TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sistem Islam Tangkal Kasus Kriminal


Remaja puteri idealnya menjadi sosok yang penyayang, sebagaimana fitrahnya seorang wanita yaitu penuh kasih sayang.  Jika sifat penyayang ini tidak terdapat pada seorang remaja puteri, tentunya ada sesuatu hal yang salah, baik dari sisi internal (keluarga) maupun eksternal (lingkungan sosial).

Sehubungan hal tersebut, sedang viral kasus pembunuhan berencana dan sadis yang dilakukan remaja puteri berusa 15 tahun terhadap seorang balita, yang notabenenya merupakan tetangganya sekaligus teman adiknya.

Peristiwa ini bermula pada 5 Maret 2020, sekitar pukul 16.00 WIB, ketika pelaku mengajak korban ke kamar mandi dengan dalih meminta tolong diambilkan mainan di dalam bak mandi.  Kepala korban (APA) ditenggelamkan pelaku (NF) ketika bocah itu berada di dalam bak sekitar lima menit.  Pelaku juga menyumpal mulut korban agar tak berteriak.  Setelah tubuh korban melemas lalu pelaku memasukkan tubuh korban ke ember dalam keadaan terikat.

Jenazah urung dibuang sore itu karena takut ketahuan warga, maka NF menyimpan jasad APA di dalam lemari.  Esoknya ia mengaku ke polisi.  Kini pihak RS Bhayangkara Tingkat I Raden Said Soekanto, Jakarta Timur, memeriksa kejiwaan pelaku.  Hasilnya belum diketahui.  “Pengakuan dari NF, dia melakukan dengan kesadaram dan terinspirasi oleh film,” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Heru Novianto Heru. 

Dugaan Kejiwaan NF Terganggu
Psikologis Klinis, Rahajeng Ikawahyu berpendapat terlalu dangkal kalau mengklaim film adalah pemicu pelaku nekat beraksi.  Jika betul film horor jadi pemicu, bisa dibayangkan ada berapa banyak pembunuhan yang bisa terjadi.  “Jadi perasaan puas tidak bisa dikaitkan begitu saja dengan menonton filmnya, “kata dia.

Menurut Rahajeng, yang harus dicari tahu adalah apa yang mempengaruhi pelaku hingga muncul hasrat ingin membunuh.  Yang pasti ada teori dasar berpikir, misalnya teori faktor genetik turunan, faktor lingkungan maupun faktor neurologis melalui pindai otak.

Rahajeng berpendapat hukuman ideal untuk kasus seperti NF di Indonesia belum ada.  Idealnya adalah program yang bisamemberikan pemahaman tentang moral, aturan dan kasih sayang.
Sementara Psikolog Anak, Anna Surti Ariani menjelaskan secara umum ihwal impulsivitas.  Semisal keluhan yang berujung pada tindak kekerasan, termasuk pembunuhan dan dilakukan tiba-tiba.  “Mungkin ada masalah dalam pengaturan dirinya terkait impulsivitas (kecederungan melakukan kekerasan atau intimidasi terhadap orang lain maupun binatang),” ujar dia.

Menurut Nina, terkait perkembangan mentla anak, menciptakan situsasi kekeluargaan dan kenyamanan menetap di rumah menjadi hal yang penting.  Anak yang tumbuh dalam keluarga yang penuh kehangatan, lanjut Nina maka tidak ada tempat bagi anak untuk mengekspresikan kekerasan.  (tirto.id.10/3/2020)

Sistem Islam Tangkal Kasus Kriminal
Kasus NF mengingatkan kita akan pentingnya ketahanan keluarga, utamanya peran seorang ibu sebagai ummu wa robatul bait (pengatur urusan rumah tangga), pendidik anak-anak serta berperan pula dalam sektor publik (memikirkan lingkungannya agar Islami, sehingga mendukung pola pendidikan yang diterapkan di keluarga).  Selain itu seorang ibu juga harus menyadari bahwa mencari nafkah baginya hukumnya mubah (boleh), selama tidak menghilangkan kewajibannya sebagai ummu wa robbatul bait.

Apalagi mendidik anak di era digitalisasi seperti saat ini, tentu tantangannya semakin besar.  Sehingga penting untuk diperhatikan adalah landasan berpikirnya haruslah akidah Islam, sehingga apa pun yang dipikirkannya selalu dikaitkan dengan akidah Islam.  Hal ini penting diterapkan dalam kurikulum pendidikan di sekolah.
Fungsi ibu  dan pola pendidikan di sekolah dapat berjalan sebagaimana mestinya, jika sistem yang dianut suatu negara yaitu sistem Islam., bukannya sistem kapitalis-sekuler seperti saat ini (memisahkan agama dari kehidupan).
  
Ingatlah firman Allah swt tentang keluarga dalam QS An Nisa : 19,” Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.  Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya”.

Dengan diterapkannya sistem Islam, secara otomatis para orang tua (ayah ibu) akan memiliki sinergi (kesamaan) dalam mendidik anak misalnya pada aspek (1) sama-sama visioner (menyiapkan anak tangguh zaman emas peradaban Islam), (2) ideologis (menyiapkan anak sebagai pejuang-pejuang Islam, memimpin umat, menegakkan kembali peradaban Islam), (3) menguasai konsep dan metode pendidikan (4) kreatif (5) memiliki kesabaran serta (6) pengorbanan yang tinggi.

Sistem Islam yang paripurna tersebut tentunya sangat dirindukan masyarakat, sehingga tidak ada lagi NF-NF lainnya.  Disisi lain, pemerintah tidak akan abai terhadap masyarakatnya, karena masyarakatnya telah memulai meningkatkan keluarga mereka masing-masing.  Semoga saja pemerintah tidak menutup hati dan pikiranya terhadap perubahan, dengan mengadopsi sistem Islam.  Wallahu’alam bishowab[].

Oleh: Ulfah Sari Sakti,S.Pi (Jurnalis Muslimah Kendari)

Posting Komentar

0 Komentar