TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Cara Bertoleransi di Bulan Ramadhan


Landasan penjelasannya, saya kutip dari hasil disertasi Dr. Anis Malik Toha yang kemudian beliau Buku-kan dengan judul Tren Pluralisme Agama dari tinjauan kritis. Ini merupakan salinan kajian atau pengembangan, penajaman dan up-date disertasi beliau berjudul Ittijahat al-Al-Ta'addudiyah al-Diniyah wa al-Mawaqif al Islami minha.

Dalam penjelasan saya kali ini, akan sesdikit banyak tentang menyinggung pluralisme termasuk toleransi sebagai komposisi utama dari kelahiran liberalisme yang kaitannya sangat erat dengan dinamika hari-hari besar keagamaan.

Sebentar lagi, kita akan bertemu hari raya 'iedul fitri. Apa yang menjadi dinamika didalmnya tentu saja akan muncul, kemunculannya adalah ucapan selamt ber-hari raya. Dalam ucapannya, tak lain juga akan datang dari kawan-kawan non-muslim. 

Bukan hanya hari besar umat islam yang kemudian disambut dengan adanya ucapan-ucapan selamat dari kawan non-muslim, melainkan hari-hari besar non-muslim pun juga terkadang bahkan banyak umat islam turut memberikan ucapan selamatan. Semua ucapan-ucapan tersebut di bangun dari landasan toleransi (tolerance) dan Kesetaraan (Equality) antara agama atau keyakinan.

Tepatkah demikian?
Berikut kita mulai dengan diskursus yang mangantarkannya menjadi sebuah model pemikiran hingga menjadi sudut pandang global yang secara konsepsi seakan jadi solusi polemik berkepanjangan secara teoritis, namun faktanya dunia justru gaduh karenanya. Bagaimana diskursusnya, berikut ini.

Sepintas ucapan keselamatan bagi antar masyarakat agama khususnya di Indonesia menjadi produk lumrah, sebab dianggap hanya sebatas ucapan. 

Sebetulnya ucapan-ucapan dimaksud tersebut jika kita telaah hanya merupakan rantai kecil saja dari panjangnya waktu sebuah fenomena perjalanan istilah pluralisme di dunia. Memang agak sukar mengurai rantai tersebut hingga sampai pada pola sikap masyarakat yang merasa biasa dengan ucapan tersebut, sebab tingkat atas sifat keterbukaan istilah tersebut hampir samar untuk di pahami jika secara langsung. 

Hal ini butuh kajian serius dan detail  untuk merangkainya agar mampu diketahui segala hal ihwal yang menjadi pancaran sebuah pemikiran dalam hal ini termasuk pluralisme dengan pancaran toleransi dan kesetaraannya.

Sebagian besar masyarakat memahami toleransi sebagai penengah walaupun harus menengahkan persoalan aqidah dengan dalih untuk sebuah perdamaian. Padahal adalah justru sebuah kesalahan dalam menengahkan hal itu, sebab menengahkan persoalan yang mereka lakukan menggunakan kaidah relativisme yang emisional semata, walau kadang tanpa menyadarinya berupa eksistensi agama sebagai konsep kehidupan yang mutlak.

Unsuperiority (tidak adanya superioritas) antar satu agama/keyakinan terhadap yang lainnya menjadi salah satu unsur utama membangun konsep toleransi dan equalitas dalam lingkup pluralisme agama. Unsur utama tersebut memberi dampak atau Konsekuensi logis yakni terjadinya bentuk raduksisasi terhadap definisi agama yang signifikan adalah agama sebagai konsep hidup atau turut menciptakan religious equality (persamaan agama) dan menafikan equality on existence (eksiatensi riil agama).

Didasarkan pada sejarah (based on history), polemik kelahiran istilah pluralisme sesungguhnya berawal dari kondisi carut-marut gereja di abad 18 dengan ditandai protes yang tajam, meberikan gambaran sikap komunitas reformis agama (kegerejaan) terhadap gereja untuk perwujudan pemisahan antar gereja dan kehidupan (sekulerisme), upaya melepas diri dari doktrin gereja (liberalisme). 

