TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sudah Habiskah Uang Negara Hingga Pemerintah Membuka Rekening Donasi?


Saat ini dunia telah disibukan dengan pandemi wabah Covid-19 (Virus Corona). Berbagai macam cara dilakukakan oleh masing negara untuk mengatasi wabah Covid-19 ini. Cina dan beberapa negara lainnya melakukan lockdown dibeberapa daerah yang memilki penyebaran virus yang cukup besar. Berbeda dengan Cina yang melakukan Lockdown, Korea justru menggunakan cara tes masalah untuk medeteksi penyebara virus Corona. Lalu langkah apakah yang diambil oleh 
Mewabahnya virus corona (Covid -19) tentu membuat panik berbagai negara. 

Berbagai cara dilakukan untuk menghadapi wabah virus corona ini. Indonesia yang saat ini tercatat memiliki angka kematian tertinggi di dunia terlihat gagap dalam menangani wabah virus corona. Lambannya sikap pemerintah dalam menangkal penyebaran virus corona mendapat banyak kritik dari berbagai elemen, bahkan lembaga dunia juga turut mengkritik sikap pemerintah kita.

Akibat lambannya pemerintah dalam menentukan langkah-langkah strategis untuk menangkal virus corona, menjadikan virus ini sudah tersebar keseluruh provinsi. Petugas medis yang berada di garda terdepan dalam melawan virus corona pun kewalahan. Hal ini semakin diperparah dengan minimnya Alat Pelindung Diri (APD), sehingga petugas medis hanya menggunakan alat seadanya. Inilah yang menyebabkan banyaknya petugas medis berguguran dalam menghadapi wabah corona ini, bahkan sudah tercatat puluhan tenaga medis yang meninggal.

Melihat kondisi yang dialami petugas medis, dan lambannya permerintah dalam bersikap, membuat rakyat akhirnya bergerak sendiri bahu-membahu menyalurkan bantuan untuk menyediakan APD bagi para petugas medis. Bukan hanya menyalurkan APD, ditengah kondisi wabah seperti ini tentu memberikan dampak besar bagi perekonomian bangsa.
Rakyat sadar bahwa di negeri ini banyak orang hidup di bawah garis kemiskinan, apalagi disaat semua warga diharuskan untuk tetap di rumah untuk mengurangi dampak penyebaran virus corona tentu ini akan berdampak besar bagi mereka yang kurang mampu. Hal ini juga menggerakan rakyat untuk melakukan donasi demi untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak secara ekonomi.

Inilah gambaran negeri kita tercinta ketika menghadapi pandemi wabah corona, rakyatnnya bergerak untuk membantu saudaranya sebangasa setanah air dalam memenuhi kebutuhan pokok bagi orang-orang yang terdampak secara ekonomi.

Lalu dimanakah negara saat wabah melanda? Uniknya negara justru malah mencontoh apa yang dilakukan oleh rakyat, yakni membuka rekening untuk penggalangan dana. Apakah negara ini sudah tidak punya uang dalam menghadapi wabah ini sehingga harus melakukan penggalangan dana? Faktanya ditengah wabah yang melanda negeri ini, pemerintah justru terus menjalankan proyek pembangunan ibukota negara baru.

Hal ini sungguh disayangkan, pemerintah yang seharusnya memberi perhatian lebih untuk menagani wabah, namun pemerintah seolah lebih mementingkan pembangunan IKN ketimbang nyawa rakyatnya. Seharusnya jika pemerintah benar-benar peduli terhadap rakyatnya, seharusnya pemerintah menghentikan sementara proyek IKN dan mengalihkan dananya untuk menangani wabah corona ini. apalagi rakyat sangat membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan pokok selama wabah melanda. Sehingga pemerintah tidak perlu lagi melakukan penggalangan dana, karena bisa menggunakan dana yang ada.

Penggalangan dana yang dilakukan pemerintah ini juga mendapat kritikan dari berbagai pihak termasuk dari kalanngan wakil rakyat. Disaat pemimpin negara lain merelakan gaji mereka untuk menangani wabah, pemerintah kita malah meminta uang dari rakyat.

Padahal sebelumnya ada yang mengklaim bahwa pemimpin kita ini seperti Umar bin Khattab. Jika memang ingin disebut seperti Umar maka apa yang dilakukan oleh pemimpin kita harus bercermin kepada sosok Umar bin Khattab. Apalagi di masa Umar juga pernah terjadi wabah besar yang melanda kaum muslim pada waktu itu dan Umar berhasil mengatasinya. 

Seharusnya pemerintah apalagi pemimpin negeri ini mencontoh apa yang sudah Umar lakukan. Namun saat ini apa yang dilakukan pemerintah justru malah jauh dari cara Umar dalam mengatasi wabah, jika demikian maka tidaklah pantas menyamakan dirinya seperti sosok Umar bin Khatab.

Lihatlah bagaimana Umar bi Khattab ketika menghadapi situasi krisis di masa kepemimpinannya. Dalam buku The Great leader of Umar bin Khaththab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua, diceritakan bahwa ketika terjadi krisis, Khalifah Umar ra. melakukan beberapa hal. Pertama, ketika krisis ekonomi, Khalifah Umar memberi contoh terbaik dengan cara berhemat dan bergaya hidup sederhana, bahkan lebih kekurangan dari masyarakatnya.

