TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Saya, Anda, Kita Semua Resah


"Anak-anak disuruh belajar di rumah, belajarnya udah ga sama gurunya. Eh tapi tetep disuruh bayar sekolah, buat gaji gurunya."

"Kuota yang beli kita sendiri, kita ga pakai fasilitas apa-apa dari kampus, tapi SPP masih disuruh bayar full."

Tanggapan-tanggapan di atas sering banget membanjiri telinga. Apalagi tanggal-tanggal muda yang sudah waktunya bayar sekolah. Keluh kesah datang dari wali murid yang kecewa karena masih tetap harus bayar sekolah ketika pembelajaran terpaksa tidak dilakukan di sekolah akibat pandemi Covid 19. Dan juga keluh kesah yang datang dari teman sebaya yang mengeluh akibat SPP kuliah tetap harus bayar penuh.

Ya bagaimana tidak, ketika pandemi Covid 19 ini semua aktivitas belajar mengajar yang awalnya di sekolah terpaksa harus beralih di rumah masing-masing. Akibatnya pun, orang tua harus rela merelakan waktu dan tenaga serta finansial guna menyelesaikan tugas-tugas dari pendidik yang sangat membutuhkan kuota, karena sistem belajar mengajar yang dilakukan adalah online. 

Begitu pula yang dialami mahasiswa. Yang "mbatin" karena SPP tetap bayar penuh, padahal kuliah online pakai kuota yang dibeli sendiri. Mengerjakan tugasnya juga pakai laptop sendiri. Mengerjakannya juga di rumah sendiri-sendiri.

Satu sisi tenaga pendidik tetap butuh untuk dibayar, satu sisi memang menjadi pertimbangan bagi orang tua ataupun mahasiswa yang tetap harus bayar penuh padahal tak banyak melibatkan peran tenaga pendidik. 

Baik dari sisi peserta didik maupun tenaga pendidik sama-sama dirugikan dalam situasi saat ini. Bagaimanapun menjadi berat ketika harus tetap membayar sekolah sedangkan pembelajaran yang dilakukan sangat memerlukan kuota. Yang untuk mendapatkan kuota itu juga perlu uang. Apalagi terdapat faktor lain misalnya kekurangan dalam faktor ekonomi. Itu sungguh memberatkan.

Sedangkan bagi tenaga pendidik pun juga sama beratnya. Ketika gaji merupakan hak mereka. Apalagi nasib staf dan karyawan yang sangat menggantungkan kebutuhan hidupnya pada gaji bulanannya.

Lantas Mengapa Jadi Seperti Ini?

Kasus Covid 19 ini memang berimbas dalam banyak aspek. Salah satunya pendidikan. Setelah meningkatnya kasus positif Covid 19 di Indonesia, pemerintah resmi meliburkan seluruh jenjang pendidikan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Proses belajar pun akhirnya dilakukan via online.

Seperti fakta yang sudah-sudah, kini gagapnya pemerintah dalam menghadapi kasus Covid 19 tampak juga pada pendidikan. Banyak persoalan terjadi ketika KBM dilimpahkan ke orang tua misalnya banyak orang tua yang mengeluh karena masalah biaya, masalah kuota, masalah tugas yang dibebankan oleh guru begitu banyak sehingga rata-rata orang tua tidak siap dengan kondisi yang seperti ini. Belum lagi bagi keluarga dengan ekonomi kelas menengah kebawah yang mungkin saja memiliki banyak anak tetapi handphone cuma 1 atau malah bingung karena handphone yang dipakai masih tidak terlalu canggih.

Begitupula kebingungan yang terjadi pada pendidik. Ketika para orang tua marah-marahnya ke pendidik, kritiknya ke pendidik padahal pendidik juga dituntut oleh dinas pendidikan sendiri. 

Jadi makin jelas kalau pemerintah itu doyan memberikan solusi yang tidak solutif. Bahkan cenderung abai dan lepas tanggung jawab. Justru antar masyarakatnya yang dibuat ribut. Ya contohnya yang terjadi pada pendidik dan orang tua peserta didik saat ini.

Sebab para peserta didik tidak diberikan hak oleh negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak meskipun dalam kondisi pandemi saat ini. Dan para pendidik pun sama tidak diberikan hak yang layak oleh negara padahal telah bersusah payah memberikan ilmunya. Serta tidak diberikannya hak pada orang tua ketika orang tua masih harus memikirkan soal biaya di tengah kondisi pandemi yang seharusnya urusan kebutuhan dasar itu jadi tanggung jawab pemerintah.
 
Ya karena pada dasarnya selama sistem Kapitalisme Sekuler masih tetap ada di negeri ini, selama itu pula kepentingan rakyat yang utama hanyalah fatamorgana. Kepentingan pemilik modal di atas segalanya.

Ketika Islam Harusnya Jadi Solusi

Sebelum kasus Pandemi inipun, kita semua tahu bahwa pendidikan kita saat ini masih banyak sekali permasalahan. Baik dari segi kurikulum, input dan output peserta didik, kesejahteraan guru dan masih banyak lagi. Harusnya semakin menyadarkan kita bahwa saatnya mencari solusi lain atas segala permasalahan yang ada termasuk permasalahan pendidikan.

Di dalam Islam tak perlu kita meragukan bagaimana seorang guru kedudukannya begitu mulia di sisi Allah. Sebab guru adalah sosok yang dikaruniakan ilmu oleh Allah yang dengan ilmunya menjadi perantara manusia lain untuk mendapatkan kebaikan dunia maupun akhirat. Sejarah mencatat bahwa guru dalam penerapan sistem Islam di bawah naungan Khilafah mendapat penghargaan yang tinggi dari negara termasuk pemberian gaji yang melebihi kebutuhannya.

Sedangkan setiap siswa dalam Khilafah menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar. Kehidupan setiap siswanya pun dijamin sepenuhnya oleh negara.

Bahkan di tengah wabah seperti ini, dalam masa khilafah diterapkan lockdown dan semua kebutuhan umat adalah tanggung jawab Khalifah. Kalau sistemnya udah pakai Islam begini mana ada yang mengeluh ? Sudah dipastikan tidak ada yang mengeluh termasuk saya, anda, dan kita semua. Wallahualam.[]

Oleh : Anggraini Putri Mahardita

Posting Komentar

0 Komentar