TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Cair dan Dinamisnya Kebijakan Penguasa


Kehadiran virus corona menyerang berbagai lini kehidupan dunia, menimbulkan permasalahan dalam setiap bidang baik dalam tatanan keluarga hingga negara. Mulai dari masalahan perut hingga masalah nasional. Tentu keadaan ini sangat perlu ditanggulangi dengan kebijakan yang tepat dan terukur hingga masyarakat tetap merasakan hidup meski berada dalam lingkaran baying-bayang virus corona.

Beberapa negara yang terpapar juga telah mengambil kebijkan guna memutus mata rantai penyebaran, serta terus melakukan upaya-upaya menghadapi tantangan-tantangan yang ada akibat dampak dari pandemi ini, bagaimana dengan Indonesia?

Seperti negara kebanyakan, tentu Indonesia juga mengambil kebijakan untuk menanggulangi penyebaran virus ini plus mengambil kebijakan yang juga tidak ada hubunganya dengan menghentikan penyebaran virus. Semua kebijakan tentu digadang-dagang demi melindungi masyarakat dan menjaga rakyatnya. 

Namun kebijkan-kebijakan yang ada sungguh membuat masyarakat dibuat bingung. Mulai dari aturan PSBB diperketat kemudan dilonggarkan, maju mundurnya aturan pulang kampung atau mudik. Kenaikan premi BPJS di tengah pandemi serta kebijakan mengenai RUU Cipta Kerja dan Minerba. 

Cair dan dinamisnya penguasa terlihat dari kebijakan-kebijakan yang telah diambil salama pandemi ini terjadi, tidak ada ketegasan, berubah-ubah dan tidak satu suaranya para komponen penguasa dalam berbicara di hadapan publik mengenai kebijakan. Hal ini dapat kita lihat bagaimana naik turunya premi BPJS, Awal januari tahun ini pemerintah telah menaikan premi kelas satu hingga empat, kemudian kembali normal pada April lalu kemudian per 01 juli mendatang akan naik kembali. (liputan6.com, 14/05/2020)

Kemudian kebijakan demi memutus rantai penyebaran, PSBB yang diberlakukan penguasa. Namun yang terjadi dibeberapa daerah malah mengalami kenaikan angka positif corona. 

Dikutip dari (CNNIndonesia, 13/05/2020)  689 Kasus Positif Baru, Rekor Tertinggi Corona Harian di RI. Belum lagi perbedaan mudik dan pulang kampung yang sempat menjadi kontroversi. Mudik dilarang sedangkan pulang kampung diperbolehkan. Hingga diaktifkanya kembali transportasi, seperti bandara yang kembali dipadati penumpang, kita tau bahwa bandra adalah pintu terbesar penyebaran virus ini.

Berdasarkan yang dilansir CNNIndonesia Kamis 26/3/2020, Jokowi bunyikan genderang perang lawan corona. Kemudian Jokowi inginkan masyarakat tetap produktif, berdamai dan hidup berdampingan dengan corona (detikcom, 16/5/2020). 

Hal ini memperlihatkan inkonsistenya penguasa dalam berlisan di tengah public, lagi-lagi nyawa rakyat hanya ibarat permainan semata. Tidakah ia melihat bagaimana perjuangan tim medis di barisan terdepan perang melawan corona?

Meskipun banyak menuai kritikan nampaknya penguasa masa bodo, yang dilakukan justru menutup pintu kritikan, bahkan dianggap pidana. Sungguh suara kritis pada penguasa sangat mahal.
Masyarakat menjadi bingung dengan tindak tanduk yang dilakukan penguasa. 

Bukanya patuh aturan, justru yang terjadi banyaknya pelanggaran, seolah aturan yang ada tak memiliki kekuatan untuk mengendalikan masyarakat. Hal ini adalah bukti bahwa negara tidak benar-benar serius mengurusi dan menjaga rakyatnya. Hati mereka telah mati saat rakyat dibawah berjibaku menghadapi corona smentara mereka mengadakan konser di tengah pandemi, mereka telah nyata tak mengurus rakyat dengan benar tetapi justru menghancurkan bangsa dan peradaban ini.

Pemimpin dalam Islam adalah Raa’in dan Junnah

Pemimpin adalah orang yang akan menjalan setiap aturan yang ada kemudian aturan itu diterapkan kepada rakyatanya. Aturan yang mengatur rakyat demi kemaslahatan umat. Aturan yang tak memiliki kepentingan apapun. Tak akan ada aturan yang cair dan dinamis dalam Islam, karena aturan dan hukum syara bersifat baku dan tak bisa berubah-rubah. 

Begitu juga dengan kebijakan, hanya teknis dan uslub yang berubah demi mencari solusi teknis yang terukur.
Islam dengan segala kekomprehensifanya, akan mengatur seluruh problematika yang ada sesuai dengan yang allah perintahkan. 

Baik menyelesaikan persoalan pengelolaan SDA, penanganan wabah, hinga jaminan kesehatan. Karena fungsi pemimpin dalam Islam sebagai Raa’in dan Junnah, yang telah berjalan selama lebih kurang 14 abad. 

Tanggung jawab yang begitu besar seorang pemimpin dalam Islam dalam mengurusi urusan umat, Rasulullah SAW bersabda: “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus urusan rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Al Bukhari)

Mengurus urusan rakyatnya dapat kita lihat bagaimana Khalifah Umar bin abdul Aziz, yang selalu berusaha keras memakmurkan rakyatnya selama 2,5 tahun masa pemerintahanya, hingga didapati tak seorang memiliki hak menerima zakat. Begitulah yang terjadi selama sistem Islam menjadi dasar kepemimpinan dan berlanjut selama Islam berkuasa.

Tidak hanya sebagai pengurus pemimpin dalam Islam juga sebagai Junnah, Nabi Muhammad SAW bersabda: 
“sesungguhnya al- Imam (Khalifah) itu persai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekusasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Berbedaaan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan bagaimana penguasa hari memperlakukan rakyatnya. Semoga Allah segera memberikan pertolongan untuk tegak kembalinya Daulah Islam. Wallahua'lam bis showab. 


Oleh Fira Faradillah

Posting Komentar

0 Komentar