TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

PERAN NEGARA HILANG, HILANG JUGA KEPERCAYAAN RAKYAT



Aktivitas eknonomi, merupakan aktivitas yang sangat penting. Namun aktivitas pendukung lainnya juga sangat penting apalagi di tengah-tengah kondisi saat ini. Bidang kesehatan, pendidikan termasuk keamanan dalam suatu negeri adalah perkara yang dhorury. Namun saat ini peran untuk melaksanakan berbagai aktivitas-aktivitas publik tersebut telah hilang dilakukan oleh negara, akibatnya kondisi masyarakat juga menjadi tidak stabil.

Kita bisa lihat bagaimana sebagian warga menolak pemakaman jenazah Covid-19, bahkan korban yang meninggal tersebut merupakan tenaga medis yang saat ini melakukan pekerjaannya di garis terdepan di daerah Semarang. (Kompas.com). Di tempat lain kejadian serupa juga dialami oleh para petugas medis, dokter dan perawat di usir dari sebuah Kos di salah daerah di Jakarta Timur. (liputan6.com). Tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain juga akan mengalami hal yang sama.

Kenapa peristiwa ini bisa terjadi? Kenapa masyarakat justru mementingkan diri sendiri tanpa perduli dengan kondisi saat ini. Bahkan himbauan dan dorongan pemerintah untuk berjuang bersama dianggap sebagai angin lalu. Beberapa kemungkinan bisa terjadi karena masyarakat khawatir akan tertular, minimnya informasi akurat dan edukasi yang sampai ke masyarakat. Ditambah lagi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga semakin turun apalagi melihat sepak terjang pemerintah saat ini yang seakan-akan tidak terbuka dengan kondisi yang terjadi.

Ini adalah sebagian contoh bagaimana negara telah lalai dalam mengurusi urusan masyarakat, karena menyerahkan kepada rakyat untuk megurus dirinya masing-masing akibat mengadopsi sistem sekulerisme. Sistem sekuler secara ringkas adalah menyerahkan segala urusan kepada rakyat atau swasta untuk terjun kepada mekanisme pasar bebeas dan menghilangkan fungsi dan peran negara sebagai penanggungjawab terhadap kehidupan publik.

Seharusnya sebagai pemimpin atau penguasa sebagai pemangku jabatan tertinggi, harus memperhatikan komunikasi publik dengan baik dan benar. Tetapi yang lebih penting lagi adalah kejujuran. Bahkan inilah pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw saat diangkat menjadi nabi, beliau bersabda “wahai manusia, sesungguhnya pemimpin tidak akan membohongi rakyatnya” (Lihat ibn atsir, al-kamil fi tarikh).

Sebab jika seorang pemimpin berbohong sekali, maka dia akan terus menutupi kebohongannya terus menerus, hingga tidak ada yang bisa dipercaya. Jika sudah begitu, maka kepercayaan rakyat kepadanya akan runtuh. Belum lagi jika pemimpin tersebut lalai dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya kepada rakyat, tidak peduli dengan kodisi masyarakat maka semakin bertambah hilang kepercayaan masyarakat kepadanya walaupun berbagai survey pesanan bisa berbeda.

Ketika fakta citra yang ditampilkan seseorang berbeda, berarti dia berdusta. Ini juga tidak boleh. Komunikasi yang benar dan baik adalah komunikasi yang jujur apa adanya. Namun kejujuran tersebut tidak sekedar secara ucapan namun juga termasuk didalamnya tulisan dan tindakan, bahkan isyarat pun harus dengan kejujuran.

Nabi Muhammad saw telah mencontohkan termasuk Khulafaurrasyidin setelahnya. Mereka mampu menyatukan berbagai macam suku dan bangsa sebagai masyarakat yang saling percaya dan membangun kesatuan. Setelah menaklukkan berbagai bangsa yang heterogen seperti bangsa arab, romawi, syam dan sebagainya. Baik yang dipenuhi budaya paganisme seperti persia dan yunani atau yang barbar sekalipun seperti Mongolia. 

