TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sistem Islam vs Kapitalis Menghadapi Pandemi


Pandemi adalah suatu wabah penyakit global. Menurut World Health Organization (WHO), pandemi dinyatakan ketika penyakit baru menyebar di seluruh dunia melampaui batas.

Ada banyak contoh dalam sejarah, yang terbaru ada pandemi COVID-19. Pandemi yang mirip flu ini dinyatakan oleh WHO pada 12 Maret 2020.

Wabah penyakit yang masuk dalam kategori pandemi adalah penyakit menular dan memiliki garis infeksi berkelanjutan. Maka, jika ada kasus terjadi di beberapa negara lainnya selain negara asal, akan tetap digolongkan sebagai pandemic

Empat bulan berlalu, namun belum terlihat tanda-tanda wabah Covid-19 akan berakhir. Bahkan, kondisi dunia terus memburuk . Kasus virus corona COVID-19 di seluruh dunia terus bertambah. Hingga Kamis (9/4/2020) pukul 15.00 WIB, tercatat jumlah kasus COVID-19 mencapai 1.485.981 di seluruh dunia, menurut data dari Universitas Johns Hopkins.

Langkah pemerintah hari ini yang berubah-ubah rencana dalam menghadapi pandemi Covid-19, membuka topeng potret yang sebenarnya sosok penguasa dalam peradaban sekuler, Negara Demokrasi.
Sikap penguasa yang terlihat enggan menutup akses interaksi dengan Negara Cina sebagai negara sumber wabah, menutup akses dari dan ke Jakarta sebagai episentrum wabah di dalam negeri, menyiratkan kesan seakan penguasa lebih memilih kehilangan nyawa rakyatnya.

Andai langkah menutup akses manusia dari dan ke Negara Cina sebagai asal sumber wabah dilakukan sejak awal, maka niscaya penyebaran virus tidak akan meluas seperti hari ini.

Tiga pekan rakyat telah “dirumahkan”. Work from home, learning from home, majelis taklim online, dsb, masih mewarnai keseharian masyarakat. Wabah corona telah benar-benar membuat publik tak berkutik, sekuat tagar #DiRumahAja saat menjadi trending topic.

Namun demikian, hingga detik ini, rupanya pemerintah pusat masih enggan lockdown. Jelang fenomena tahunan mudik lebaran, ternyata mudik tak dilarang. Padahal sejumlah kasus pertama PDP positif corona di beberapa daerah, terjadi pada seorang warga perantauan yang pulang kampung dari ibu kota.

Lebih dari itu semua, ada satu hal yang harus kita sadari. Nampak ada sesuatu di balik “keengganan” lockdown oleh pemerintah pusat, yang kemudian sempat terwacanakan isu herd immunity, darurat sipil, pun ketika berdalih dengan penetapan PSSB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang berlaku 11 april ini.
Yang pada intinya pemerintah memang tidak ingin menanggung nafkah rakyat jika lockdown memang diberlakukan. Pemerintah hendak berlepas tangan. Padahal, hal itu adalah konsekuensi lockdown. Yakni kebutuhan ekonomi rakyat memang menjadi tanggungan pemerintah pusat.

Tapi sayangnya, hal ini hanya menimbulkan kisruh yang belum berujung solutif. Yang tak kalah runyam, adalah perdebatan tentang sumber dana untuk mengatasi wabah corona ini. Antara kas negara, donasi mandiri rakyat, hingga beragam stimulus ekonomi. Atau pilihan terakhir: Utang luar negeri.

Dan ternyata dugaan terkuat adalah utang luar negeri. Pasalnya, dilansir dari vivanews.com (04/04/2020), di tengah berbagai permasalahan dalam menanggulangi wabah corona ini, Indonesia “mendadak” dapat pujian dari lembaga kreditur utama dunia, IMF (Dana Moneter Internasional).

Kebijakan utang luar negeri kepada IMF dan Bank Dunia seolah mulus-mulus saja tanpa memperhatikan jeritan anak bangsa. Padahal sejumlah tokoh telah bersuara, agar apa pun yang terjadi, pemerintah jangan sampai berutang kepada IMF/Bank Dunia sebagai sumber dana untuk mengatasi corona. Di antara yang bersuara adalah pakar ekonomi Rizal Ramli, Forum Guru Besar FKUI, hingga Sekjen MUI Anwar Abbas.

Melihat kondisi negeri yang sedang mengalami pandemi corona, Pemerintah ‘ngotot’ tetap akan menjalankan rencana pemindahan ibu kota negara. Bukannya serius menanggulangi semakin bertambahnya warga yang positif Covid-19, malah tersibukkan  mencari investor baru untuk ibu kota negara (IKN).