Kedua, Khalifah Umar ra. langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan. Diriwayatkan dari Aslam:
Pada tahun kelabu (masa krisis), bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar ra. menugaskan beberapa orang (jajarannya) untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, “Hitunglah jumlah orang yang makan malam bersama kita.”

Khalifah Umar ra. memberi makanan kepada orang-orang badui dari Dar ad-Daqiq, sebuah lembaga perekonomian yang berada pada masa pemerintahan Umar. Lembaga ini bertugas membagi tepung, mentega, kurma, dan anggur yang berada di gudang kepada orang-orang yang datang ke Madinah sebelum bantuan dari Mesir, Syam dan Irak datang.
Dar ad-Daqiq kian diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madinah selama sembilan bulan, sebelum hujan tiba dan memberi penghidupan.

Ketiga, musibah yang melanda, juga membuat Khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala Pemilik alam seisinya.

Khalifah langsung memimpin tawbat[an] nasûhâ. Bisa jadi bencana/krisis yang ada akibat kesalahan-kesalahan atau dosa yang telah dilakukan oleh Khalifah dan atau masyarakatnya. Khalifah menyerukan tobat. Meminta ampun kepada Allah agar bencana segera berlalu.

Keempat, kepada rakyatnya yang datang karena membutuhkan makanan, segera dipenuhi. Yang tidak dapat mendatangi Khalifah, bahan makanan diantar ke rumahnya, beberapa bulan sepanjang masa musibah.

Kelima, tatkala menghadapi situasi sulit, Khalifah Umar bin Khaththab meminta bantuan ke wilayah atau daerah bagian Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan.

Seperti Gubernur Mesir, Amru bin al-Ash mengirim seribu unta yang membawa tepung melalui jalan darat dan mengirim dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta mengirim lima ribu pakaian kepada Khalifah Umar.

Keenam, langkah-langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. ketika terjadi bencana adalah menghentikan sementara hukuman bagi pencuri. Hal ini dilakukan bukan karena mengabaikan hukum yang sudah pasti dalam Islam, namun lebih disebabkan karena syarat-syarat pemberlakuan hukum untuk pencuri tidak terpenuhi. Sudahkah pemimpin kita melakukan hal seperti yang Umar bin Khattab lakukan dalam menangani krisis?
Jika dilihat dari kemampuan keuangan negara hari ini, seandainya dilakukan kebijakan lockdown untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19 yang sudah meluas, kemampuan keuangan negara hari ini bisa dihitung sebagai berikut:

Jika jumlah penduduk Indonesia 275 juta orang dengan kebutuhan sekitar Rp30.000 sampai Rp50.000 per hari per orang, maka alokasi dana per hari dari keuangan negara sekitar Rp8,3 triliun sampai Rp13,75 triliun. Jika lockdown dilakukan dalam 14 hari, maka dana yang dibutuhkan dari kas keuangan negara sebesar Rp116,6 triliun sampai Rp192,5 triliun.

Hal itu belum termasuk perhitungan fakta bahwa ada angka jumlah individu rakyat yang kaya yang tidak membutuhkan pembiayaan tersebut. Dan juga belum memperhitungkan individu rakyat yang kaya yang turut membantu pemenuhan kebutuhan pokok rakyat di saat musibah. 

Alokasi perhitungan pendanaan kebutuhan pokok di saat lockdown yang kurang dari 200 triliun rupiah, sangat mampu di-cover oleh keuangan negara hari ini.
Pertama, penjelasan sekretaris menko perekonomian per 26 Maret 2020 bahwa telah diberikan stimulus untuk situasi pandemi covid-19 sebesar 158,2 triliun rupiah. Pertanyaannya, ke manakah alokasi dana tersebut?

Kedua, perhitungan alokasi anggaran untuk proyek-proyek mercusuar infrastruktur mencapai jumlah 430 triliun rupiah. Jika keuangan negara untuk memenuhi dasar rakyat di kala mereka sangat membutuhkan, sebetulnya tersedia, lalu alasan apa lagi yang membuat langkah itu tidak segera dilakukan?

Semua ini membukakan mata hati dan pikiran umat bahwa penguasa Negara Demokrasi memang tidak akan pernah tulus menyayangi rakyatnya. Konsep Format Negara Demokrasi gagal memunculkan sosok penguasa yang seperti itu.

Sosok penguasa yang benar-benar tulus menyayangi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya sejatinya hanya lahir dalam Peradaban Islam. Ketakwaanlah yang membentuk Khalifah menjadi sosok yang seperti itu.

Kesempurnaan aturan Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunah dalam mengatur politik dan ekonomi negara, membuat Khalifah tidak gamang dalam mengambil keputusan. Keunggulan sistem keuangan negara baitulmal tidak diragukan lagi dalam menyediakan pembiayaan negara.

Begitu pula keunggulan sistem politik Khilafah. Dengan kewenangan penuh Khalifah kala mengambil keputusan, terbukti efektif dan efisien menyelesaikan persoalan di masyarakat. Terutama dalam situasi extraordinary (kejadian luar biasa).
Allah mengingatkan umat manusia di muka bumi, “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS Ar Rum 41).[]

Oleh: Gusti Nurhizaziah

Posting Komentar

0 Komentar