Namun semuanya dapat diintegrasikan menjadi darul islam (baca: negara islam).
Integrasi sosial atau penyatuan sosial ini tidka bisa dilepaskan dari peran pemimpin dan masyarakat dalam islam. Hafidz Abdurrahman (2017) juga menyebutkan paling tidak ada empat faktor yang mempengaruhi : (1) perintah islam, (2) pembauran kaum muslim yang melakukan penaklukan dengan bangsa-bangsa yang dibebaskan di tempat tinggal mereka dan di tengah kehidupan mereka, (3) penduduk negeri yang ditaklukkan memeluk islam dan (4) perubahan yang terjadi pada mereka yang telah memeluk islam dan transformasi mereka dari satu keadaan ke keadaan lain.

Poin pertama terkait perintah islam, islam mengharuskan pemeluknya untuk menyeru dan mengemban dakwah islam. Termasuk memberikan kebebasan untuk memeluk agama islam atau tidak namun tetap tunfuk kepada hukum-hukum islam dalam urusan muamalah dan uqubat. Sebagaimana hari ini juga masyarakat beragama apapun akan tunduk pada aturan suatu negara.

Islam juga memerintahkan tanpa membeda-bedakan terkait pelayanan dan jaminan kehidupan. Tanpa melihat agama, kedudukan dan kekayaan seseorang. 

Dalam aspek hukum juga tidak pilih kasih. Allah swt berfirman : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (TQS. Al-Maidah [5] : 8). Oleh karena itu seluruh komponen masyarakat akan sama kedudukannya dalam hal pelayanan dan hukum.

Adapun faktir kedua yaitu interaksi kaum muslim sebagai penakluk dengan penduduk yang ditaklukkan adalah faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap masuknya mereka ke dalam islam dan terintegrasi dengan seluruh kaum muslim. Sebab umat islam akan mengajarkan islam kepada penduduknya serta membina merekadengan tsaqofah islam. 

Hidup bertetangga dan berdampingan serta bersama-sama menjaga keutuhan negara tempat tinggal mereka. Setelah mendapatkan jaminan penuh dari negara tentu saja sikap saling empati kepada masyarakat akan tumbuh, mereka akan saling tolong-menolong dalam kehidupan.
Sedangkan faktor yang ketiga, yaitu penduduk yang beragama lain memeluk islam, karena mereka melihat sesuatu yang berbeda dibandingkan kehidupan sebelumnya. Mereka akan kenal pemimpin yang akan melayani kepentingan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. 

Tidak perlu dibuktikan lagi, berbagai pernyataan para sejahrawan sudah mengungkapkan hal tersebut.
"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka" (Wil Durrant, The Story of Civilization, 1935–1975)

Adapun faktor keempat, yaitu adanya perubahan yang terjadi pada diri mereka yang telah memeluk islam, tampak karena islam telah mengangkat akal mereka pada posisi yang tinggi dan mewujudkan akidah islam sebagai standar kehidupan. Dengan standar islam pula pemimpin dan masyarakat bersama-sama menjaga keutuhan negara. Saling percaya dan tolong-menolong karena masing-masing sudah melaksanakan kewajibannya dan menerima haknya sesuai dengan posisinya.

Dalam menghadapi wabah Islam memberikan tanggungjawab kepada negara, memberikan peran kepada media dan tokoh umat untuk menjelaskan hakikat wabah sehingga masyarakat menyikapi dengan tepat dan mendukung penanganannya. Masyarakat juga akan merasakan ketenangan karena kehidupan dan pelayanan kepada mereka dijamin. Bahkan masyarakat akan siap berkorban baik harta maupun jiwanya untuk menjaga negeri dimana tempat mereka tinggal. Dan ini akan terwujud ketika islam berperan aktif dalam mengatur kehidupan manusia. Wallahu’alam.[]

Oleh : W.Irvandi

Posting Komentar

0 Komentar