TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

BLUSUKAN DAN POLITIK PENCITRAAN: Belajarlah dari Khalifah Umar


Suatu malam, Khalifah Umar bin Khaththab RA. "blusukan" bersama sahabat bernama Aslam. Hingga langkah keduanya terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis gadis kecil mengusik perhatiannya. Pun seorang wanita dewasa yang tengah mengaduk-aduk bejana di atas perapian.

Saat Khalifah Umar menanyakan apa yang terjadi, ibu tersebut berkata, "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khaththab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum. Sungguh Umar bin Khaththab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya." 

Khalifah Umar seketika menitikkan air mata dan  segera mengajak Aslam  kembali ke Madinah. Lalu Umar pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum. Tanpa mempedulikan rasa lelah, Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut dan mengantarnya ke tenda wanita itu. Bahkan memasakkannya hingga Umar merasa tenang melihat mereka makan. 

Maa syaa Allah, fragmen kepemimpinan yang indah nian. Apakah indahnya hubungan pemimpin-rakyat seperti ini, tengah kita rasakan sekarang? 

=====•=====
Blusukan dan Politik Pencitraan

Beberapa waktu lalu, video aksi bagi-bagi sembako yang dilakukan oleh Bapak Presiden di masa pandemi Corona beredar viral. Hal ini menuai berbagai tanggapan. Bahkan ada pihak yang menyamakan sosok beliau dengan Khalifah Umar bin Khattab, gegara sama-sama sering melakukan blusukan.

Blusukan bukan hal asing bagi petinggi negeri ini. Secara umum, beberapa ahli mendefinisikan blusukan ialah kegiatan inspeksi langsung secara tersembunyi ke suatu tempat tertentu tanpa pengetahuan banyak orang yang bertujuan untuk memonitor kinerja pelayanan publik, melihat situasi dan kondisi di lapangan, serta untuk melakukan komunikasi kepada warga masyarakat di sekitar tempat tersebut sekaligus menanggapi keluh kesah mereka. 

Semenjak Pak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga kini menjadi orang nomor satu di Indonesia, blusukan mulai dikenal dan tak asing lagi bagi masyarakat. Bisa dikatakan, Jokowilah yang mempopulerkan istilah ini.

Sebenarnya tak ada yang salah dari aktivitas blusukan. Jika betul-betul diniatkan sebagai sarana mendekati rakyat, menggali permasalahan 
mereka, sekaligus memberikan solusi. Hanya saja, banyak kalangan menilai blusukan yang dilakukan petinggi negeri selama ini tak lebih sebagai "abang-abang lambe atau lips service." Alias sekadar politik basa-basi, meraih simpati atau demi pencitraan. 

Maka jelang Pemilu, Pilkada dan Pilpres, intensitas blusukan dapat dipastikan meningkat tajam. Dalam rangka menggenjot elektabilitas, blusukan ke pasar tradisional dan kawasan kumuh kerap dijadikan program andalan bagi sang calon peserta pemilihan. Berharap kian dikenal rakyat, meraih simpatinya dan akhirnya dipilih dalam ajang konstetasi politik.

Pasca terpilih dan tengah berkuasa, untuk mempertahankan atau menguatkan citra (kesan baik) di mata rakyat, blusukan dipandang masih efektif dilakukan.  Apalagi di tengah ketidakmampuan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, blusukan menjadi cara instan agar tetap mendapatkan simpati dan dukungan. 

Ujung-ujungnya ialah demi eksisnya tahta kekuasaan. Bukan bagi kepentingan rakyat. Rakyat dibuat cukup merasa puas dengan kunjungan sesaat, bagi atau lempar sembako dan bantuan langsung tunai yang sering pelaksanaannya tak sesuai. 

Dalam sistem kapitalisme sekular, rakyat jangan pernah merasa "GR atau Gedhe Rasa" saat didatangi penguasa. Dalam penerapan demokrasi yang tengah berubah menjadi oligarki, poros aktivitas kepemimpinan tak lagi kehendak melayani rakyat, tapi demi diri dan segelintir karibnya, yaitu kaum oligark.

