TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sistem Kesehatan Kapitalis Gagal Mengatasi Corona


Perancis, Italia dan Spanyol telah dianggap sebagai negara-negara maju yang memiliki sistem kesehatan terbaik di dunia termasuk juga Amerika. Namun seakan semuanya tidak berdaya dengan kehadiran wabah Covid-19 yang merebak hampir merata di seluruh dunia, kurang lebih 183 negara atau wilayah. WHO sebagai badan organisasi kesehatan dunia mengatakan pandemi yang terjadi sekarang telah membongkar bagaimana buruknya kondisi sistem kesehatan negara-negara di dunia selama ini.

Pandemi corona yang bermula dari Wuhan, China, ini kini telah tembus 1,7 juta lebih kasus dengan 103 ribu korban jiwa. Musibah ini termasuk pandemi yang paling mematikan tingkat dunia dari sisi tingkat penyebaran dan total kematian yang diatas 100rb jiwa dalam waktu yang singkat.


Covid-19 menunjukkan betapa rapuhnya sistem dan pelayanan kesehatan di dunia, hingga memaksa negara-negara mengambil pilihan yang sulit untuk kebaikan rakyatnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam keterangan tertulis di situs resmi WHO, Senin (30/3/2020). 

WHO melihat bagaimana covid-19 memporak-porandakan suatu negara karena sistem kesehatan yang tak memadai. Kebutuhan akan fasilitas medis meroket begitu tajam dalam hitungan hari, sementara sarana, prasarana hingga tenaganya sangat-sangat terbatas. Banyak negara kewalahan luar biasa dan memaksa keras sistem kesehatannya. Kondisi ini juga berakibat fatal ke para tenaga medis yang bertempur dan bertaruh nyawa melawan pandemi ini. 

Mereka bekerja dengan alat yang terbatas dan tidak bisa beroperasi dengan efektif.
Secara fakta wajar saja apabila sistem kesehatan kapitalis telah gagal melindungi rakyatnya. Hal ini  tidak lain dikarenakan sistem kesehatan kapitalis berdasarkan asas manfaat dan materi belaka. Salah satu kebijakan kapitalis adalah dengan mekanisme privatisasi atau swastanisasi yang dikatakan merupakan suatu revolusi global yang dimulai pada dekade 70 dan 80an (The Economist; 21 Agustus, 1993:9).
 
Berkaitan dengan privatisasi kesehatan, studi di Canada yang menunjukkan dampak negatif pada mereka yang bekerja dalam bidang tersebut (Stinson, et al, 2002). Selain itu terdapat studi perbandingan terhadap Thailand, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Studi ini menunjukkan bahwa penyediaan pelayanan (provision) dan pendanaan (financing) kesehatan yang didominasi oleh negara akan menghasilkan keadaan yang lebih baik dibandingkan oleh pihak swasta. Sebagaimana yang dinyatakan bahwa; 

“The privatization of healthcare provision that is going on will only further undermine the capacity and make future reforms even more difficult for these countries.”(Ramesh and Wu, 2008: 183, dalam Iwan G,S – “Privatisasi, Kapitalisme dan Negara Dalam Pelayanan Kesehatan”, 2010). 

Kapitalisme juga berpengaruh pada dokter dan seperti dikatakan oleh Starr (1982: 25), dengan adanya kapitalisme, dokter memperoleh monopoli dalam profesi kedokteran. Apalagi jika ketersediaan dokter – terutama dokter spesialis – sangat terbatas sehingga pasar kerja akan berpihak pada dokter. Profesi dokter dapat mengalami peningkatan dari penjual jasa menjadi kapitalis kecil, selain berpraktik para dokter juga memiliki saham dalam klinik dan rumah sakit. Proses industrialisasi dalam bidang kesehatan membuat dokter akan lebih banyak berpraktik dalam grup seperti dalam klinik (medical center di gedung perkantoran atau mal) dibandingkan dengan praktik di rumah. (Iwan, G.S, “Privatisasi, Kapitalisme dan Negara Dalam Pelayanan Kesehatan”, 2010)

Dalam "medical industrial complex," rumah sakit merupakan nukleusnya, sedangkan dalam rumah sakit, dokterlah yang menjadi nukleusnya. Kespesifikan, kecanggihan dan otoritas profesi dokter membuat mereka sulit tergantikan, dibandingkan dengan profesi profesi lainnya. Apalagi dokter spesialis (dan super spesialis) yang seringkali dibutuhkan dan terpaksa bekerja dibanyak tempat karena jumlahnya masih sangat langka. (Iwan, G.S, 2010)

Adapun pihak yang sulit untuk menikmati pelayanan kesehatan adalah orang-orang miskin. Walaupun adanya program sosial dan subsidi negara, namun hal tersebut tidak cukup untuk menutupi kebutuhan kesehatan orang-orang miskin, bahkan banyak yang menghindari untuk berobat dikarenakan ada tagihan-tagihan yang mungkin tidak sesuai dengan perkiraan (commonwealthfund.org, 2019). Suatu studi juga mengungkapkan bawah pendapatan seseorang akan berpengaruh kepada kesehatan dan kemiskinan (health policy brief, oktober 2018).

