TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Penguasa Berbagi Bakpao



Corona merajalela , Bu Menkeu Sri Mulyani menyatakan bahwa Indonesia punya peluang untuk menyuplai Alat Pelindung Diri (APD) dan hand sanitizer bagi negara lain yang tengah dilanda virus. Alasan beliau adalah Indonesia punya pabrik dan infrastruktur  untuk memproduksi barang yang dibutuhkan dunia. (https://m.jpnn.com/news/corona-merajalela-bu-menkeu-sebut-indonesia-bisa-jadi-pemasok-apd-bagi-dunia)

Indonesia mendatangkan Alat Pelindung Diri(APD) dari China melalui skema bantuan maupun pembelian langsung untuk menanggulangi virus Corona. APD digunakan oleh para tenaga medis di dalam negeri yang sangat membutuhkan. Namun, ternyata ada tulisan “made in Indonesia” di APD impor dari China. APD itu memang dibikin di Indonesia, namun pemilik produknya tetap luar negeri. Begini penjelasan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Jadi jangan heran jika APD Bantuan China atau beli di China tapi made in Indonesia” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB) Agus Wibowo lewat Twitter, Agus Kamis (26/4/2020) seperti dikutip dari detikcom. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20200326152519-4-147714/heran-apd-impor-dari-china-kok-labelnya-made-in-indonesia)

Pemerintah mengklaim kebutuhan alat pelindung diri (APD) dalam rangka penanganan Covid–19 seperti pakaian khusus, masker, hingga kaca mata pelindung, dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri.“Industri dalam negeri mampu untuk memproduksi barang-barang itu untuk kebutuhan sendiri maupun luar negeri,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (28/3/2020).

Melalui keterangan tertulisnya, Agus menyatakan, kapasitas produksi APD pada 2019 lalu mencapai 17.370.552 unit per bulan sedangkan kebutuhan antara 9 juta sampai 16,5 juta unit. Kebutuhan APD untuk penanganan Covid-19 empat bulan ke depan, menurut tim Percepatan Penanganan Covid-19, sebanyak 3 juta unit. Sebagai cadangan menghadapi kemungkinan pandemi yang meningkat maka disiapkan tiga kali lipat dari kebutuhan atau 9 juta unit. Sedangkan kebutuhan APD versi Kemdagri sebanyak 16,5 juta buah per bulan dengan perhitungan kebutuhan per provinsi.

Namun demikian, kapasitas produksi yang dimaksud barulah angka di atas kertas. Karena itu tak megherankan bila di lapangan ditemukan banyak keluhan adanya kekurangan APD. Menurut Agus, terdapat 28 perusahaan produsen APD namun baru lima yang sudah beroperasi sejak awal sedangkan sisanya masih persiapan dan baru berproduksi awal April 2020. Sedangkan untuk sanitasi tangan, delapan produsen dalam negeri yang memiliki izin BPOM dan 104 industri deterjen lain yang juga mampu memproduksi hand sanitizer. Dari jumlah produsen ini, kapasitas produksi mencapai 156.000 ton per tahun.
(https://www.beritasatu.com/nasional/614231-covid19-industri-dalam-negeri-mampu-penuhi-kebutuhan-apd)

Berdasarkan data diatas sepertinya rezim mendorong Indonesia mengambil peluang menjadi produsen APD, padahal sebelumnya sudah terbukti APD yang diimpor dari China adalah made in Indonesia. Ada apa sebenarnya di balik  semua ini? Tidak lain rezim hanyalah memikirkan keuntungan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam kondisi yang genting seperti ini harusnya rezim memikirkan nasib tenaga medis kesehatan dan  rakyatnya, bukan sebaliknya mengekspor APD ke Korea Selatan.  Meskipun di dalam negeri membutuhkan namun produksinya lebih diprioritaskan untuk ekspor yang mendtangkan devisa. 

Bagaimana Solusi Islam?

Berbeda ketika membaca sejarah sifat dan karakter Pemimpin pada masa Khilafah terbukti mempunyai nilai lebih di atas rata-rata jika dibandingkan dengan pemimpin/pejabat sekarang. Mereka bukan sekedar pemanis kampanye dan sumpah jabatan, akan tetapi dibuktikan dalam langkah nyata melalui proses jabatannya. Para pejabat yakin bahwa setiap kebijakan yang diambil akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. 

Balasannya hanya dua, jika tidak surga ya neraka. Menjadi pemimpin di tengah wabah harus berani mengambil risiko. Tanpa mempertimbangkan masalah materi, yang utama rakyat terselamatkan. Karena standar kebahagiaan seorang muslim adalah ridha Allah Swt, maka pemimpin muslim akan menjadikan ridha Allah Swt sebagai tujuan.  Nyawa rakyat merupakan sesuatu yang perlu diprioritaskan oleh seorang pemimipin. Bagaimanapun ksulitan sebuah kepemimpinan, keterjaminan kemanan adalah modal awal melindungi rakyat. Sebaliknya impian keselamatan rakyat utama hanya retorika saja. Sebagaimana yang terjadi di negara penganut kapitalisme.

Seorang pemimpin yang bervisi Islam akan menjadikan keimanan sebagai landasan memutuskan kebijakan. Keyakinan pada Allah Swt, membuat tawakal dan berserah diri pada Allah Swt dalam menghadapi wabah ini. Ibarat dalam peperangan, sebagaimana dalam Qs. Al Anfal ayat 60 artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. 

Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya. “Sebagaimana surat Al Anfal ayat 60 kita diperintahkan mengumpulkan amunisi yang banyak untuk persiapan perang. Maka, pemimpin perlu menjamin ketersediaan alat perang berupa APD untuk para medis. Sehingga tenaga medis akan merasa aman menjadi garda terdepan dalam penganan wabah ini.

Kepemimpinan ini hanya diperoleh dari sistem yang bersandar ketaatan pada Allah, bukan sistem buatan manusia yaitu  kapitalisme yang hanya mencari keuntungan di tengah wabah Corona -19. Hanya dalam naungan Khilafah nyawa dan keselamatan  rakyat terjamin tidak seperti kapitalisme yang hanya menginginkan keuntungan. Karena penguasa bekerjasama dengan pihak asing dalam penjualan APD ibarat penguasa menjual bakpao.[]

Oleh Ummu Zakrina

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Khilafah itu baru terwujud kalau imam Mahdi muncul, kalau sekarang bicara menginginkan khilafah itu sangat ngawur .

    BalasHapus