Yang seharusnya menjadi focus utama adalah adanya upaya realokasi terhadap seluruh dan atau sebagian anggaran infrastruktur yang ada sekarang ini. Yaitu agar dialihkan pada kepentingan memutus mata rantai penyebaran virus corona.
Misalnya mengalihkan anggaran pemindahan ibu kota. Yang seluruhnya dan atau sebagian dana tersebut dipergunakan untuk menolong ekonomi rakyat dan memulihkan perekonomian nasional. Alih-alih tergerak, pemerintah malah tetap bergeming pada proyek ibu kota baru.

Sungguh, semua realitas ini makin menegaskan bahwa negara kita memang luar biasa kapitalistik. Seakan-akan tiada sedikit pun celah bagi kantong rakyat jelata untuk bernafas lega sejenak saja. Bahkan di tengah wabah sekali pun. 
Para pemimpin dalam sistem kapitalisme telah kehilangan kepekaan terhadap nilai kepedulian dan empati terhadap rakyatnya. Semua itu merupakan gaya hidup yang ada di tengah masyarakat dengan tata nilai rendah akibat kapitalisme. Inilah yang disebut dehumanisasi.

Rakyat butuh perlindungan atas nyawa dan kesehatan diri mereka, namun pemimpinnya malah mengalihkan urusannya pada masalah yang lain.

Penanganan Wabah dalam Islam
Patutlah kedua sabda Rasulullah ﷺ berikut ini kita renungkan:
وعن بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ
Dari Ibn Umar ra. Dari Nabi saw, beliau bersabda, “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian…” (HR Bukhari-Muslim).

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)
“Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah ra).

Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Peradaban Islam melalui tegaknya Khilafah mencatat sejarah emas pemerintahan yang menjiwai mandat dari kedua hadis di atas.

Dan yang pertama-tama harus diselesaikan di sini, tentu saja wabah corona itu sendiri. Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Pada saat itu, nampak jelas bahwa Islam telah lebih canggih dalam membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. Hal ini bahkan melampaui masyarakat modern saat ini.

Wabah di masa itu ialah kusta yang menular dan mematikan karena belum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda,
‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
“Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR al-Bukhari).

Abu Hurairah ra bahkan menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).
Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Mekanisme karantinanya yaitu dengan menempatkan penduduk yang terjangkit wabah, di lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk sehat. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Kemudian, solusi kedua yakni untuk problem ekonomi yang saat ini hampir di ambang resesi akibat wabah corona. 

Terkait hal ini, Rasulullah saw. pernah bersabda,
مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ
“Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak peduli kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan peduli kebutuhan dan kepentingannya (pada Hari Kiamat).” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Keteladanan kepemimpinan sebagaimana gambaran dalam hadis di atas, di antaranya terjadi ketika Umar bin Khaththab ra menjadi khalifah, amirul mukminin. Alih-alih melakukan utang luar negeri kepada negara-negara kafir kapitalis, pada peristiwa krisis ekonomi yang dikenal dengan Tahun Kelabu di Madinah saat itu, Khalifah Umar langsung bertindak cepat.

Saat itu kondisi keuangan baitulmal tidak mencukupi penanggulangan krisis. Khalifah Umar segera mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan. Khalifah Umar menghubungi gubernur Mesir, Syam, Irak, dan Persia.

Selanjutnya, semuanya mengirim bantuan untuk Khalifah. Hal ini menunjukkan kesigapan pemimpin kaum Muslim dalam  menyelesaikan krisis; ketika mendapati pemerintah pusat sudah tidak mampu lagi menutupi semua kebutuhan dalam rangka menyelesaikan krisis.

Di samping itu, para gubernur dengan semangat ukhuwah Islamiyah dan manajemen pemerintahan yang rapi serta saling menopang, langsung sigap menyiapkan dan memberikan bantuan dengan jumlah yang sangat banyak, bahkan berlebih.

Dengan kata lain, jumlah itu sangat cukup untuk menanggung ekonomi rakyat hingga mereka mampu bekerja sendiri mencari rezeki.

Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Peradaban Islam melalui tegaknya Khilafah mencatat sejarah emas pemerintahan yang menjiwai mandat dari kedua hadis di atas.

Semua ini membukakan mata hati dan pikiran umat bahwa penguasa Negara Demokrasi memang tidak akan pernah tulus menyayangi rakyatnya. Konsep Format Negara Demokrasi gagal memunculkan sosok penguasa yang seperti itu.

Wabah ini mrngingatkan kita akan firman firman Allah SWT,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS ar-Rum [30]: 41).

Semua kejahatan ini menegaskan bahwa para penguasa yang mengendalikan bangsa-bangsa di dunia adalah sebab penderitaan umat manusia. Benarlah apa yang difirmankan Allah yang Mahaperkasa,
فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلَاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ
“Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.” (TQS az-Zumar [39]: 51).[]

Oleh Melani
 

Posting Komentar

0 Komentar