TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Balada Negeri Yang Tergadai

sumber foto: megapolitan.kompas.com
     
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat berbicara dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, soal relokasi pabrik-pabrik AS dari China ke Indonesia. Pemerintah sedang menyiapkan lahan 4.000 hektare di Jawa Tengah. Lahan itu khusus disediakan untuk kawasan ekonomi khusus untuk industri farmasi dan alat kesehatan.
     
Soal lokasi 4.000 hektare di Jawa Tengah klop dengan pengembangan kawasan industri di Brebes, Jawa Tengah. Pemerintah pusat melalui, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang menyiapkan 27 kawasan industri baru yang akan dibangun dalam kurun waktu 2020-2024. Salah satu daerah yang akan dibangun kawasan industri, yaitu di Brebes, Jawa Tengah. 
     
Masuknya kawasan industri Brebes terkait rencana relokasi pabrik-pabrik AS di China, bermula disampaikan oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, bahwa pemerintah menyediakan kawasan industri 4.000 hektare di Jawa Tengah. Kawasan industri seluas itu dimiliki oleh Kawasan Industri Brebes di Jateng. (CNBC.com 12/05/2020) 
     
Sungguh ironis. Polemik mega proyek Ibukota baru belum kelar, kini muncul proyek baru yang tidak kalah besarnya. Proyek itu adalah pemindahan perusahaan Amerika yang ada di China ke Indonesia tepatnya di Brebes, Jawa Tengah. Tentu akan muncul pertanyaan, apakah Amerika tidak punya tanah kosong di negaranya hingga harus ke Indonesia? Atau tidak ada negara lain yang lebih menarik hati Amerika? Ada apa dengan Indonesia dimata Amerika? 
     
Negara yang memiliki ideologi tidak akan bertindak tanpa tujuan dan maksud tertentu. Apalagi seperti Amerika yang menjunjung tinggi ideologi kapitalisnya. Dengan ideologi itulah Amerika dan negara maju lainnya dipandang lebih hebat dan kuat dimata dunia. Sehingga setiap tawaran yang diajukan Amerika kepada negara-negara berkembang seperti Indonesia akan dipandang sebagai sebuah kehormatan. Lalu, apakah pemindahan perusahaan Amerika ke Indonesia juga tawaran kehormatan bagi Indonesia? Let's we check it. 
    
Pertama, Amerika dan Indonesia bukanlah negara yang baru menjalin relasi bilateral kemarin sore. Amerika mengukir sejarah di Indonesia sudah puluhan tahun lamanya. Pasca berakhirnya order lama yang bergaya Komunis, bukankah OrBa berbau sekuler kapitalis ala Amerika? Meskipun masyarakat tidak merasakan dampaknya langsung karena harga- harga stabil dan keamanan terkendali, namun pada kenyataannya utang telah ditumpuk, aktifitas menyerukan syariah Islam juga tidak memiliki tempat. Sebab kiblat utama saat itu adalah Barat dalam hal ini dikuasai oleh AS. 
       
Kedua, kenapa Amerika harus memilih Indonesia? Sebab Indonesia adalah mitra bisnis yang sudah lama terjalin dan tentu manfaat yang dirasakan luar biasa. Lihat saja keuntungan yang didapatkan Amerika dari PT Freeport. Jelas, Amerika tisak akan rela melihat Indonesia jatuh sepenuhnya di bawah kendali China. Karena Indonesia sangat seksi dimata negara penjajah seperti Amerika. Indonesia kini menjadi rebutan kedua kubu kapitalis serakah. 
     
Ketiga, perang dagang antar China dan Amerika yang kian memanas tentu membuat Amerika harus terus banting setir mengambil simpati negara-negara yang hampir meninggalkannya sebagai ajang membangun kekuatan baru bagi negara digdaya tersebut. Tidak bisa dipungkiri, bahwa citra Amerika dalam 10 tahun terakhir telah mengalami dekadensi dan harus segera kembali diperbaiki. Indonesia menjadi salah satu negara yang punya potensi besar untuk dimanfaatkan bagi kepentingan membangun Amerika dimata dunia. 
     
Keempat, Indonesia jelas sulit menolak tawaran Amerika untuk menyediakan lahan pemindahan perusahaan Amerika dari China ke Indonesia. Sebab Indonesia juga negara yang masih tersandera utang dengan Amerika. Dan kekuatan AS tetap masih diakui di atas China karena ideologinya masih tegak. Mau tidak mau, suka tidak suka, Indonesia harus mennyambut permintaan Amerika tersebut. 
     
Beginilah sesungguhnya gambaran nyata penjajahan kapitalisme terhadap negeri- negeri lain wabil khusus Indonesia. Kapitalisme merampas kekayaan negeri ini telah berpuluh tahun dan tidak akan memberi peluang bagi jajahannya untuk melepaskan diri. Akibat utang yang ditawarkan dan kerjasama yang disepakati, maka tanah dan sumber daya alam menjadi taruhan dan anggunan utang. 
     
