TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Zalim Karena Minim Edukasi, Salah Siapa?

sumber foto: tribunnews.com

Bagaimanakah perasaanmu menyambut bulan Ramadhan dengan kondisi negeri seperti ini? H-8 Ramadhan, itu artinya kita semakin dekat dengan bulan kemuliaan, bulan penuh berkah dan hidayah Allah.

Yang dimana sebagai seorang muslim maka seharusnya persiapan menyambut datangnya bulan suci ini telah hampir matang. Berlomba-lomba dalam mengharap keridhoan Allah untuk segala kebaikan. Ingin mendapatkan ampunan, pahala berlipat ganda, penjagaan dari siksa neraka, peluang terbukanya pintu surga untuk di masuki. 

Namun, dengan adanya wabah yang melanda negeri kita saat ini banyak umat yang terlalaikan dari aktivitas seorang muslim atau lupa akan bagaimana berprilaku terhadap sesama manusia yang lain. 

Suasana menjadi tidak bersahabat lagi seperti biasanya satu sama lain saling menghindar melakukan anjuran dari pemerintah yakni berdiam diri di rumah, menjaga jarak atau social distancing, tidak melakukan kontak fisik atau physical distancing bahkan dengan anggota keluarga sekalipun. Para dokter dan tenaga medis berjuang mati-matian mengambil resiko besar menjadi garda terdepan yang kita harapkan menyembuhkan pasien-pasien yang terpapar virus ini. Lalu banyak pula dari mereka yang benar-benar menghadapi kematian akibat makhluk tak kasat mata ini.  

Akan tetapi tidak semua masyarakat mampu melihat pengorbanan para dokter dan tenaga medis ini dalam penyembuhan pasien covid 19. Berapa banyak yang kita tahu para perawat telah di usir dari tempat tinggalnya dan juga di kucilkan lingkungannya sehingga mereka harus tinggal di RS, kemudian jenazah dokter maupun tenaga medis yang di tolak pemakamannya oleh masyarakat setempat hingga di lempari batu seperti yang terjadi di salah satu daerah di Jawa Tengah yang mana membuat Gubernur Ganjar Pranowo menyatakan permintaan maaf atas kejadian trsebut. Di lansir dari KOMPAS.COM

“Penolakan tersebut di lakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/42020)."

“Ketua umum PPNI juga membenarkan adanya kasus perawat, dokter dan mahasiswa yang di minta untuk meninggalkan kos mereka semenjak di tetapkannya RS Persahabatan sebagai RS rujukan.” Liputan6.com, Rabu (25/03/2020). 

Atas kejadian ini kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya tindakan masyarakat yang merasa ketakutan dan bersikap berlebihan seperti itu, mengapa? Kepanikan seperti ini bisa terjadi karena minimnya edukasi yang masayarakat dapatkan dari pemerintah. 

Berulang kali menyampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat agar tetap berada di rumah dan menjaga kesehatan sebagai bentuk memutus mata rantai penyebaran virus, terlalu sibuk dengan urusan pembangunan ibu kota ketimbang memprioritaskan urusan masyarakat yang sangat kurang di edukasi dalam menerima para tenaga medis dan jenazah positif virus.
 
Sesuatu penyakit ataupun virus bukanlah sebuah aib yang siapa terdampak maka kita kucilkan dan kita dzolim terhadap penderitanya hingga jenazahnya di lempari batu. 

Dalam sebuah hadits di katakan
“Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa tha’un kemudian menahan diri di negerinya dengan bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari)

Semoga hadits di atas bisa menjadikan pengetahuan kita bertambah dalam menghadapi para tenaga medis dan jenazah para pasien. 

Mengulas tentang sejarah dokter muslim yang berjuang pada masanya seperti Rufaidah merupakan dokter yang masuk Islam pertama kali dari kalangan Anshar di Madinah. Kemahiran merawat dan mengobati orang di peroleh dari ayahnya yang juga seorang dokter, Sa’d Al-Aslamiy. 

Ia mampu mengkoordinir para muslimah untuk bisa membantunya menjadi perawat yang baik. Mereka dilatih untuk berhadapan dengan kondisi pasien dalam kondisi yang paling buruk sekalipun. Kemahiran beliau terlihat pada saat peperangan Badar, perang Uhud, Perang Khandak serta Perang Khaibar. 

Rasulullah sebagai pemimpin pun ikut andil dalam memantau perkembangan kesehatan korban yang terluka akibat perang yang dirawat oleh Rufaidah. Karena jasanya ini maka beliau memberikan ghanimah kepada Rufaidah. 

Mari kita bermuhasabah, jika tidak ada dokter dan para tenaga medis lalu siapakah yang kita harapkan untuk membantu menyembuhkan pasien-pasien yang positif virus? Maka bersyukurlah dengan adanya mereka yang ikhlas menjadi garda terdepan mengabaikan raga mereka demi raga yang lain. 

Dalam kondisi  pandemi saat ini dengan sistem kapitalis ini negara hanya memikirkan keuntungan demi keuntungan tanpa melihat bagaimana sistuasi masyarakat, sulit rasanya ketika tidak ada junnah di tengah-tengah rakyat. Berharap hanya pada Allah dengan segera tegaknya Islam Kaffah di negeri ini.[]

Oleh : Kamila Amiluddin, S.S (Pengajar, Aktivis Dakwah, Pemerhati Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar