TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kapitalis vs Islam dalam Menangani Wabah


Hingga kini, keberadaan covid-19 masih membuat dunia resah. Begitu juga dengan Indonesia. Bagaimana tidak, berdasarkan update Corona Indonesia per 12 April 2020 tercatat 4.241 Positif, 373 Meninggal, 359 Sembuh (tirto.id 12/04/2020).

Namun anehnya, seorang menteri kelautan dan kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan justru menyatakan bahwa virus Corona akan mereda apabila telah memasuki musim kemarau. Menurutnya, berdasarkan modelling cuaca Indonesia, Equator yang panas dan kelembaban yang tinggi membuat covid-19 tidak tahan hidup. Padahal, sampai sekarang teori tersebut sampai sekarang belum terbukti secara ilmiah.

Pernyataan Luhut tersebut, justru semakin memperkuat indikasi bahwa sebenarnya pemerintah ingin melepaskan tanggung jawab dari mengurus rakyat. Hal itu terbukti, sejak awal virus ini mewabah d Indonesia, pemerintah justru meremehkan ancaman tersebut. Selain itu, pemerintah juga lamban dalam upaya mitigasi saat wabah covid-19 semakin menyebar. Bukan hanya itu, dalih ini semakin mengkonfirmasi bahwa pemerintah lebih cenderung mengambil kebijakan Herd immunity atau kekebalan komunitas. 

Dengan berharap pada cuaca alam tanpa memberikan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Padahal, Herd immunity tanpa vaksinasi sebagai salah satu mitigasi pada suatu populasi masyarakat hanya akan menimbulkan kematian massal. Seperti wabah flu Spanyol yang menginfeksi dunia pada tahun 1918.

Buruknya manajemen pemerintahan dalam menangani wabah serta enggannya pemerintah dalam mengurusi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri. Sejatinya itu, adalah gambaran nyata, kualitas pemimpin dalam sistem kapitalis saat ini. Paradigma sistem kapitalis yang bertumpu pada kepentingan ekonomi dan investasi materialistik berbasis untung rugi. Maka tidak heran, pemerintah bersikukuh tidak mengambil kebijakan Lockdown. Sebab, jika kebijakan ini dikeluarkan, maka mereka harus menanngung penuh kebutuhan rakyatnya. Otomotis kebijakan ini akan membuat mereka rugi.

Tentunya, paradigma ini berbeda dengan pemikiran di dalam Islam yaitu Khilafah. Sistem yang dibangun berdasarkan Wahyu yang meniscayakan para Khalifah (pemimpin) hanya menerapkan aturan-aturan dan mengeluarkan kebijakan berlandaskan Al-Qur'an dan as Sunnah . Sehingga mereka akan memprioritaskan penyelamatan jiwa. Hak rakyat di atas kepentingan ekonomi. Bahkan, hilangnya satu nyawa dianggap lebih berharga dari dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah: 
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Hal ini terbukti dengan keberhasilan Khilafah setidaknya dalam mengatasi 3 wabah yang terjadi di dunia. Pertama, wabah di Amwas wilayah Syam kini Suriah di tahun 639 M. Kedua, wabah Black death yang mengepung Granada pada abad ke 14. Ketiga,wabah smallpox pada abad 19 yang melanda pemerintahan Khilafah Utsmani sekaligus cikal bakal pembuatan vaksin. Keberhasilan ini tak lepas dari kebijakan yang efektif dari Khilafah, seperti:

Pertama, penetapan Lockdown di wilayah wabah. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dan para Khalifah. Upaya preventif ini untuk mengisolasi wabah penyakit agar tidak meluas. Sehingga roda perekonomian masyarakat  yang sehat dapat tetap berjalan. Adapun kebutuhan logistik serta pelayanan kesehatan seperti obat-obatan, tenaga medis, peralatan medis masyarakat Masyarakat yang terkena wabah merupakan tanggung jawab penuh Khalifah untuk memenuhinya.

Kedua, mengetahui mekanisme penyakit serta antisipasipencegahan penyakit berbasis bukti. Dalam hal ini, Islam mengajarkan kepada kaum muslimin mengobservasi khosiat atau qadar yang telah Allah tetapkan kepada spesifikasi virus seperti dampak mortalitas (kematian) serta mobilitas nya (kesakitan). Sehingga akan dihasilkan langkah-langkah praktis yang efektif dalam mencegah penularan penyakit. 
Ketiga, pengembangan dan produksi vaksin. Vaksinasi merupakan pencegahan penyakit serta spesifik. Ketika mayoritas populasi divaksinasi dan virus tidak mampu tersebar karena sudah terblokir kemampuannya untuk menginfeksi. 

Pengobatan ini pertama kali dikembangkan dan digunakan saat khilafah Utsmani dilanda wabah smallpox atau cacar pada abad ke 19. Kebijakan ini terealisasi dan dirasakan oleh masyarakat karena didukung pendanaan dari Baitul mal  sebagai lembaga keuangan negara. Dalam Baitul mal terdapat 3 pos pemasukan, yaitu pas fai' dan kharaj, pos kepemilikan umum, pos shodaqoh. Saat khilafah dilanda bencana seperti wabah, keperluan masyarakat akan dipenuhi dari fai' dan kharaj serta pos kepemilikan umum.

Adapun biaya untuk pelayanan kesehatan serta pengembangan teknologi seperti vaksin akan dibiayai dari jalur pos kepemilikan umum. Bahkan pada masa Kekhalifahan islam, terdapat dana wakaf dari pos shodaqoh yang berkontribusi hampir 30% dari pemasukan Baitul mal. Sebagian besar dana ini, digunakan untuk layanan dan penelitian kesehatan. Maka wajar jika khilafah mampu menangani wabah.[]

Oleh Ani Ritanti

Posting Komentar

0 Komentar