Antara “New Normal Kapitalisme” dengan “Peradaban Islam” ?

Tatanan kehidupan normal baru (new normal) di tengah pandemi virus corona (covid-19) jadi topik yang cukup ramai dibicarakan dalam sepekan terakhir. Terlebih, setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecek kesiapan penerapan prosedur new normal di pusat perniagaan dan transportasi publik pada Selasa (26/5).

Pada prinsipnya, new normal adalah fase di mana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan dan publik diperbolehkan untuk kembali beraktivitas dengan sejumlah protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah sebelum ditemukannya vaksin.

Langkah ini dijalankan pemerintah untuk memulihkan produktivitas masyarakat agar perekonomian dapat kembali bergeliat setelah terpuruk di kuartal pertama dengan pertumbuhan hanya 2,97 persen. (CNN Indonesia | Kamis, 28/05/2020)

Pada tahun 2019-2020 saat pandemi virus corona atau Covid-19 melanda berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, frasa 'New Normal' mengacu pada perubahan perilaku manusia setelah pandemi ini, dimana para dokter di Sistem Kesehatan Universitas Kansas mengantisipasi bahwa pandemi virus corona atau Covid-19 ini akan mengubah kehidupan sehari-hari bagi kebanyakan orang. Ini termasuk membatasi kontak orang-ke-orang, seperti jabat tangan dan pelukan. Selain itu, menjaga jarak dari orang lain, secara umum, kemungkinan akan bertahan.

Selama dan pasca pandemi Covid-19 akan tercipta 'New Normal' atau perilaku manusia yang baru yang berbeda dan berubah dari perilaku sebelumnya (Old Normal) antara lain: lebih peduli terhadap kebersihan dengan selalu menggunakan masker untuk menutup mulut dan hidung saat bepergian dan selalu rutin mencuci tangan; lebih peduli terhadap kesehatan dengan menjaga kekebalan tubuh melalui olahraga teratur dan makan makanan bergizi; lebih membatasi pertemuan secara langsung dengan orang lain, baik itu dalam beribadah, belajar, bekerja dan berbelanja, dimana semua itu akhirnya lebih banyak dilakukan secara daring atau online; lebih menjaga jarak dengan orang lain saat menggunakan transportasi publik dan atau saat mengantri di perkantoran dan pertokoan. (www.kompasiana.com | 02/05/2020)

Kata new normal, bisa sebaliknya jadi tidak normal, karena fakta empirik masih belum normal, akan tetapi cita cita untuk menuju new normal merupakan keinginan semua manusia di dunia.  
Menuju new normal harus dimulai dari pemahaman yang normal. Ketika melihat situasi objektif seperti saat ini belum normal, masih memerlukan tahapan yang harus terukur,  sehingga kita tidak terjebak dengan diksi yang justru membuat umat bingung. (Republika.co.id | Rabu 2/05/2020)

New normal dalam pandangan Kapitalisme global maupun sosialisme komunisme, adalah manusia tetap harus berproduksi meskipun beresiko mati. Dan prosesnya produksi itu, tak lain hanya untuk melayani masyarakat kapitalis, agar pasar mampu menyerap barang mereka serta bahan baku mereka sehingga posisi perekonomian mereka kembali melejit. Soal nyawa manusia bagi mereka bukan masalah.

Dalam kondisi seperti ini tentu “New Normal” adalah proses untuk ‘mengeliminasi’ manusai lemah, yang dalam dialektika materialism harus disingkirkan karena akan dianggap menjadi beban peradaban

New Normal Dalam Prespektif Islam

Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak mau ‘new normal’ dengan model seperti itu. New normal dalam islam sudah memiliki konsep tersendiri juga lebih jauh bagus daripada ‘new normal’ dalam pandangan kapitalisme.
Islam merupakan agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw yang mengatur hubungan, manusia dengan penciptanya, manusia dengan dirinya sendiri serta dengan yang lain.

Jadi, Islam merupakan suatu sistem yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pembangunan ekonomi. Industri perbankan dan keuangan sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian pun diatur dalam Islam.

Islam juga memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah kepada sang khalifah, agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. Untuk mencapai tujuan suci ini, Allah memberikan petunjuk melalui para rasul-Nya, baik yang meliputi akidah, akhlak, maupun syariah.

Nah, ternyata islam sudah mengatur segala aspek dan memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi,maka jelas sekali pada saat itu peradaban islam  juga pernah menguasai 2/3 dunia atau menjadi Negara adidaya yang mampu menggeser kedudukan Demokrasi-Kapitalisme dan Sosialisme-Komunisme. Membuktikan bahwa ‘new normal’ dalam presfektif islam itu luar biasa penerapannya dan pembuktiannya dengan mengembaikan daulah khilafah agar ummat islam bersatu dalam naungan islam yang menerapkan sistem islam ke dalam negeri serta mendakwahkan islam ke penjuru alam.

Semua itu tak lain dan tidak bukan hanya bisa diwujudkan dengan kembali menyuarakan penerapan syariah islam dalam bingkai khilafah agar membuat manusia hidup berada dalam tatanan Negara yang baik dan tetap tunduk terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’alla.

Wallahu’alam bishawwab

Oleh : M. Diki Wahyudi (Aktivis Pemuda Dan Mahasiswa)

Posting Komentar

0 Komentar