TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Laga Mafia Kapitalis di Masa Pandemi


Kapan pandemi ini akan berakhir? Pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak semua orang pada saat ini. Bagaimana tidak? Tanpa ampun, pandemi Covid-19 dan gejolak perekonomian global menghantam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia secara sekaligus, dalam sekali pukul. Itulah sebabnya, negara memutar otak untuk segera mengakhiri  pandemi ini. 

Indonesia sendiri telah memutuskan untuk menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala besar) di berbagai wilayah. Tercatat 20 wilayah yang sudah menerapkan status PSBB. Dengan kebijakan ini diharapkan bisa memutus mata rantai kasus Covid-19 yang hingga kini mencapai 6.760 kasus terkonfirmasi positif. (tirto.id/21/04/2020)

Seiring bertambahnya kasus positif covid-19, tentu dibarengi dengan kebutuhan mendesak akan alat kesehatan (alkes) dan obat-obatan. Terlebih virus ini begitu mematikan, mampu membuat orang yang terpapar  meninggal dalam waktu singkat, jika tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat. Namun, bak mengambil kesempatan dalam kesempitan, tampaknya kebutuhan yang mendesak ini justru dimanfaatkan oleh para mafia global. 

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara Arya Sinulingga mengatakan, bahwa praktik mafia alat kesehatan sekarang sudah terjadi pada level dunia. Salah satu praktiknya adalah pada perdagangan ventilator.

Arya mengatakan, di masa pandemi global corona ini, stok ventilator menjadi kebutuhan yang diburu semua negara. Akibatnya terjadi kekurangan pasokan, termasuk di Indonesia. Walhasil, ketika pemerintah berhasil mendapatkan pasokan pun harganya sudah melambung tinggi.

"Jadi ini sudah mafia dunia, bukan lagi lokal dan ini di dunia sudah terjadi," ujar Arya Sinulingga dalam diskusi daring, Ahad, 19 April 2020. Karena itu, ia mengatakan saat ini praktik mafia itu bukan hanya terjadi di dalam negeri namun juga di luar negeri.

Anggapan ini pun diperkuat Arya dengan fakta bahwa ternyata sejumlah pihak, seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, maupun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ternyata bisa merancang ventilator dalam waktu kurang lebih satu bulan. Karena itu, ia mempertanyakan kenapa selama ini Indonesia masih mengutamakan impor. "Berarti ada trader. Pak Erick (Menteri BUMN Erick Thohir) pikir pasti ada yang memaksa ingin trading terus," ujar Arya.

Selama ini, Arya mengatakan, Indonesia masih banyak melakukan impor pada bidang kesehatan. Misalnya saja alat kesehatan, bahan baku obat, hingga obat yang impornya bisa mencapai 90 persen. Karena itu, Kementerian BUMN saat ini sudah membuat subholding farmasi dengan harapan bisa menekan persentase impor itu hingga di bawah 50 persen. (Tempo.co/19/04/2020)

Keberadaan mafia kapitalis, sejak mencuatnya pandemi ini, memang sudah ditengarai oleh banyak pengamat politik global, intelijen dan para pakar geopolitik internasional. 

Connie Rahakundini, seorang pengamat strategi militer, dalam wawancara dengan CNN Indonesia pada 12 Maret lalu telah mensitir adanya kekhawatiran rekayasa kapitalisme global dalam pembuatan virus ini terutama dalam kepentingan tujuan sebuah tatanan dunia baru. 

Beredar pula analisa dalam banyak sekali video tentang dugaan kuat keterlibatan organisasi seperti Freemason dan Illuminati. Situs seperti Anonymous yang sangat terkenal kritis melalui web anonhq.com malahan secara terang-terangan  mengungkap dugaan keterlibatan banyak tokoh, termasuk  pendiri microsoft, Bill Gates. 

Analisa ini memang bukan merupakan fakta hukum, melainkan sebuah paparan realita bahwa kapitalisme sudah begitu menggurita demi ambisinya untuk mewujudkan The New World Order. Dan pergerakannya jelas sistematis seperti sebuah bangunan kekeluargaan dalam klan mafia.

