TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Bantuan Tak Tepat Sasaran, Mengapa?



Belakangan ini, cukup ramai jagat raya dihebohkan dengan aksi protes beberapa warga terkait bantuan dari pemerintah yang tak tepat sasaran. 

Dilangsir dari m.cnnindonesia.com, Sabtu (16/05/2029), Kantor Desa Carenang Udik, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten, digeruduk oleh puluhan warga yang tak mendapatkan bantuan sosial tunai (BST) pada Jumat (15/5) pukul 10.00 WIB. Berdasarkan informasi yang diterima, warga merusak bahkan membakar benda yang ada di kantor desa itu.

Mereka menuding pembagian BST di tengah covid-19 tidak adil dan merata. Bahkan, dalam satu desa, hanya 53 Kepala Keluarga (KK) yang mendapatkan bantuan sejak di salurkan sejak 14 Mei 2020.

Hal tersebut memang telah diakui secara langsung oleh Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani. "Yang menjadi tantangan kita selama ini adalah dengan banyaknya program bantuan sosial, memang masih ada sedikit kelemahan-kelemahan. Misalnya targetnya masih ada yang kurang tepat sasaran, kemudian duplikasi," katanya dikutip dari YouTube BNPB, Jumat (15/5/2020).



Hal ini tentu saja menjadi salah satu bukti cacatnya sistem pendataan yang dilakukan. Standar seseorang dikatakan sebagai penerima bantuan itu dilihat dari sisi mana? Juga perlunya dipertanyakan kembali pihak-pihak yang telah terkait dalam proses pencatatan dan juga pendataan warga. 

Dalam Islam sendiri telah disebutkan dengan jelas, klasifikasi orang-orang yang berhak mendapatkan bantuan. Mereka terbagi menjadi 8 asnaf. Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an ; 

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf, yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Lagi Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah:60).

Tak hanya itu, perlu disoroti penerapan sistem ekonomi yang harusnya bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman bagi seluruh masyarakat Indonesia. Akan tetapi, berbagai peristiwa akibat penerapan sistem ekonomi yang salah memberikan begitu banyak dampak buruk tercipta. 

Sistem ekonomi kapitalis yang saat ini di terapkan, hanya memberikan kekuasaan kepada kaum kapital/pemegang modal saja sehingga sampai detik ini banyak kita jumpai rakyat Indonesia yang mengalami pengangguran, kemiskinan, ketimpangan sosial, termasuk tidak meratanya distribusi pendapatan juga persaingan tidak sehat yang jauh dari nilai norma dan agama. 

Sistem ekonomi sosialis yang hanya bertujuan pemerataan sosial juga tak bisa dilirik sebab akan lebih banyak menimbulkan banyak konflik. Tidak adanya kebebasan hak milik, terbelenggunya kreatifitaa masyarakat dan lain sebagainya. 

Maka, demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera di bidang ekonomi. Tentu diperlukan suatu penyusunan sistem dan konsep yang ideal, agar tercipta masyarakat yang sejahtera, tidak minus yang berdampak di tengah-tengah kehidupan masyarakat. 

Sistem ekonomi Islam menawarkan dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Memberikan rasa keadilan, kebersamaan, menciptakan kondisi sosial yang kondusif, kekeluargaan serta mampu memberikan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha dengan cara memanfaatkan sumber saya alam untuk kepentingan masyarakat secara universal. 

Tentu saja hal ini sangat dibutuhkan dalam mengatasi perekonomian di tanah air. Sistim ekonimi Islam selayaknya dilirik untuk berikutnya di terapkan secara menyeluruh dalam seluruh lapisan masyarakat.  

Sistem ekonomi Islam adalah suatu kesatuan yang dijadikan landasan untuk melakukan sesuatu dalam praktek ( penerapan ilmu ekonomi ) sehari-harinya bagi individu, keluarga, kelompok masyarakat, maupun pemerintah atau penguasa dalam rangka mengorganisasi faktor produksi, konsumsi, distribusi dan pemanfaatan barang dan jasa yang dihasilkan tunduk dalam peraturan atau perundang-undangan Islam.


Oleh : Amaliyah Aly ( Pegiat literasi )

Posting Komentar

0 Komentar