Polemik ini berjalan begitu lama sepanjang abad tersebut hingga di legitimasi dengan adanya consili vatikan II yang mendeklarasikan istilah "keselamatan Umun", istilah yang menerjemahkan maksud sebelumnya "tidak ada keselamatan bagi semua yang diluar gereja" kemudian berubah menjadi "keselamatan sesungguhnya juga milik siapa saja diluar gereja" atau keselamatan umum.  Esensial dari Istilah ini sebetulnya masih kemudian tidak diterima oleh komunitas katolik. 

Upaya selanjutnya dari perwujudan liberalisme mendorong pemikir-pemikir eropa untuk mematangkan batasan pluralisme agama. Walau kemudian begitu sulit memberi definisi yang pasti, sebab esensial agama akan menjadi relatif dan sama. Landasan teoritisnya dibangun berdasarkan nilai faktual polemik gereja.

Jhon Hiks sebagai pelaku pematang konsep ini, dengan mereduksi nilai-nilai esensial agama yaitu Ajaran Islam tentang konsep kehidupan paripurna. Konsepnya-lah (red- Jhon Hiks) yang kemudian banyak diadopsi dan di sebarkan sebagai gagasan kesetaraan, toleransi. Diperkuat dengan kajian-kajian ketimuran sebagai jendela masuk kepada bangsa-bangsa timur. 

Sebelumnya seorang teolog kristen liberal Ernst Troeltsch dalam kuliah umumnya di Oxford University melontarkan gagasannya bahwa semua agama, termasuk kristen, selalu mengandung elemen kebenaran dan tidak ada satupun agama yang memiliki kebenaran mutlak (boleh dikata fase itu masih dalam skala fermentasi) sebelum Jhon Hiks memberi pandangannya di dekade ke 2 abad 20 sebagai fase pematangan.

Sebenarnya, Abad 15 di India juga ditandai adanya kajian yang sama (pluralisme), hanya saja masih dalam lingkup anak benua (belum mampu menembus batas teritorial) seperti pandangan Sikhisme yang memadukan ajaran Islam dengan Hindu yang bagian periode selanjutnya paham semacamnya di kembangkan oleh Mahatma Gandhi.

Prosesi yang panjang membentuk konsepnya mulai menemukan kejelasannya paruh abad 20 yang secara fakta di legitimasi oleh consili vatikan II. Selain aspek tersebut dan juga di kuatkan oleh proses globalisasi yang turut mengantar gagasan-gagasan westernisasi lainnya. 

Pematangan prematur konsep ini juga di dukung oleh adanya konflik sosial atau agama yang terjadi di dunia seperti tragedi Bosnia dan tragedi lainnya termasuk beberapa konflik di Indonesia yang melegitimasi semakin populernya gagasan ini tanpa terkecuali rantai-rantai kecilnya "ucapan keselamatan" di hari-hari besar keagamaan.

Reformasi 1998 yang ditandai dengan maraknya beberapa konflik berdarah antar keyakinan (agama) di Indonesia membuat popularitas pluralisme agama semakin familiar baik secara moral maupun politis, struktur sosial-agama di indonesia yang pluralistik semakin mengokohkan masifnya kajian-kajian pluralisme agama sebagai role mode (tatanan), bahkan gagasan ini  menunjukan nilai semacam kelahiran agama konsensus oleh masyarakat secara tidak langsung, serta sangat didukung oleh kalangan minority yang sebagaian besar tidak memahami dampak negatif gagasan pluralisme agama. 

Keberlangsungannya menjadi  Begitu emosionalnya secara kemasyarakatan dari gagasan ini, maka rasionalisasinya adalah adanya penerimaan besar-besaran secara tidak langsung yang dipengaruhi sosial-politik. Derivasinya termaktub didalam ucapan keselamatan yang mengandung makna toleransi dan kesetaraan dalan lingkaran pluralisme agama.[]

Oleh: Abdurahman Abe

Posting Komentar

0 Komentar