Tentu hal ini membuat pemerintah Indonesia mau tidak mau mengikuti kemauan para mafia tersebut. Lagi-lagi negara yang dirugikan dan para mafia kapitalis yang diuntungkan. Pada 21 April Detik finance menurunkan artikel lugas yang membedah modus mafia alat kesehatan. 

Menurut Direktur BUMN Farmasi, Honesti Basyir, mafia pengadaan alat kesehatan ini leluasa dalam laganya karena ternyata selama ini Indonesia mengimpor alat kesehatan melalui broker. Broker inilah sang mafia kapitalis, bak gurita raksasa penghisap laba di tengah wabah. Tribunnews 19 April melansir, Arya Sinulingga, staf khusus Menteri BUMN, juga memberi keterangan praktek mafia pengadaan alat kesehatan. 

Yang paling mengejutkan adalah sebuah berita yang dirilis TEMPO pada tanggal yang sama. Dalam berita Tempo tersebut Arya Sinulingga menjelaskan dengan gamblang, bahwa ada upaya penekanan atau pressure dari mafia bergaya kapitalis terhadap pemerintah Indonesia. Membuat kita geleng-geleng kepala. Pemerintah sebuah negara berdaulat seperti Indonesia bisa di pressure oleh mafia kapitalis.

Lalu mampukah Indonesia melawan mafia global dibalik impor alkes? Nampaknya ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Karena faktanya negara ini secara de facto tidak memiliki kemandirian. Dalam masalah pengadaan alkes dan obat-obatan saja mengggantungakn pada impor. Seakan semua masalah di negeri ini akan selesai dengan impor. Kenapa tidak mengandalkan kemampuan dalam negeri yang sebenarnya sangat-sangat mampu untuk menyediakan kebutuhan tersebut?

Dari fakta di atas pun jelas menegaskan bahwa dunia ini dikuasai oleh gurita kapitalis yang berlaga dengan topeng mafia dan menekan pemerintah negara-negara yang berdaulat. Cengkeramannya begitu mengakar dan telah berlangsung puluhan tahun. Hampir seluruh negara saat ini bertekuk lutut di hadapannya. Selama sistem ini diterapkan, jangan pernah berharap mafia global akan sirna. Alih-alih ingin menghilangkannya, yang terjadi malah makin mengokohkan para mafia ini.

Tidak ada jalan lain untuk menandingi konspirasi kapitalis global ini kecuali dengan menghadirkan sebuah sistem yang bersifat global pula. Sistem itu adalah Khilafah Islamiyah. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta yaitu Allah Swt. Sang Pencipta Kehidupan tentunya yang lebih mengetahui bagaimana solusi setiap permasalahan manusia, makhluk CiptaanNya. Sistem ini telah terbukti membawa rahmat bagi semua umat karena kegemilangannya, selama kurang lebih 14 abad umat manusia sejahtera dan mulia di dalamnya.  

Sejarah telah mencatat sepak terjang khilafah dalam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar berupa kesehatan dan pengobatan. Yaitu dengan membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboratorium medis, apotik, pusat dan lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan dan sekolah lainnya yang menghasilkan tenaga medis, serta berbagai sarana prasarana kesehatan dan pengobatan lainnya.  Juga dengan pengadaan pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan; menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, penyuluh kesehatan dan lainnya.

Berbagai kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rasul saw. menunjukkan taraf yang sungguh maju. Pelayanan kesehatan gratis diberikan oleh negara (Khilafah) yang dibiayai dari kas Baitul Mal.  Adanya pelayanan kesehatan secara gratis, berkualitas dan diberikan kepada semua individu rakyat tanpa diskriminasi jelas merupakan prestasi yang mengagumkan.

Hal itu sudah dijalankan sejak masa Rasul saw. Delapan orang dari Urainah datang ke Madinah menyatakan keislaman dan keimanan mereka. Lalu mereka menderita sakit gangguan limpa.  Nabi saw. kemudian merintahkan mereka dirawat di tempat perawatan, yaitu kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Mal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul Mal yang digembalakan di sana.  Mereka meminum susunya dan berada di tempat itu hingga sehat dan pulih. 

