TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

'Balas Budi', Membuka Lebar Peluang Korupsi dalam Sistem Demokrasi


Kota Telaga di Kaki Gunung Lawu, begitu sering disebut untuk kota adem Magetan. Kota yang terkenal dengan air telaga sebagai pusat wisata di Jawa Timur bagian barat ini, tiba-tiba berduka. Setelah salah satu warga di wilayah yang damai ini terpapar oleh virus Covid-19, hingga meregang nyawa di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah. Dari sini, kasus pasien positif dan suspek kian hari kian bertambah. Tak ayal lagi apabila membutuhkan dana untuk pencegahan penularan, perawatan pasien yang sakit dan segala keperluan lainnya.

Namun, sayang, terjadi polemik di kalangan pemerintahan. Anggaran yang digelontorkan oleh pemkab Magetan untuk mengatasi kasus Corona tersebut, membuat Kejari Magetan mempertanyakan berapa banyak dana yg dikeluarkan dan telah digunakan untuk membeli apa saja.  Seperti yang diberitakan oleh magetan.today, pihak Atensi Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) terkait keterbukaan anggaran penanggulangan Corona virus disease (Covid-19) belum ada respek. Penyidik Kejari Magetan mengaku kesulitan memperoleh data, terkait yang digunakan Pemkab Magetan untuk kegiatan Covid-19 tersebut.

Piihak pemkab yang tidak transparan dalam pengelolaan anggaran Covid-19, menjadi catatan tersendiri dalam negara demokrasi. Telah nyata bahwa dalam sistem demokrasi transparansi adalah sebuah keharusan. Karena ini merupakan syarat akan adanya good governance dan clean government. 

Banyak pihak paham akan hal ini, bahwa konsep good governance dan clean government nampak bagus untuk mencegah korupsi. Sangat disayangkan, para penganut sistem demokrasi, pihak-pihak tersebut lupa, bahwa muncul peluang korupsi bukan karena tidak adanya transparansi anggaran. Lebih tepatnya, demokrasi adalah sistem mahal. Dalam pelaksanaan sistem ini butuh modal yang besar untuk bisa menjabat di panggung pemerintahan. Tak pelak, harga mahal ini, musti dikembalikan. 

Menilik konsep good governance dan clean government adalah sebuah syarat supaya investor tertarik. Sehingga perkawinan antara investor dengan pejabat tidak terelakan. Para pengusaha yang menjadi dekeng dari kemenangan pejabat di posisinya atau dari modal dia sendiri, setelah berada di singgasananya bakal meminta kompensasi atas bantuannya. Tidak akan ada murni pertolongan kepada para colon pejabat, akan tetapi lebih kepada azaz manfaat.

Sistem demokrasi menjadikan para penghuninya jahat. Hidup bagaikan di hutan belantara. Prinsip "Siapa yang kuat, dia yang menang" akan berlaku pada sistem ini. Tidak mengherankan apabila adanya polemik selalu bermunculan. Pasalnya, para pemilik materi, seperti para pengusaha akan dominan dalam sistem ini. Maka akan menghadirkan para pejabat yang berjuang untuk mengembalikan modal kepada Tuannya. Wajar jika segala macam cara ditempuh untuk membayar piutang kapada pihak yang memodali dirinya, termasuk korupsi.

Sebelum duduk di pemerintahan pejabat akan berusaha memberikan karpet merahnya pada para investor untuk memberi bantuan dan kucuran dananya. Dengan berbagai fasilitas yang ada, baik setingkat daerah atau pusat. Jadilah mark up menjadi suatu yang lazim sebagai cara untuk balik modal saat kampanye.

Sekarang, terbukti sistem demokrasi telah banyak menimbulkan polemik dalam berbagai persoalan. Maka untuk menghasilkan pemerintahan yang bersih saatnya sistem demokrasi disingkirkan. Dan sistem yang takut kepada sesama manusia ini, juga telah gagal memperbaiki berbagai persoalan tersebut. Jadi sudah tidak layak lagi jika dipertahankan.

Berbeda jauh dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam baik individu maupun masyarakat akan takut hanya kepada Allah. Jadi, dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, individu-individu di dalamnya tidak akan menggunakan cara kotor sebagaimana yang terjadi pada sistem demokrasi. Baik dalam teknik meraih jabatan, menjadi pemimpin maupun dalam menjalankan amanah di pundaknya. Dalam sistem Islam mencetak para pemimpin takut kepada Allah, karena jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan pada yaumul akhir.

Wallahu alam bisawab.[]

Oleh Sunarti

Posting Komentar

0 Komentar