TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mari Akhiri Sekulerisasi Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan. Alhamdulillah, kita telah memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Bulan mulia yang begitu dinanti-nantikan kedatangannya oleh seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Kita harus tetap bahagia atau bersedih nih, sudah setengah perjalanan. 

Sebagaimana kita tahu, pada setiap bulan Ramadhan, kita sebagai umat Islam disibukkan dengan beragam aktivitas ibadah baik ibadah wajib maupun amalan sunnah.  Seperti membaca al-Quran, menghafalkan ayat demi ayat. Kemudian di beberapa tempat juga masih bisa mengikuti shalat tarawih berjamaah di masjid, sekaliupun  di beberapa tempat lainya masjid ditutup sementara dikarenakan pandemi corona yang saat ini sedang terjadi. 

Adapun di rumah-rumah biasanya kita melanjutkannya dengan qiyamul lail di sepertiga malam, shalat rawatib, memberikan menu sahur ataupun berbuka puasa, hadir di majelis-majelis ilmu secara online dan juga aktivitas ruhiyah lainnya 

Dari sini kita bisa menyimpulkam bahwa spiritualitas sebagian umat Islam selama bulan Ramadhan memang meningkat cukup pesat. Umat sibuk memperbanyak ibadah ritual pada bulan Ramadhan ini. Namun sayangnya,  tak sedikit keshalihannya hanya terlihat dalam aspek pribadi dan ibadahnya saja. 

Kenapa ?

Karena di dalam masalah sosial-kemasyarakatan, alam arti  kepedulian terhadap nasib urusan umat secara keseluruhan, secara signifikan belum begitu terlihat. Artinya sebagian dari umat belum menyibukkan diri untuk terlibat dalam masalah keumatan.

Pada bulan Ramadhan kali ini, bahkan di tahun-tahun yang lalu, kita masih bisa menyaksikan bagaimana individu-individu Muslim secara pribadi terlihat shalih, namun juga masih melakukan hal-hal yang itu sesungguhnya bertentangan dengan syariah Islam.  

Contohnya, masih dengan mudah kita menjumpai para wanita Muslimah yang menuju ke Masjid untuk melaksanakan ibadah shalat, khususnya shalat tarawih berjamaah, mereka belum menutup aurat. Auratnya hanya di tutup saat melaksanakan ibadah shalat. Adapun  Sehabis shalat, aurat kembali terlihat. 

Belum lagi, bulan Ramadhan juga identik dengan istilah ngabuburit dan juga bukber buka puasa bersama. Sayangnya, tak jarang hal itu dilakukan juga dengan yang bukan mahram. Bahkan tak terhindari akan terjadinya ikhtilath, padahal ikhtilath jelas-jelas diharamkan di dalam Islam.

Lebih-lebih tayangan di layar kaca, tak jarang membuat penonton lupa akan betapa mulianya setiap waktu di bulan ramadahan ini. Tayangan yang mengocok perut atau hura-hura masih juga ditayangkan dan cukup melenakan. Menjauhkan umat Islam dari aktivitas yang lebih bermakna. Itulah sedikit 

Mengapa hal ini bisa terjadi? 

Hal ini disebabkan karena di dalam pikiran mayoritas umat Islam saat ini, bulan Ramadhan seakan-akan bulan yang khusus untuk beribadah saja kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan telah dianggap sebagai waktu yang khusus untuk urusan ritual, spiritual dan keakhiratan.  Akibatnya  aktivitas yang dianggap duniawi harus ditinggalkan atau minimal dikurangi. 

Nah, tampaknya latar belakang pemikiran inilah yang mendorong sebagian umat Islam untuk menjauhkan aktivitas politik pada bulan Ramadhan. Tidak lain karena politik dianggap sebagai aktivitas duniawi dan cenderung kotor; kalau disatukan atau dimasukkan ke dalam aktivitas Ramadhan dianggap akan mengotori kesucian bulan Ramadhan. 

Cara pandang seperti itu merupakan cara pandang sekular. Sekularisme adalah paham yang memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat. Urusan dunia terserah manusia, sementara urusan akhirat diserahkan pada agama. Agama tidak boleh dibawa-bawa dalam urusan dunia. Sebaliknya, urusan dunia tidak boleh dikaitkan dengan urusan akhirat atau agama. 

