TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Persaksian Atas Kinerja Kabinet, Perlukah?


Selama berada di lingkaran istana, Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto mengaku telah melihat kinerja Presiden Joko Widodo dalam memimpin bangsa. Prabowo mengatakan bahwa selama ia menjadi anggota kabinet Jokowi, ia bersaksi bahwa Presiden Jokowi terus berjuang demi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. 
     
Prabowo yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan di Kabinet Indonesia Maju ini berpandangan, kebijakan yang diambil Presiden Jokowi di perioide kedua tak mengenyampingkan rakyat. Prabowo juga menegaskan cara-cara pengambilan keputusan oleh Presiden Jokowi dan selalu menjadi dasar pemikirannya adalah keselamatan rakyat paling miskin dan paling lemah. 
     
Tak hanya itu, Prabowo juga melihat komitmen Jokowi untuk membersihkan pemerintahan dari perilaku korupsi. Oleh karenanya, sebagai pimpinan tertinggi Gerindra, ia mengaku berterima kasih kepada seluruh pendukungnya yang sudah memberi kepercayaan untuk bergabung ke dalam pemerintahan 2019-2024. Prabowo juga meminta dukungan agar percaya kepada pemimpin hari ini yang tidak mungkin akan mengambil keputusan yang merugikan partai, rakyat, bangsa dan negara. (gelora.co.id. 21/04/2020) 
     
Untuk menguatkan kepercayaan terhadap sesuatu, kesaksian adalah perkara yang penting untuk diucapkan.  Kesaksian dengan kata lain adalah sumpah tidak boleh diucapkan main-main hanya sekedar untuk meyakinkan orang lain tanpa memberikan bukti yang jelas dan fakta yang benar. Dan terkait dengan persaksian yang disampaikan oleh Prabowo tersebut, apakah adalah keperluannya? Jika iya,  keperluan siapa? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sangat diperlukan analisis agar tidak salah dalam memahami kesaksian  apalagi sampai bersaksi palsu/salah.
     
Pertama,  jika melihat posisi Prabowo dalam susunan kabinet jilid II Jokowi tentu sangat mengherankan apabila Prabowo tidak mendukung apa yang dilakukan oleh pemerintah. Jadi, bukan hal yang aneh bila pejabat di jajaran pemerintahan saling support dan membela. Terlebih posisi seorang Menteri yang diberikan mandat oleh Presiden. Sanjungan, pujian, pembelaan akan terus diberikan sebagai bentuk kesetiaan dan yang tidak kalah penting adalah mengamankan posisi jabatan masing-masing.
 
     Kedua, meskipun sebelumnya Prabowo adalah rival dari Presiden Jokowi dalam dua kali putaran Pemilu, ternyata bisa bergandeng tangan dan berkoalisi satu sama lain. Padahal,  partai Prabowo, Gerindra di awal kabinet Jilid I Jokowi adalah partai oposisi. Kini, koalisi menjadi pilihan dengan berbagai alasan pertimbangan. Hasilnya, kinerja Presiden Jokowi dan kabinetnya dianggap oleh Prabowo sebagai kerja yang layak diapresiasi. 
    
Ketiga, apakah Prabowo tidak melihat kebijakan rezim Jokowi yang selalu berpihak pada investor alias kapitalis Global khususnya China?  Tentu sangat tahu. Namun itulah bukti nyata bahwa politik demokrasi kapitalis hanya ada satu yang abadi, yaitu kepentingan. Ketika kepentingan masing-masing pihak elit partai terpenuhi, maka kesaksian-kesaksian dusta pun tidak akan sulit diucapkan. Betulkah Prabowo tidak tahu kalau rezim dan sistem ini sebenarnya menindas rakyat?  Pasti ia tahu. Lalu untuk apa bersaksi mengatakan pemerintah peduli pada rakyat miskin dan juga negara ini? 

Sungguh sangat menyakitkan apa yang diucapkan oleh Prabowo. Kesaksiannya seakan-akan tersirat agar rakyat berhenti mengkritik pemerintah, menerima pemerintahan yang ada dan berbaik sangka terhadap segala kebijakan rezim. Ia lupa bahwa sebenarnya pendukungnya saja sudah banyak mundur teratur meninggalkankannya. Wibawa seorang Jenderal yang dulunya mengaum kini berubah jadi mengeong kepada keadaan. 
     
