TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketika Pandemi Tiada Bertepi



Pandemi ini seakan tiada bertepi. Kondisi yang serba sulit terus menyelimuti. Di sana sini beredar kabar yang membuat hati sedih. 
Sedih dikarenakan banyaknya masyarakat yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Social distancing untuk tetap dirumah aja membuat masyarakat yang berpenghasilan harian jadi kocar kacir. Masyarakat dilanda kebingungan akan kebutuhan perut mereka sehari-hari.

Berita-berita yg beredar juga membuat hati pilu mendera. Banyaknya Kebijakan-kebijakan yang diambil dengan cara yang tidak pada tempatnya. Salah satu contohnya seperti melepas para narapidana dengan berbagai kriteria.

Seharusnya para narapidana lebih aman dengan kondisi saat ini. Karena secara otomatis mereka ter Karantina dengan sendirinya. Hanya mungkin jumlah kunjungan yang dibatasi atau ditiadakan.  

Tapi sekarang apa yang dilakukan pemerintah. Mereka malah melepas  bebas para narapidana, hingga masalah baru terus bermunculan. Berita-berita tentang napi yang bebas berkat asimilasi corona kembali lagi kepenjara dengan kasus yang sama. Dan jumlah kasus covid-19 bisa saja bertambah. Karena mungkin, mereka bisa pula terpapar dari penderita covid-19 lainnya. Jelas-jelas ini bukan lah cara yang tepat dalam penanganan wabah. 

Negara yang seharusnya melindungi, mengayomi, dan mensejahterakan belum terlihat jelas akan upayanya. Kebijakan yang awalnya menyenangkan seperti penggratisan listrik untuk pengguna daya 450 watt dan diskon 50% untuk pengguna 900 watt ternyata pun mengecewakan.

Karena ternyata bantuan itu pun hasil dari menghutang kepada bank dunia. Kecewa pun tiada artinya. Pemerintah yang katanya berupaya membantu tetapi malah sebaliknya. Pemerintah terus menerus mencari pinjaman hingga ke Timur Tengah dengan dalih untuk menolong rakyatnya. Padahal sejatinya hutang-hutang itu justru menyulitkan rakyatnya. Karena ujung-ujungnya biaya kehidupan masyarakat akan dilanda kenaikan seperti yang terjadi sebelumnya.

Saat ini negara banyak abai akan keperluan rakyatnya dalam memenuhi jaminan keamanan dan kemudahan dalam segala sektor kehidupan. Dikala rakyat mencoba melawan rasa takut akibat Corona, sekarang malah ditambah lagi dengan ketakutan akibat banyaknya narapidana yang bebas berkeliaran diluar sana.

Disaat negara lain sibuk mengentaskan wabah. Pemerintah malah disibukkan dengan aturan hukum hina presiden dan pejabat negara. Katanya negara demokrasi, sistem yang katanya bisa bebas berbicara dan berpendapat. Tetapi sekarang, salah sedikit saja dalam berpendapat bisa kena jerat. 

Entah sistem apa yang dianut saat ini, karena suara-suara rakyat tidak dapat lagi mereka dengar. Tetapi suara-suara para kapitalis lah yang bisa mengubah mereka kehilangan hati nurani. 

Semoga negara dapat mengambil sistem islam sebagai solusi dalam mengatasi berbagai masalah, agar rakyat dapat hidup dengan aman, tentram, dan nyaman tanpa ketakutan.[]

Oleh : Ummu Abdilla

Posting Komentar

0 Komentar