Keberadaan Covid-19 telah menunjukkan bagaimana kegagalan peran kesehatan dalam sistem kapitalis. Menyerahkan semuanya kepada swasta ternyata tidak memberikan solusi yang komprehensif, yang akhirnya negara kapital juga harus ikut turun tangan dalam mengatasi wabah. Terbukti bahwa mekanisme pasar bebas pada seluruh bidang termasuk bidang kesehatan akan mengalami kendala dan masalah yang akhirnya negara menjadi pemilik tanggung jawab penuh. Kapitalis telah keluar dari dogma ideologinya sendiri. 

Di Amerika sebagai negara pengemban mabda kapitalis terus bergerak dengan cepat untuk mengatasi krisis coronavirus. Kongres Amerika, Tanggal 19 Maret 2020, Senat Republikan merilis rancangan undang-undang baru — The Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security  (CARES) Act. Paket legislatif ketiga ini menyusul berlakunya Undang-Undang Respons Koronavirus Keluarga Pertama, yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Trump pada hari sebelumnya yaitu 18 Maret termasuk serta tagihan dana darurat $ 8,3 miliar yang harus ditandatangani. (healthaffairs.org)

Beberapa pandemi telah terjadi sepanjang sejarah dunia. Apabila kita meilhat pada tabel telah terjadi pandemi sepanjang waktu, namun menariknya ketika kekuasaan Islam masih ada, maka sebagian besar pandemi itu telah berhasil dilalui oleh Khilafah Islam. Bahkan sangat jarang terjadi di wilayah kekuasaan khilafah tersebut. Dapat kita bandingkan ketika kapitalis berperan di dunia saat ini, berulang kali harus menghadapi pandemi yang berbahaya dan tersebar di berbagai negara.


Note: Many of the death toll numbers listed above are best estimates based on available research. Some, such as the Plague of Justinian and Swine Flu, are subject to debate based on new evidence. https://www.visualcapitalist.com/history-of-pandemics-deadliest/

Para ahli sejarah pun mengakui, Kekhilafahan itu memang ada dan menjadi kekuatan politik real umat Islam. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, di belahan Barat Asia muncul kekuatan politik yang mempersatukan umat Islam dari Spanyol sampai al-Sind di bawah Kekhilafahan Bani Umayyah tahun (660-749 M), dilanjutkan Khalifah Abbasiyyah kurang lebih satu abad (750-870 M), serta Khilafah Utsmani sampai 1924M.

Adapun orang yang pertama kali menulis secara lengkap tentang pandemi adalah dari ilmuwan muslim. Ibnu Abi Hajalah (764-1362) dan Baha' ad-Din as-Subki (756-1355) dalam kitab Qasidah fi t-ta'un. Kemudian ada Ibn al-Wardi (749-1349), sebagai saksi pada wabah Black Death di Aleppo dalam kitab Risalat an-naba' 'an al-waba. Mereka semua telah meletakkan dasar-dasar bagaimana islam mengatasi pandemi. (Michael W. Dols , Plague in Early Islamic History, 1974)

Sepanjang abad ke-9 sampai ke-13 tetap dikenal sebagai "The Islamic Golden Age". Dalam sejarah kedokteran, kedokteran Islam, juga dikenal sebagai kedokteran Arab, sebagai acuan ilmu kedokteran saat ini. Dan masyarakat islam pada waktu itu telah menggunakan sumber daya budaya dan alam serta hubungan dagang untuk berkontribusi kuat untuk pengembangan farmasi dan obat-obatan. (Masic, et all, 2017) (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5723183/)

“The time interval from the 9th to the 13th century remained known as the “Golden period of the Arab science”, and a significant place among the taught sciences are occupied by Medicine and Pharmacy. In the history of medicine, Islamic medicine, also known as Arabic medicine, refers to the science of medicine developed in the Islamic Golden Age, and written in Arabic Arabs were able to use their cultural and natural resources and trade links to contribute to the strong development of pharmacy” (Masic, et all, 2017)

Perlu diketahui juga, pada masa Bani Umayyah kaum muslim sudah membangun rumah sakit pertama untuk para penderita kusta yang didirikan di Damaskus. Bahkan Baghdad sendiri pada masa Khalifah Harus ar-Rasyid, memiliki 60 buah rumah sakit, dengan desain canggih pada masa itu, ada apotek perpustakaan, ruang kuliah bagi mahasiswa kedokteran, bangsal terpisah bagi pria dan wanita dan berbagai fasilitas bagi pasien rawat jalan. Rumah sakit ini kemudian ditiru dan menjadi model rumah sakit yang ada di Eropa khususnya Itali dan Prancis. (Yans, S.P & Wahyu, I, Materi Dakwah Islam Kontemporer, 2016) 

Walhasil, semua keberhasilan tersebut tidak mungkin dapat terjadi tanpa peran negara. Dapat kita lihat bahwa negara sebagai pelindung, penjaga dan pelayan bagi rakyat merupakan konsep yang nyata di dalam islam bukan diserahkan kepada swasta atau konsep mekanisme pasar bebas pada sistem kapitalis. Negaralah yang bertanggungjawab secara penuh bagaimana mengurusi urusan rakyat termasuk dalam bidang kesehatan. Rasulullah bersabda “Pemimpin itu adalah junnah (perisai)”. Wallahu’alam.[]

Oleh : W.Irvandi

Posting Komentar

0 Komentar