Raja Mesir, Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang dokter kepada Nabi saw. Beliau menjadikan dokter itu melayani seluruh kaum Muslim secara gratis. Khalifah Umar bin al-Khaththab, menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari Baitul Mal.  Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan.  Para dokter dan perawat yang merawat mereka digaji dari Baitul Mal.  Bani Thulan di Mesir membangun tempat dan lemari minuman yang di dalamnya disediakan obat-obatan dan berbagai minuman.  Di tempat itu ditunjuk dokter untuk melayani pengobatan.

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya.  Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis.  Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”   

Menurut Ketua Institut Internasional Ilmu Kedokteran Islam, Husain F Nagamia MD, di dunia, rumah sakit baru dibangun dan dikembangkan pada awal kejayaan Islam dan dikenal dengan sebutan ‘Bimaristan’ atau ‘Maristan’.  Rumah sakit ini baru tahap awal dan belum bisa benar-benar disebut RS. Pertama kali dibangun pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. RS Islam pertama yang sebenarnya dibangun adalah pada era Khalifah Harun ar-Rasyid (786 M – 809 M). Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad itu dan pemilihan tempatnya merupakan ide brilian dari ar-Razi, dokter Muslim terkemuka. Djubair, seorang sejarahwan yang pernah mengunjungi Baghdad tahun 1184 M melukiskan, rumah sakit-rumah sakit itu memiliki bangunan megah dan dilengkapi dengan peralatan modern.

Menurut M. Husain Abdullah, pada masa Khilafah Abbasiyah, banyak rumah sakit dibangun di Baghdad, Kairo, dan Damaskus. Pada masa itu pula, untuk pertama kalinya, ada rumah sakit berjalan (semacam ambulans). (M. Husain Abdullah, Dirasat fi al-Fikri al-Islami, hlm. 88). 

Menurut Dr. Hossam Arafa dalam tulisannya, Hospital in Islamic History, pada akhir abad ke-13, RS sudah tersebar di seantero Jazirah Arabia. Rumah sakit-rumah sakit itu untuk pertama kalinya di dunia mulai menyimpan data pasien dan rekam medisnya. Konsep itulah yang hingga kini digunakan di rumah sakit-rumah sakit  yang ada di seluruh dunia, kini.

Dikutip dari helpsharia.com (20/1/2017), dalam Islam, sistem kesehatan tersusun dari tiga unsur sistem. Pertama, yaitu peraturan, baik peraturan berupa syariah Islam, kebijakan maupun peraturan teknis administratif. Kedua, sarana dan peralatan fisik seperti rumah sakit, alat-alat medis, dan sarana prasarana kesehatan lainnya. Ketiga, sumber daya manusia (SDM) sebagai pelaksana sistem kesehatan, yang meliputi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. [S. Waqar Ahmed Husaini, Islamic Sciences, hlm. 148]

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah dari manakah dana untuk menggratiskan layanan kesehatan dan penyediaan alat-alat kesehatan serta obat-obatan? Dalam Khilafah, kesehatan merupakan salah satu bidang di bawah divisi pelayanan masyarakat (Mashalih an-Nas). Pembiayaan rumah sakit seluruhnya ditanggung oleh negara.

Dananya diambil dari baitulmal yakni: pertama, dari harta zakat, sebab fakir atau miskin (orang tak mampu) berhak mendapat zakat. Kedua, dari harta milik negara baik fai’, ghanimah, jizyah, ‘usyur, kharaj, khumus rikaz, harta ghulul pejabat dan aparat, dsb. Ketiga, dari harta milik umum seperti hutan, kekayaan alam dan barang tambang, dsb. Jika semua itu belum cukup, barulah negara boleh memungut pajak (dharibah) hanya dari laki-laki muslim dewasa yang kaya.

Masya Allah begitu mengagumkannya sistem khilafah mengatur urusan umat. Ini baru dalam bidang kesehatan. Masih banyak bidang lain yang juga diatur dalam Islam yang semuanya memberi kesejahteraan bagi umat dan semuanya itu bersumber dari Illahi. Jika sistem ini diterapkan mafia global dan sistem kapitalis sekuler akan musnah dan terkubur dalam jurang yang sangat dalam. In sya Allah.

Wallahua'lam bish showwab.[]


Oleh: TiaDamayanti, M.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Sosial Politik)

Posting Komentar

0 Komentar