Tetapi begitulah wajah asli politik demokrasi kapitalis yang terus memberikan kekuasaan pada mereka yang memiliki modal banyak dan bisa tunduk. Kejujuran, kebenaran dan kepedulian hanyalah pidato palsu. Dan kesaksian-kesaksian mereka juga hanya dusta yang jauh dari realita. Seantero Republik ini sudah jelas menyaksikan bahwa bangsa Indonesia kini menuju pada kehancuran. Rezim dan sistem kapitalisme yang memimpin negeri ini pelan-pelan membawa ke jurang. Lalu, apa perlunya bersaksi seperti kesaksian Prabowo? 

     Sebagai seorang muslim, seharusnya ia memahami bahwa jika yang dimaksud dengan persaksian tersebut adalah sebagai ajang meyakinkan rakyat bahwa pemerintahan Jokowi dan kebijakan yang diambil adalah demi kebaikan, jika itu benar, maka tidak ada salahnya dengan kesaksian. Tetapi jika yang disampaikan adalah ucapan yang bertentangan dengan realita, maka sama halnya dengan dusta. Dan jelas, bagi seorang muslim perkara dusta adalah dosa besar dan terkategori perbuatan nifaq yang pelakunya disebut munafik. 

     Jika dipandang dari kacamata hukum Islam tentang perkara bersaksi, maka ada dua perkara yang harus diperhatikan.  Pertama,  jika yang ingin diberikan kesaksian adalah sesuatu yang berkaitan dengan hak-hak manusia seperti harta, pernikahan, jual-beli, akad (pengaturan-pengaturan), memerlukan adanya dakwaan terlebih dahulu dan juga lembaga peradilan. Nah, Prabowo sedang bersaksi tentang kebijakan dan pengaruh pemerintah terhadap rakyat. Maka seharusnya dalam kesaksian Prabowo tersebut diucapkan dalam sidang pengadilan.  Tetapi faktanya  penguasa yang sedang diberi persaksian oleh Prabowo tidak sedang diadili. Artinya, kesaksian Prabowo tersebut unfaedah. 

Kedua, jika kesaksian kesaksian yang menyangkut hak-hak anak manusia yang sifatnya tidak tertentu seperti wakaf dan wasiat bagi fakir miskin, jalanan yang diperuntukkan untuk warga,  hak-hak Allah, hudud, dan zakat,  maka tidak perlu ada dakwaan. 

Boleh saja seseorang mengatakan bersaksi jika mendapati perbuatan langsung yang dilakukan seseorang terkait pelanggaran hak-hak tersebut.  Hal ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar dan para sahabat memberikan kesaksian atas Mughirah. Demikian juga Dzarud dan Abu Hurairah memberikan kesaksian atas Qudamah bin Mazum dalam kasus minum khamr. Kedua contoh kasus tersebut tidak harus didahului dakwaan. 

     Dari sini jelas, bahwa maksud/makna dari kesaksian seseorang adalah dalam rangka menyampaikan kebenaran. Apakah Prabowo menyampaikan kesaksian dengan fakta sebenarnya? Hakikat kesaksian adalah menyampaikan berita yang benar dan meyakinkan bahwa yang disampaikan adalah jujur. Kesaksian disyariatkan untuk menampakkan kebenaran bukan menutupi kesalahan apalagi kebohongan. 

     Seseorang akan memahami aturan persaksian dengan benar menurut keyakinannya sebagai seorang muslim jika ia betul-betul menjalankan perintah agamanya dan diterapkan secara sempurna dalam kehidupan bermasyarakat. Jika hal tersebut belum terwujud, maka ia akan berupaya sungguh-sungguh agar syariah Islam tersebut diterapkan sebagai konsekuensi keimanannya. 

     Dengan diterapkannya syariah Islam, seseorang akan sangat berhati-hati dalam berucap terlebih saat diminta bersaksi. Ia tidak akan mampu untuk mengucapkan kebohongan dan menutupi kebenaran. Sebab, kesaksian yang akan diucapkan adalah bentuk pertanggungjawaban kelak dihadapan Allah SWT. Wallahu a'lam bissawab.[]

Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen Dan Pengamat Politik
     

Posting Komentar

0 Komentar