Hal itulah yang menyebabkan Indonesia menjadi negeri yang tergadai dihadapan kapitalis Barat juga Timur. Betapa tidak, ketika China meminta proyek pembangunan infrastruktur, seperti mega proyek OBOR, Indonesia tidak bisa menolak. Ketika investor asing memberikan utang seperti Arab Saudi dengan anggunan Pulau, Indonesia juga tidak bisa menolak. Bahkan reklamasi di pulau Jawab pun tidak bisa dihentikan bahkan oleh Gubernur setempat. 
     
Kini, Amerika kelihatannya ingin kembali menaikkan pamornya ditengah pandemik covid-19. Dengan melempar opini kepada dunia bahwa China adalah penyebar virus dan bertanggungjawab atas kondisi wabah hari ini. Kini China dikabarkan tengah menghadapi situasi ekonomi yang sangat sulit. Bahkan negara- negara krediturnya meminta tangguh pembayaran hutang selama pandemik bahkan ada yang menolak bayar dan meminta potongan sekian tahun. Seperti yang dilakukan oleh Pakistan, India dan Bangladesh. Walhasil, China sedang dilanda kebingungan untuk melanjutkan proyek BELT yang telah disepakati dengan negara-negara tersebut. Apalagi Indonesia, untuk saat ini hanya mampu menambah utang bukan membayarnya. 
      
Trik AS menjatuhkan China dengan opini publik kelihatannya memberikan pengaruh yang luar biasa. Disamping hal tersebut, sekitar 100 negara kini melaporkan China ke PBB untuk segera diinvestigasi atas pandemik covid-19. Negara-negara yang mengalami korban banyak tentu akan sepakat melakukan pengaduan ini. Bukankah China sebenarnya tidak punya sekutu yang kuat bersamanya? China hanya bermodalkan uang, sementara Amerika mengendalikan segalanya dengan perangkat-perangkat politiknya. 
    
Sehingga, tidak mengherankan jika Amerika berusaha kembali merevisi hubungan yang hampir renggang dengan negara lain seperti Indonesia akibat keterikatan dengan China. Jika sebelumnya, perusahaan AS di China sebagian telah dimenangkan oleh Vietnam, kini Indonesia menjadi pemenangnya. Lahan yang dijanjikan di wilayah Brebes dikabarkan akan dilelang dengan harga yang sesuai keinginan Amerika. 
     
Jadi, tidaklah benar jika pemerintah yang mengadopsi kapitalisme ini membangun wilayah kawasan industri seperti Brebes akan memberikan dampak positif bagi rakyat dan negeri ini. Semua itu hanya sandiwara untuk memuaskan dan memenuhi hajat serakah kapitalis Barat dalam hal ini AS. Cengkraman Amerika terhadap Indonesia tidak akan pernah berakhir selama Indonesia terus memakai ideologi kapitalis yang dijadikan Amerika sebagai jalan mulus untuk masuk melakukan penjajahan. 
     
Pembangunan kawasan industri hanya akan menambah hegemoni kapitalisme di negri ini. Memindahkan perusahaan asing ke tanah air, bukankah sama artinya menjual tanah ini kepada penjajah dengan nama investasi? Lalu, apa yang patut dibanggakan dari kemenangan Indonesia menjadi negara yang terpilih tempat pemindahan perusahaan AS? 

Walhasil, negeri ini sebenarnya sedang tergadai kepada dua negara besar yang berebut ingin menguasai ekonomi dunia. Yaitu China dan Amerika. Keduanya akan terus bertarung menjadi penguasa. Lalu, akankah Indonesia diam saja dan tetap jadi mangsa? Padahal Indonesia adalah negari yang kaya dan besar. Dan sebenarnya mampu melawan dan mengalahkan China juga Amerika. 
       
Kenapa tidak? Jika Indonesia menerapkan syariat Islam dengan totalitas. Maka Penjajah Kapitalis baik China dan Amerika akan angkat kaki dengan rasa malu dari negeri ini. Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim punya kekuatan tersembunyi yang belum digunakan untuk melibas Amerika dan China. Sebagimana kekuatan AS adalah ideologi kapitalismenya, maka potensi kekuatan yang sama dengan ideologi juga dimiliki Indonesia. Yaitu ideologi Islam yang sudah diimani 85% penduduknya dan tinggal menerapkannya saja. 

Percayalah, hanyaya dengan ideologi Islam, Indonesia akan bebas dari kapitalisme dan menjadi negara berdaulat yang berdiri tegak dengan gagah serta disegani dunia, ditakuti Amerika dan China. Wallahu a'lam bissawab.

Oleh Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen dan Pengamat Politik

Posting Komentar

0 Komentar