TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Penguasa Pikirkan Untung Rugi atas Nyawa Rakyat, Patutkah?

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kembali terdengar kabar duka yang menyelimuti kita di tengah-tengah perang melawan corona, para pahlawan garda terdepan yang senantiasa sigap memerangi corona, kini mulai gugur satu per satu menemui Rabbnya. Semoga amal bakti mereka diberi hadiah istimewa dari sang Pemiliki Nyawa. Yang ditangan-Nya lah hidup dan matinya seseorang. 

Hingga kini, tercatat belasan tenaga medis yang meninggal akibat terinfeksi corona. Keluh kesah para dokter dan tenaga medis lainnya pun akhirnya mencuat di berbagai media sosial untuk mendapat bantuan dan dukungan penuh untuk senantiasa tetap bertahan. Hal yang sangat mengiris hati adalah mereka harus selalu siap bertempur tanpa peralatan perang yang lengkap. Ibarat perang dengan misi bunuh diri. Begitulah hari-hari yang dirasakan para pahlawan medis tersebut.

Kekurangan Alat Perlindungan Diri (APD) adalah hal yang mendorong para tenaga medis berkata demikian. Mereka adalah orang-orang yang paling beresiko terpapar virus covid-19 ini. sebab, mereka melakukan kontak langsung dengan pasien yang terkena virus ini. Mereka sangat membutuhkan APD seperti masker, sarung tangan, desinfektan, alkohol, baju antivirus dan lainnya. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan tenaga medis membuat tenaga medis rentan terpapar. Sehingga, banyak tenaga medis yang berguguran menjadi korban covid-19 ini. 

Mengutip berita dari jpnn.com, Menteri Keuangan (MenKeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Indonesia punya peluang untuk menyuplai alat pelindung diri (APD) dan hand sanitizer bagi negara lain yang tengah dilanda pandemi virus korona. Alasannya, Indonesia punya pabrik dan infrastruktur untuk memproduksi barang yang kini dibutuhkan dunia itu (27/3). Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus mengatakan bahwa kapasitas produksi APD pada 2019 lalu mencapai 17.370.552 per bulan sedangkan kebutuhan antara 9 juta sampai 16,5 juta unit. Terdapat 28 perusahaan produsen APD, namun baru 5 yang sudah beroperasi sejak awal dan selebihnya masih perisapan dan baru beroperasi awal April 2020. Kalau dilihat dari kemampuan produksi dalam negri bisa 131 juta per bulan. Selama ini, Indonesia mengekspor APD sebanyak 50-60 juta unit/bulan. Indonesia telah melakukan ekspor APD ke luar negri. Terbukti dengan ditemukannya APD yang diimpor dari Cina, namun ternyata bertuliskan made in Indonesia. Terlebih lagi bila pemerintah memaksimalkan operasional ke 28 perusahaan. Pastinya akan banyak kegiatan ekspor yang dilakukan. Kita patut mengapresiasi peran Indonesia yang telah mampu menjadi produsen APD bagi dunia.

Namun sayangnya, pemerintah hanya berfokus pada aktivitas ekspor APD ke keluar negri tanpa melihat kapasitas kebutuhan masyarakat dalam negri. Karena itu rumah sakit banyak yang kekurangan APD bagi tenaga medisnya. Padahal APD sangat dibutuhkan di dalam negri sekarang ini ditengah mewabahnya covid-19. Pemerintah enggan menyetop ekspor demi terjaganya komitmen pasar yang mendatangkan pundi-pundi rupiah ketimbang keselamatan rakyatnya sendiri. Sehingga, kita lihat hari ini banyak para dokter dan tenaga medis lain hanya memakai jas hujan plastik sebagai pelindung tubuh dari virus. Inilah wajah buruk sistem kapitalisme sekuler. 

Penguasa terus menerus berpikir bagaimana agar perekonomian tetap selamat namun rela mengorbankan nyawa rakyat. Dari sini terlihat bahwa, penguasa senantiasa mengejar keuntungan yang tiada henti sehingga mengabaikan posisinya sebagai pelayan rakyat. Nilai-nilai kemanusiaan pun bahkan bisa lenyap dikalahkan oleh pemikiran kapitalisme ini.
Hal ini akan berbeda bila sistem yang diterapkan adalah sistem Islam kaffah di dalam naungan negara khilafah Islamiyyah yang dijalankan oleh seorang penguasa bernama khalifah. Khalifah berkewajibannya sebagai peri’ayah ummat (pengurus kebutuhan masyarakat). 

Rasulullah saw pernah bersabda : “Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur  urusan kaum Muslimin, lalu dia tidak memperdulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan memperdulikan kebutuhan dan kepentingannya (pada hari kiamat) (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Atas dasar keimanannya kepada Allah, maka khalifah akan memprioritaskan seluruh kebutuhan rakyat seperti sandang, pangan dan papan, termasuk terpenuhinya APD yang sangat urgent. Selain itu, pelayanan kesehatan gratis dan terbaik diterapkan untuk keselamatan masyarakat. Wallahua’lam bisshowab. 

Oleh Qisti Pristiwani
Mahasiswi

Posting Komentar

0 Komentar