TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Potong Tangan: Sanksi Pidana Mencuri yang Menjerakan


Beban masyarakat semenjak terjadi wabah corona semakin berat, khususnya di bidang perekomian, baik untuk tingkat negara maupun rumah tangga. Banyak istilah plesetan terkait hal ini, PDP dan ODP. Plesetannya adalah "PDP mengakibatkan terjadinya ODP". PDP itu bukan Pasien Dalam Pengawasan tapi Pasti Dadi Pengangguran. ODP bukan Orang Dalam Pengawasan tetapi ODP itu Ora Duwe Penghasilan. Bila negara tidak berhasil hadir dan rakyat tidak kuat keimanannya, maka yang diprediksikan akan marak adalah kejahatan berupa pencurian dengan berbagai modus operandi, yakni merampok, menjambret, membegal, mengutil, mencopet, membegal, korupsi dan lain-lain yang hakikatnya adalah mengambil barang yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain secara melawan hukum.

Negara belum bisa sepenuhnya mengatasi keadaan PDP dan ODP, beban masyarakat bertambang khususnya dari sisi keamanan dengan adanya program pembebasan narapidana asimilasi dan integrasi yang jumlahnya mencapai sekitar 35.000 napi. Di berbagai media dikabarkan kejahatan "pencurian" makin tinggi, beberapa di antaranya dilakukan oleh para napi tersebut. Mengapa sebagian dari mereka tetap melakukan dan atau mengulang kejahatannya, khususnya pencurian tersebut. Atau dengan kata lain mengapa mereka tidak jera dipenjara? Pencurian dari "zaman baheula" telah terjadi dan Islam hadir mencoba memberikan jawaban atas berbagai macam problematik keadaan ini.

Rasulullag Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa mencuri barang orang lain termasuk dosa besar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa iman seseorang hilang ketika dia sedang mencuri. Dalam hadits yang shahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَالتَّوْبَةُ مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ»

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Namun taubat terbuka setelah itu”. [HR. Bukhari, no. 6810; Muslim, no. (57)-104]

POTONG TANGAN BAGI PENCURI

Karena kerusakan yang ditimbulkan oleh pencurian, maka dengan hikmah-Nya Allâh Azza wa Jalla mensyari’atkan hukum potong tangan bagi pelakunya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٣٨﴾ فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allâh. Dan Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allâh menerima taubatnya. Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Mâidah/5:38-39]

Ibnu Syihab rahimahullah berkata:

Allâh menyiksa dengan potong tangan dalam pencurian harta manusia, dan Allâh Maha Perkasa di dalam membalas pencuri, dan Maha Bijaksana di dalam hukum yang telah Dia wajibkan, yang berupa potong tangan pencuri. [Al-Kabâir, Imam Dzahabi rahimahullah]

NISHAB POTONG TANGAN

Tidak semua jenis pencurian dihukum dengan potong tangan. Syarat hukum potong tangan dalam pencurian sbb:

1. Hukum ini berlaku bagi pencuri yang mukallaf (dewasa dan berakal).
2. Berniat untuk mencuri, tidak terpaksa dalam mencuri.
3. Mencuri dari tempat penyimpanan. . Pencurian dilakukan dari tempat /penyimpanan yang terjaga. Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,”Mereka sepakat bahwa potong tangan diberlakukan kepada orang yang mencuri dari tempat penyimpanan.”Yang dimaksud tempat penyimpanan/yang terjaga di sini adalah tempat penunjang yang dapat menjaga harta yang dimaksudkan dengan aman; misalnya rumah yang terkunci, lemari, atau toko yang ditutup dan semisalnya.
4. Harta yang dicuri adalah harta yang terhormat (bukan yang haram dimiliki, seperti anjing, alat musik, dan semacamnya),  
5. Kondisi ekonomi negara baik ( cukup lapangan kerja). Pada masa Khalifah Umar hukuman ini tidak diterapkan.
6. Keputusan hakim berdasarkan bukti dua orang saksi laki-laki atau dengan cara pengakuan dari si pelaku. Jadi harus melalui proses peradilan (due process of law), tidak boleh eigenrichting (main hakim sendiri).
7. Barang yang dicuri mencapai nishâbnya.

Nishâb (batasan minimal) dalam masalah pencurian, yaitu tiga dirham atau seperempat dinar atau yang senilai dengannya. Satu dinar setara dengan 4,25 gram emas.

عَنْ عَائِشَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلَّا فِي رُبْعِ دِينَارٍ فَصَاعِدًا»

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, ”Tidak dipotong tangan pencuri terkecuali pada seperempat dinar atau lebih”. [HR. Muslim, no. 1684; Nasai, no. 4936; Ibnu Hibban, no. 4464]

Adakah negara yang menerapkan potong tangan untuk menghukum pencuri? Belum ada. Hanya yang menerapkan hukum Alloh. Maka di sinilah secara kajian teoretik munculnya prinsip wajibnya mengangkat KHALIFAH untuk menerapkan hukum Alloh. Bila hukum Alloh di jalankan maka, rahmat Alloh akan hadir.