Paham sekularisme atau cara pandang sekular ini sudah merasuk jauh ke dalam diri kaum Muslim. Saat melaksanakan shalat, seorang wanita Muslimah akan dengan ringan menutup auratnya. Namun, di luar shalat, ia merasa berat melakukannya. Ketika di masjid seseorang merasa begitu dekat dengan Allah dan merasa ada dalam pengawasan-Nya. Namun, di luar itu ketika memerintah, berpolitik, berdagang, memutuskan perkara dan sebagainya hukum-hukum syariah bukan saja diabaikan, bahkan dicampakkan.

Oleh karena itu, menjangkitnya paham seperti ini di tengah-tengah umat harus segera kita akhiri. Karena semestinya di  bulan Ramadhan ini, bulan yang bagi umat Islam adalah momentum untuk melakukan instropeksi diri agar Ramadhan jangan sampai menjadi siklus tahunan tanpa makna. Bulan Ramadhan juga harus dijadikan momentum untuk membangkitkan taraf berpikir umat, khususnya taraf berpikir terkait aktivitas politik.
 
Aktivitas Siyasi : Penting dan Genting

Aktivitas politik yang mesti kita serukan kepada umat di antaranya adalah hal-hal yang terkait dengan pengaturan urusan masyarakat (riâyah syuûn al-ummah), baik yang terkait dengan kekuasaan (as-sulthân) sebagai subyek (al-hâkim) yang melakukan pengaturan urusan masyarakat secara langsung, maupun yang terkait dengan umat sebagai obyek (al-mahkûm) yang melakukan pengawasan (muhâsabah) terhadap aktivitas kekuasaan dalam mengatur urusan masyarakat. 

Oleh karena itu dakwah yang sifatnya politik seperti ini adalah sesuatu yang sangat penting lagi genting. Penting sehingga tidak boleh ditinggalkan. Genting karena kalau ditinggalkan bisa membahayakan nasib umat secara keseluruhan.


Sebagaimana disampaikan oleh Syekh Taqiyyudin an-Nabhani, 2001, di dalam kitab Nizâm al-Islâm, bahwa pada dasarnya Islam mengatur semua perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya, yaitu Allah SWT, melalui hukum-hukum yang berkaitan dengan akidah dan ibadah ritual seperti solat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri yaitu berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlak, pakaian dan makanan. Islam juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain melalui hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalah dan uqubat seperti ekonomi, pemerintahan, politik, dakwah, pendidikan, perang, pengadilan jenayah, dan sebagainya. 

Berdasarkan hal itu, maka Islam menolak sekularisme kerana Islam bersifat komprehensif (menyeluruh) dalam mengatur ketiga  jenis hubungan tersebut. Ide sekularisme yang merupakan usaha pemisahan agama (Islam) daripada kehidupan  dan juga dari negara (fasl ad-dîn an al-hayah/ad-dawlah). Pada sejarah kemunculannya, ide ini sebenarnya berakar daripada peradaban Barat-Kafir, yang memisahkan agama (Kristen), sehingga sudah tentu ini tidak sesuai dengan realitas syariah Islam.

Kesimpulannya adalah bahwa ramadhan harus segera kita jadikan sebagai momentum penting untuk kesedaran umat. Pertama: Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT secara menyeluruh, sama ada dalam aspek ibadah spiritual mahupun aspek politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Sebagaimana firman  Allah SWT :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [TQS Al Maidah [5] : 3].

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  [TQS an-Nisa (4): 59].

Kedua ayat di atas dan juga ayat yang semisal dengan keduanya, dengah begitu jelas memerintahkan kepada seluruh umat Islam untuk berhukum kepada al-Quran dan as-Sunnah. Dengan cara menerapkan syariah Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan mereka. Ketakwaan seorang Muslim perlu direalisasikan melalui ketundukannya kepada syariah Islam secara total, bukan secara parsial hanya pada aspek ibadah ritual.[]

Oleh Yanti Ummu Yahya

Posting Komentar

0 Komentar