Lantas, bagaimana sosok pemimpin ideal? Dan benarkah dalam sistem Islam, pemimpin tak butuh pencitraan?

=====•=====
Kepemimpinan Itu Pengaturan, Bukan Pencitraan

Maka seorang pemimpin bisa belajar dari seorang Umar saat beliau menjalankan aktivitas blusukan. Dalam salah satu blusukan seperti di atas, Khalifah Umar begitu terpukul saat mengetahui ada warganya yang tidak bisa makan. Pun merasa berdosa jika membiarkan warga kelaparan di wilayah kekuasaannya.  Sebagai bentuk tanggung jawab, beliau menebus "kelalaian" dengan memikul sendiri gandum, mengantarkan, bahkan memasakkannya.

Blusukan yang beliau lakukan tentu jauh dari  arti pencitraan. Tapi semata-mata sebagai bagian penunaian amanah seorang pemimpin yaitu mengontrol dan memastikan sejauhmana kebutuhan mendasar warganya terpenuhi. Dan mencari solusi atas permasalahan riil yang terjadi. 

Citra atau kesan baik tak diperlukan oleh sosok Umar dan pemimpin lainnya dalam sistem Islam. Ketika mereka memimpin dan mengatur perkara umat dengan aturan Allah Swt, in syaa Allah ridlo-Nya menyertai. Mereka merasa cukup dengan ridlo ilahi ketimbang puja-puji insani.

Keberadaan pemimpin seperti ini otomatis akan merasa dekat dan mencintai rakyat. Sebaliknya, rakyat pun mencintainya dan senantiasa mendoakan dalam kebaikan.

Para pemimpin dalam sistem Islam memahami betul bahwa politik (siyasah) ialah pengaturan urusan umat baik di dalam dan di luar negeri berdasarkan aturan Islam. Politik itu mengatur urusan. Bukan bertempur demi kekuasaan. Islam memandang, kekuasaan hanyalah sarana untuk menerapkan aturan Allah Swt demi memelihara urusan umat dan memenuhi kemashlahatan mereka. 

Pun mereka menyadari bahwa hakikat fungsi kepemimpinan adalah menjadikannya sebagai pelayan. Bukan justru minta perhatian, pelayanan bahkan memaksa pendanaan semisal menarik pajak dari rakyat. 

Mereka tahu bahwa tanggung jawab kepemimpinan terjadi secara horizontal dan vertikal. Secara horizontal, bertanggungjawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Adapun secara vertikal, kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt, Sang Penguasa Jagat Raya. 

Inilah motivasi terdahsyat yang membuat para pemimpin Islam rela berpayah-payah, mendedikasikan seluruh hidupnya demi kemashlahatan umat yang dipimpinnya. Takut terhadap azab Allah Swt saat amanah ini tak tertunaikan. Dan senantiasa berharap ridlo Allah menyertai di segala aktivitas kepemimpinan.

Maka, pencitraan pemimpin bukanlah hal penting dalam politik Islam. Bahkan sekali lagi, pemimpin Islam tak butuh piala citra. Ia hanya ingin dapat juara di hadapan Robbnya.

Politik pencitraan hanyalah topeng bagi para pemimpin kapitalis untuk menutupi bopeng-bopeng kebijakan dan tindakannya. Saat kesan baik direkayasa, sesungguhnya ia tengah mengakui ada kelemahan diri yang hendak ditutupi. 

Sejatinya, upaya ini tak akan pernah merebut hati rakyat secara abadi. Apalagi kini rakyat kian cerdas dengan berbagai fenomena yang susul-menyusul terjadi. Jika jiwa melayani rakyat tak lagi menyala, bila karpet merah hanya digelar untuk kaum oligark baik pribumi maupun asing, maka "perlawanan" rakyat menuntut perubahan kondisi tinggal menanti hari. 

Saat sistem kapitalisme sekular kian menampakkan wajah bopeng penguasanya, telah siapkah kita menyajikan sistem Islam sebagai alternatif penggantinya?[]

Oleh: Puspita Satyawati 
Analis Politik dan Media




Posting Komentar

0 Komentar