TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menilik Kesetaraan Gender Sebagai Solusi Diskriminasi Terhadap Perempuan

Hingga saat ini kesetaraan gender masih lantang disuarakan feminis sebagai solusi atas diskriminasi terhadap perempuan. Mulai dari masalah pelecehan dan kekerasan seksual, pemberdayaan perempuan, tuntutan kesetaraan partisipasi perempuan di ruang publik, hingga klaim kebebasan perempuan sebagai pemilik tubuh mereka sendiri masif dikampanyekan. Semua bermula dari banyaknya perempuan yang menjadi korban pelecehan dan stigma publik bahwa perempuan posisinya di bawah laki-laki dalam banyak ranah kehidupan. 

Ini membuat para feminis memperjuangkan kesetaraan gender untuk menghilangkan stigma tersebut dengan harapan diskriminasi terhadap perempuan musnah dari muka bumi. Berbagai slogan seperti “perempuan harus berdaya secara ekonomi agar tidak diinjak kaum lelaki”, “my body my authority” dan masih banyak lainnya digemakan ke seluruh penjuru bumi. Bahkan banyak syariat Islam yang diserang karena dinilai mendiskriminasi perempuan seperti poligami, hukum waris, serta pakaian muslimah. 

Banyak sekali perempuan yang setuju dan ikut menyuarakan ide ini bahkan juga kaum lelaki, muslimah, hingga kaum LGBT. Ide ini juga didukung para ahli ekonomi kapitalisme yang menyatakan bahwa perempuan harus bekerja untuk mendongkrak roda perekonomian. Bahkan PBB memfasilitasi dengan berbagai program berdana tidak sedikit seperti Planet 50:50, dan konferensi CEDAW di Beijing 25 tahun lalu.

Bertahun-tahun ide ini digaungkan, namun apakah menunjukkan hasil? Nampaknya tidak. Sampai sekarang diskriminasi terhadap perempuan masih banyak sekali terjadi. Dari tahun ke tahun bukannya menurun, malah semakin meningkat. 

Data kekerasan seksual. Lebih dari itu, banyak muncul masalah keluarga hingga anak dalam rumah tangga yang ibunya bekerja. Tapi di sisi lain, liberalisasi perempuan dan muslimah banyak terjadi. Banyak muslimah menentang syariat Islam karena terinspirasi ide ini. Tidak menutup aurat sebab merasa tubuhnya milik sendiri. Seks diluar nikah tak apa dilakukan asal suka sama suka. Sibuk bekerja hingga anak yang merupakan tanggungjawabnya terabaikan. Walhasil masalah tidak terselesaikan, tapi malah bertambah runyam.

Liberalisasi perempuan dan muslimah ini menimbulkan masalah yang bukan hanya berefek domino tapi juga berjangka panjang bagi peradaban. Aurat yang ditebar di mana-mana saat pornografi dikembangkan oleh dunia justru memicu peningkatan pelecehan seksual. 

Maraknya seks bebas berimbas pada kehamilan di luar nikah yang seringkali berakhir pada aborsi, kematian ibu yang mengandung, cacat atau kurang gizi pada bayi karena tidak siapnya si ibu saat mengandung, belum lagi rusaknya nasab dan hilangnya perwalian dan hak waris dari ayah bagi si bayi. Sibuknya para ibu mencari uang hingga mengabaikan anaknya sering berakibat kenakalan anak yang luar biasa, kurangnya kasih sayang yang diterima anak, perilaku liberal si anak yang akan diturunkan ke generasi selanjutnya, bahkan banyak anak yang jadi pelampiasan seksual ayahnya karena si ibu bekerja jauh di luar negeri.

Hasil jangka panjang dari liberalisasi perempuan dan muslimah adalah rusaknya generasi muda karena hilangnya profil perempuan sebagai pendidik utama mereka yang berimbas pada hancurnya peradaban. Dan kerusakan ini akan terus menjadi siklus peradaban manusia yang pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa diskriminasi terhadap perempuan tidak akan pernah hilang dari muka bumi.

Padahal jauh 1400-an tahun yang lalu, Islam sudah mengajarkan pada manusia bagaimana cara memuliakan perempuan. Islam telah menetapkan aturan yang komprehensif sehingga muslimah bukan hanya tidak mengalami diskriminasi, bahkan posisi mereka bagaikan ratu dalam peradaban. Islam memandang perempuan adalah perhiasan dunia yang harus dijaga sedemikian rupa. Syariat menutup aurat ditetapkan untuk memuliakan dan menjaga. 

Sistem pergaulan dalam Islam mengatur agar kehidupan perempuan dan lelaki non-mahram tidak bercampur untuk menjaga mereka. Islam mensyariatkan para suami memperlakukan istrinya dengan sangat baik karena merekalah ibu peradaban. Islam membuka partisipasi ruang publik yang proporsional antara perempuan dan laki-laki sejak awal negaranya berdiri. Islam mewajibkan dan memfasilitasi perempuan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin karena merekalah pendidik utama anak-anaknya. 

Khalifah al Mu'tasim Billah bahkan langsung memimpin pasukan sebab warga muslimahnya dilecehkan tentara Romawi. Maryam al Asturlabi sang penemu astrolob yang jadi cikal bakal GPS dan Fatimah al Fihri sang pendiri universitas pertama di masa Khilafah Abasiyah adalah bukti hebatnya posisi muslimah dalam peradaban Islam. Memang hanya Islamlah yang mampu memuliakan perempuan. Kesetaraan gender terbukti gagal. Maka buang jauh-jauh dan beralihlah pada Islam sebagai solusi dari Allah, Pencipta manusia yang Maha Benar.[]

Oleh: Monicha Octaviani

Posting Komentar

0 Komentar