TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

BPJS Naik, Bikin Rakyat Panik

sumber foto: cermati.com

Kebijakan pemerintah menaikkan tarif iuran BPJS ditengah wabah corona menuai polemik, bagaimana tidak? Adanya wabah corona membuat masyarakat merasakan trauma dan kekhawatiran yang sangat mendalam, kekurangan materi untuk memenuhi kebutuhan perut, ditambah harus menerima kabar pahit terkait kenaikan iuran BPJS. Kebijakan yang jelas menambah penderitaan bukan?

Hal ini sesuai dengan apa yang telah dinyatakan Fadhil Rahmi anggota DPD RI asal Aceh, “Kebijakan ini melukai hati masyarakat. Di tengah wabah Corona seperti sekarang, banyak masyarakat mengalami kesusahan di bidang ekonomi serta PHK terjadi di mana-mana". (Serambinews.com, 18/5/2020).

Belum kering luka akibat dampak wabah corona yang cukup menyenyat hati rakyat, pemerintah dengan kekuasaannya tega menaikkan tarif iuran BPJS, jika ditelaah lebih dalam, apa kiranya pemerintah tidak berfikir? Darimana rakyat harus meraup pundi rupiah untuk membayar iuran BPJS? Jangankan membayar, untuk makan saja syukur kalau ada karena sebagian besar kepala keluarga kebanyakan di rumahkan, belum lagi efek stress karena di PHK.

Jika pemerintah menaikkan iuran BPJS karena defisit, sangat dirasa tidak pantas sebab kesehatan rakyat adalah tanggungjawab pemerintah sepenuhnya yang memang seharusnya murni di gratiskan tanpa  sepeserpun harus membayar, seperti itu yang aturan Islam ajarkan. Tidak lagi memikirkan untung rugi dalam mengurusi rakyatnya.

Efek sistem kapitalis semuanya diuangkan, seakan setengah hati peduli pada rakyat yang menjadi tanggungjawabnya. Tidakkah penguasa lupa? masyarakat menjerit membutuhkan bantuan yang totalitas. Jika pemerintah mengira dengan bantuan sembako sudah dirasa cukup membuat rakyat tenang, itu tidaklah benar karena faktanya telah terbukti masih banyak rakyat yang kekurangan, belum lagi bantuan  tersebut disebarkan secara tidak merata. Jadi bantuan yang di berikan tidak pantas membuat pemerintah seenak hati menaikkan iuran BPJS.

"Masyarakat sedang membutuhkan fasilitas jaminan kesehatan, sementara pandemi juga menciptakan peningkatan pengangguran dan angka kemiskinan. Masyarakat ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula," tulis AHY  (Agus Harimurti Yudhoyono) Ketua Umum Partai Demokrat, melalui akun Twitter pribadinya, Kamis (14/5/2020).

Sepakat dengan pernyataan AHY, masyarakat saat ini selain membutuhkan kebutuhan pokok, juga butuh akan jaminan kesehatan yang berkualitas, apa sampai hati pemerintah menaikkan iuran BPJS ditengah masyarakat yang kesusahan? 

Keputusan pemerintah kembali menaikkan iuran BPJS di masa wabah tidak hanya melanggar keputusan MA, tapi juga membuktikan kekurangpedulian terhadap kondisi rakyat. Mengapa hal ini terjadi? Karena didalam benak penguasa telah tercokol pemikiran kapitalis yang melahirkan kebijakan egois, yang menjadikan uang dan kesenangan pribadi lebih berharga dari rakyat.

Berbeda dengan Islam yang sepenuhnya menjamin hak rakyat termasuk perihal kesehatan.
Dalam Islam, sistem kesehatan tersusun dari 3 (tiga) unsur sistem: Pertama: peraturan, baik peraturan berupa syariah Islam, kebijakan maupun peraturan teknis administratif. Kedua: sarana dan peralatan fisik seperti rumah sakit, alat-alat medis dan sarana prasarana kesehatan lainnya. Ketiga: SDM (sumber daya manusia) sebagai pelaksana sistem kesehatan yang meliputi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. (S. Waqar Ahmed Husaini, Islamic Sciences, hlm. 148).

Luar biasa tatanan aturan islam dalam mengatasi masalah kesehatan, memang tiada aturan yang lebih sempurna dari aturan sang pemilik alam semesta Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Wallahu'alam bish showab.

Oleh Yuliatin

Posting Komentar

0 Komentar