh lebih murah dengan adanya diskon 50 %.

Pada 8 Mei petugas bandara menemukan 11 penumpang dinyatakan positif covid19. Hingga Anggota komisi 5 DPR RI dari fraksi partai Demokrat Irwan juga mengkritik kebijakan ini dan mengatakan siang tempe sore kedelai. Ia mengatakan bila moda transportasi masih tetap diberikan kelonggaran maka penyebaran covid19 tidak akan bisa segera berhenti. Astagfirullah sungguh kebijakan yang membingungkan. Terbukti nyata bahwa negara ini abai dalam mengurus rakyatnya. Hanya memikirkan ekonomi saja di atas keselamatan ratusan juta nyawa rakyatnya.

Virus Corona yang tersebar cepat menular dan menimbulkan korban meninggal dan juga kepemimpinan yang terkesan mencla-mencle karena menggunakan sistem kapitalis adalah musibah bagi rakyatnya.Musibah karena kapitalis telah menempatkan nilai materi diatas segalanya tak terkecuali nyawa rakyat sekalipun.Ampunilah kami ya Allah. Kini rakyat benar benar berjuang sendiri untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya Corona, tanpa perisai negara, berharap hanya kepada pertolongan Allah saja.

Selain itu, kita juga bisa merasakan dengan adanya virus Covid19 visa umroh dihentikan. Ibadah umroh dilarang, umatpun tidak dapat tawaf sebagaimana biasa. Mathaf tempat tawaf kosong. Padahal di tahun-tahun yang lalu mekah penuh sesak,lebih lebih di bulan ramadhan. Bisa jadi ini adalah teguran dari Allah. Kita perlu mengkoreksi diri sendiri apa kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan di masa lalu.

Pada saat ini Majelis Ulama Indonesia atau MUI sebagaimana organisasi para ulama lain di dunia telah mengeluarkan fatwa kebolehan tidak salat berjamaah di Masjid dan sholat Jumat diganti dengan sholat dzuhur. 

Kita kehilangan pahala melangkahkan kaki dari rumah ke masjid. Kita kehilangan keutamaan salat tahiyatul masjid. Kita pun kehilangan kesempatan untuk bermunajat kepada Allah dan keutamaan waktu antara adzan dan iqomat. kita kehilangan keutamaan menunggu kumandang adzan di Masjid. Ini juga merupakan bentuk teguran Allah terhadap kita karena selama ini kita enggan memasuki rumahNya, tidak segera memenuhi panggilan adzan, sengaja menolak aturanNya atau bahkan sering melanggar aturanNya dalam kehidupan sehari hari.Maka bersyukurlah masih mendapat teguran dariNya.Artinya masih diberi   kesempatan bertaubat agar kedepan kita bisa jauh lebih bertaqwa dari hari ini.

Kasus Covid19 menjadikan sekolah libur, pengajian dan tabligh akbar akhirnya dibatalkan, bahkan kajian-kajian rutin keislaman kalau toh tetap berjalan dilakukan dengan sistem online. Kita tak lagi menikmati naungan sayap malaikat saat kita melangkahkan kaki menuntut ilmu Islam. Kita kehilangan pahala melangkahkan kaki dari rumah menuju rumah-rumah binaan kita. Kita kehilangan pahala menyiapkan bekal anak anak balita kita agar mereka tidak rewel saat mengikuti kajian. Kita kehilangan saat-saat penuh canda, saling curhat, saling bertatap muka, makan bersama manakala seusai kajian. Sungguh sesuatu itu akan sangat berharga manakala dia hilang dari kehidupan kita.

Upaya menyatukan kesadaran masyarakat dalam suatu tabligh akbar atau kajian umum pun hampir tidak mungkin dilaksanakan. Keberkahan terkait ilmu dan menuntut ilmu ini seakan-akan dijauhkan dari kita. Kita tidak bisa mencium tangan-tangan ulama kita untuk mendapatkan doa dan keberkahan ilmunya. jangan-jangan kita selama ini Abai terhadap ilmu. Acuh tak acuh terhadap kajian keislaman dengan berbagai alasan kerepotan dunia yang tak habis-habisnya untuk menolak ajakan mengikuti kajian. Atau bahkan tidak serius saat mendapatkan amanah untuk mengkontak tokoh-tokoh disekitar rumah kita.

" sungguh seorang muslim jika berinteraksi dengan masyarakat dan dia sabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka (akibat interaksi tersebut) itu lebih baik dibanding seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat atau usaha dan tidak sabar dalam hal hal yang menyakitkan dari mereka (akibat dari interaksi tersebut)
(HR  Imam Turmudzi)

Interaksi dan kontak dakwah langsung yang selama ini terasa manis kini tak ada lagi. Kontak online tak seindah berinteraksi langsung. Kita kehilangan keutamaan berinteraksi dakwah dengan masyarakat.

Namun sebagai muslim sesuai ajaran islam, kita wajib bertaqwa dan ridho atas segala takdir Allah ini. Kita wajib beriman bahwa ajal ditangan Allah sebagaimana firman Allah dalam Q.S An-Nahl :61

وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Artinya: Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.

Dari segi Keyakinan ini harus ada di dalam jiwa kita namun secara Amali kita tetap harus melakukan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ya'la bin 'Atha meriwayatkan dari 'Amru bin al- Syarid dari bapaknya yang berkata, "Dalam delegasi thoif (yang akan membaiat) terdapat seorang yang berpenyakit kusta. Rasulullah SAW lalu mengirim seorang utusan supaya mengatakan kepada dia ,"kami telah menerima baiat anda, karena itu Anda dipersilahkan pulang".
(H.R Muslim).

Biasanya baiat dilakukan dengan bersalaman namun dalam kasus ini beliau menerapkan apa yang disebut orang sekarang social distancing, tanpa bersentuhan.

Kematian juga merupakan salah satu rahasia Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak seorang manusia pun tahu kapan kematian akan datang menjemput dirinya. Karena itu ada atau tidak adanya Covid-19 sudah selayaknya setiap muslim tidak lalai dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian sekaligus menghadapi kehidupan pasca kematian. Sebab jika tidak demikian penyesalan di akhir kelak  tak akan bisa dihindarkan. 

Mari kita mengingat kematian agar dengan itu kita melakukan banyak ketaatan dan menjauhi banyak kemaksiatan. Bersegeralah memenuhi seruan Allah agar beriman, bertaqwa dan beribadah hanya kepadaNya, buanglah aturan buatan manusia baik itu kapitalisme ataupun komunisme yang selama ini hanya bisa memberikan kedzaliman demi kedzaliman kepada rakyatnya. Segeralah ikut bergabung pada suatu jamaah yang berjuang secara istiqomah demi menegakkan syariat islam dibumi Allah ini. Jamaah yang istiqomah senantiasa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran.

Jadi islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengokohkan aqidah, mentaati hukum sebab-akibat untuk mengatasi virus, bergabunglah dengan jamaah yang istiqomah memperjuangkan syariat islam karena dimana ada syariat maka disitu ada maslahat(kebaikan) dan kita harus segera kembali kepada Allah SWT memohon perlindungan dariNya. Karena hanya kepadaNya semua bermuara.

Oleh Nabila Zidane 
Forum Muslimah Peduli Generasi Dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar