TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

SOAL JAWAB MENYOAL PENERJEMAHAN BAHASA AL-QUR'AN DENGAN DIKSI KASAR "MAMPUS LUH"

PERTANYAAN

Mau tanya masyaikh, terjemahan surat 3: 119 dalam kalimat:

 قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ .....
diterjemahan selalu artinya , matilah dg kemarahanmu...

tetapi jika diterjemahkan dg bahasa betawi nampaknya lebih pantas...yaitu: "Mampus luh, dg kedengkian luh..."

Afwan, bagaimana nih yai...?

JAWABAN

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Kalimat: 

 قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ
"Matilah kamu karena kemarahanmu itu." 

Dalam ayat yang mulia ini:

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati." (QS. Ali 'Imran [3]: 119)

Sindiran yang mengajak mukhathabnya berpikir merenung seperti ini sepertinya tidak presisi diterjemahkan ke dalam bahasa daerah yang sangat kasar: "Mampus luh, dgn kedengkian luh", karena atsar yang ditimbulkan kepada mukhathab berbeda, padahal bahasa itu diungkapkan sebagai bahasa komunikasi (wasilat al-tafahum), menimbulkan pengaruh pada mukhathab baik tersurat maupun tersirat, dimaksudkan untuk mendapatkan respon balik dari mukhathab. 

Maka, kalimat kasar: "Mampus luh", itu lebih tepat sebagai makian yang sangat emosional, dalam manthiq, mengandung dilalah ghayr lafzhiyyah menggambarkan orang yang sangat emosi, marah, bermaksud menimbulkan kemarahan serupa pada mukhathabnya. Sedangkan bahasa al-Qur'an di atas, tidak menggambarkan hal tersebut kecuali sindiran yang memaksa mukhathab berpikir merenung, artinya berbeda, dan tidak sama.

Mengingat bahasa al-Qur'an, kalau pun ditemukan bahasa sindiran kepada mereka yang layak disindir, dicerca, maka sindiran tersebut menohok, namun tidak diungkapkan dengan bahasa rendahan (kasar, menunjukkan akhlak buruk, -). Pada saat yang sama, orang arab sendiri secara 'urfi memiliki ungkapan-ungkapan sarkas yang kasar, itu perlu didudukkan pada porsinya. 

Al-Qur'an, sebagaimana ditegaskan para ulama, datang dengan diksi yang agung, presisi pada setiap tempatnya, sarat dengan makna dan faidah serta pelajaran bagi umat manusia. 

Jika dalam ungkapan balaghi terdapat kaidah:

لكل مقام مقال
"Untuk setiap maqam (kedudukan) itu ada maqal (tutur kata) tertentu untuknya."

Maka lanjutannya memperjelas:

 ولكل مقال مقام
"Dan untuk setiap maqal itu ada maqamnya."

Maqal al-Qur'an, menunjukkan ketinggian maqamnya.

والله أعلم بالصواب

=========

Oleh Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Dosen Bahasa Arab :: Pemerhati Kajian Balaghah Al-Qur'an & Hadits Nabawi

Posting Komentar

0 Komentar