Itulah hukum Islam yang sangat adil, tidak semena-mena negara menerapkan hukum. Ada beberapa kisah yg menunjukkan hal itu sebagai:

Mesir ditaklukan Umar bin Khatab melalui Amr bin Ash. Patung Isa hidungnya terpotong. Diinvestigasi ternyata seorang muslim dan dituduh penistaan agama. Hakim memutus supaya dipotong hidungnya. Namun orang Nasrani memaafkan. Di sini keadilan hukum Islam ditegakkan. Masih di zaman Amr bin Ash, ada kisah seorang Yahudi yg digusur rumahnya. Oleh Amr bin Ash dipaksa harus mau dipindah sedang Umar bin Khatab melalui pesannya kepada orang Yahudi tersebut untuk berbuat adil dgn hukum yg lurus. Pesan itu dituangkan hanya dengan garis dengan pedang di atas tulang onta. Di sini kita lihat penguasa Islam tidak boleh berbuat dholim kepada non muslim sekalipun. Rahmat Alloh akan turun.

Alloh Maha Bijaksana dalam menurunkan hukumnya. Hukuman Alloh terhadap pencuri justru akan membawa hikmah. Tingkat pencurian akan menurun. 

TERHINDARNYA PENCURI DARI POTONG TANGAN

Seorang pencuri yang dimaafkan oleh orang yang dicurinya dan belum sampai diangkat perkara/diajukan ke hakim, maka hal ini dapat menghindarkan si pencuri dari hukuman potong tangan.

Akhirnya, apa yang dibutuhkan manusia adalah apa yang telah ditetapkan oleh Dzat yang telah menciptakan mereka. Karena tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum-Nya. Dan dalam melaksanakan konsekuensi ini, seorang seharusnya tidak hanya mengedepankan pikiran pendeknya dan perasaan yang bukan pada tempatnya. Tetapi lebih mengedepankan kepastian hasil yang akan didapat bila benar-benar dijalankan sesuai dengan prosedur dan tata cara yang diatur dalam agama ini. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.” [al-Baqarah/2/216]

TAUBAT PENCURI

Mencuri adalah dosa besar, maka kewajiban pencuri untuk bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dan juga wajib mengembalikan barang curiannya. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Para Ulama berkata bahwa taubat pencuri tidak bermanfaat kecuali dengan mengembalikan barang yang telah dia curi.  Jika pencuri itu bangkrut (tidak memiliki uang dan barang), dia meminta halal kepada pemilik harta, wallahu a’lam.

Allah Ta’ala berfirman:

( وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ) آل عمران: 135, 136.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.  Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imron: 135-136.)

Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar: “Firman-Nya: ‘Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’ Yakni mereka bertaubat dari dosanya dan kembali kepada Allah dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kemaksiatan dan senantiasa melepaskannya. Meskipun dosanya terulang dan mereka bertaubat (kembali).’ Tafsir Ibnu Katsir, 1/408.

Hukum Alloh adalah hukum yang terbaik. Kita mengakui dan meyakininya. Ketika ditanya, hukum mana yang lebih baik antara hukum Alloh dan hukum ciptaan manusia? Hampir semua manusia akan menjawab, hukum Alloh. Mengapa, karena hukum Alloh itu juga hukum yang diciptakan Alloh untuk mengatur kehidupan ciptaan-Nya. Jadi secara nalar, tidak mungkin hukum ciptaan Alloh itu "keliru" dan tidak "pas" untuk mengatur kehidupan umat manusia. Lalu, mengapa hanya sebagian kecil hukum Alloh itu diterapkan untuk mengatur kehidupan umat manusia? Sebagian besar hukum manusia diciptakan oleh manusia yang penuh dengan ambisi keserakahan. Atau bahkan hukum Alloh itu ditetapkan menunggu persetujuan yang mulia pihak legislatif (Presiden dan DPR) dan pelaksanaannya pun secara prasmanan.

Penerapan hukum Alloh secara prasmanan, khususnya dalam hal pencurian berakibat efek penjeraan tidak terjadi. Berdasarkan Pasal 362 KUHP, pencurian sebanyak apa pun hanya diganjar hukuman penjara paling lama 5 tahun. Itu pun belum lagi terhitung pemberian remisi dan apalagi dengan alasan pandemo corona ini ribuan napi dibebaskan dalan program asimilasi dan integrasi. Keterbatasan negara mengatasi kejahatan pencurian justru berakibat makin memburuknya penegakan hukum. Vandalisme, eigenrichting (main hakim sendiri) masih sering terjadi. Tentu kita tidak ingin peristiwa ini terjadi karena seolah hal ini menunjukkan kehadiaran negara sudah tidak sesuai dengan harapan lagi. 

Ditulis kembali Prof. Dr. Suteki S. H. M. Hum
Pakar Hukum dan Masyarakat

Posting Komentar

0 Komentar