TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Berdiri Tegak Membela Dzuriyat Rasulullah SAW

[Catatan Hukum Atas Sejumlah Pencederaan Marwah Habaib di Era Rezim Jokowi]


Ahlul Bait adalah keturunan suci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang memiliki ikatan nasab, mereka adalah keturunan Fathimah sampai hari kiamat. Demikian yang dijelaskan Imam Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab.

Untuk menjaga Nasab, dibuatlah catatan nasab lengkap, jalur-jalur keturunan, hingga sampai pada Rasulullah SAW.

Bahkan, untuk menjaga Nasab, para wanita keturunan Rasulullah SAW (Syarifah/Syahidah) tidak dinikahkan kecuali dengan keturunan Rasulullah SAW. Mereka, menjaga Nasab agar tak terputus dari Rasulullah SAW. Di Indonesia, keturunan (dzuriyat) Rasulullah SAW lebih dikenal dengan sebutan keluarga Habaib. 

Habib adalah keturunan Nabi Muhammad SAW, yang nashab keturunannya tidak terputus. Sebuah nama yang populer di dunia Islam, terutama di daerah Timur Tengah dan Afrika. 

Di negara lain, seperti Yaman dan beberapa negara Asia Tenggara seperti Brunei, Singapura, Malaysia dan Indonesia, diasosiasikan sebagai gelar kehormatan bagi kerabat Nabi Muhammad dan juga salah satu nama sebutan bagi Nabi Muhammad - حبيب الله Habib Allah (Habibullah/ Habiballah).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, 

“Didiklah anak-anak kalian untuk tiga hal; mencintai nabi kalian, mencintai Ahlul Baitnya dan membaca Al-Qur`an, karena para penghafal Al-Qur`an itu berada di bawah naungan Allah pada hari tiada naungan lain selain naungan-Nya, bersama para nabi dan orang-orang pilihan-Nya.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي

“Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Segala sesuatu ada asasnya, dan asas islam adalah mencintai Rasulullah dan ahli baitnya.”

Namun saat ini, nasib para Habaib, ahlul bait, direndahkan kehormatan dan kemuliaannya. Rasulullah SAW memerintahkan kita mencintai dan melindungi dzuriyat Rasulullah SAW, tetapi di era Rezim Jokowi ini, Marwah dan kehormatan Habaib direndahkan.

Bermula, saat salah satu dzuriyat Rasulullah SAW, saat Habib Muhammad Rizieq Syihab melakukan aktivitas dakwah menentang kezaliman Rezim Jokowi. Fitnah Makar, fitnah pornografi, propaganda jahat, tiada henti dialamatkan kepada beliau.

Berbagai kasus kriminalisasi dialamatkan kepada beliau, hanya karena Habib Rizq Syihab konsisten berdakwah amar Ma'ruf nahi Munkar. Sampai akhirnya, beliau "diasingkan" dan diisolasi secara politik oleh rezim Jokowi.

Belum lama, Habib Bahar Bin Smith juga mengalami hal yang sama. Pencederaan Marwah keluarga Habaib tidak dipersoalkan, tetapi tindakan menjaga Marwah dzuriyat Rasulullah SAW lah yang justru dikriminalisasi.

Ketika Habib Bahar Bin Smith bebas, mengadakan tausiyah keagamaan dikediamannya, polisi langsung menjemput paksa layaknya menangkap teroris, pada dini hari. Dengan dalih melanggar PSBB, habib Bahar Bin Smith kembali dipenjara.

Tak puas memindahkan Habib Bahar Bin Smith dari Lapas Pondok Rajeg ke Lapas Sindur, kini Habib Bahar dipindahkan ke Lapas Nusa Kambangan. Alasannya, pendukung Habib Bahar disebut mengganggu di Lapas Gunung Sindur.

Beda perlakuan dengan Ahok, dianggap akan membahayakan keselamatannya, Ahok dipindahkan dari Lapas umum ke Rutan Brimob Kelapa Dua. Seharusnya, dengan alasan yang sama Ahok dipenjara di Lapas Nusa Kambangan.

BPIP juga melanggar PSBB, melanggar physical distancing saat konser amal Corona. Tak ada teguran atau sanksi dari petugas, apalagi dari aparat kepolisian. Ketua MPR, Bambang Soesatyo hanya cukup menyatakan permintaan maaf. Urusan selesai.

Belum kelar ketidakadilan terhadap Habib Bahar Bin Smith, pencederaan Marwah dzuriyat Rasulullah SAW, kembali kita dikejutkan dengan kabar Habib Umar Abdullah Assegaf yang ditinju Oknum Satpol PP.

Habib Umar mobilnya dihentikan petugas secara paksa oleh polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Exit Tol Bundaran Satelit, Surabaya. Mobil sedan Toyota Camry yang ditumpangi Habib Umar dihentikan berdalih melanggar aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tapi sikap petugas dan satpol PP kurang ajar, tidak menghargai dzuriyat Rasulullah SAW. Apalagi, merasa kalah argumen Oknum Satpol PP yang bernama Asmadi langsung meninju Habib Umar Abdullah Assegaf. Tindakan Habib Umar yang membela diri, diberitakan media "adu jotos" dengan aparat. Sebuah narasi pemberitaan yang tidak adil.

Apalagi tindakan aparat dan satpol PP, yang hanya tegas dan kurang ajar kepada Habib Umar, dzuriyat Rasulullah SAW dari Bangil. Sementara, terhadap pelanggan PSBB oleh BPIP saat konser amal, pelanggan PSBB yang terjadi di bandara, mal dan pusat perbelanjaan, aparat dan satpol PP seperti sapi ompong. Tidak ada tindakan.

Padahal, katanya Indonesia Negara hukum? Katanya asasnya Equality before the law? Katanya, semua warga negara bersamaan kedudukannya dihadapan hukum? Semua ini terjadi, hanya di era Rezim Jokowi.

Ya Allah, sungguh kami tidak rela dzuriyat Rasulullah SAW dihinakan. Kami tidak ridlo, keluarga Habaib dizalimi.

Kami akan membela para Habaib, dzuriyat Rasulullah SAW, dengan segenap jiwa dan raga sepanjang mereka dalam ketaatan. Ya Allah, lindungi dan muliakan keluarga Rasulullah SAW serta seluruh anak cucu keturunannya. []

Oleh : Ahmad Khozinudin, SH
Ketua LBH Pelita Umat

Posting Komentar

0 Komentar