TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Islamofobia Salah Satu Basis Serangan Barat


Di tengah pandemic covid, umat Islam di berbagai negeri menjadi korban tindakan diskriminasi dan kebencian warga non muslim. Muslim dituduh menjadi sumber sebaran wabah dan sengaja menyebar virus utk membunuh non muslim. Kelompok-kelompok sayap kanan telah mengambil keuntungan dari ketakutan orang-orang terhadap pandemi covid-19 (virus corona), melalui teori konspirasi dan disinformasi dengan menjelek-jelekkan kaum Muslim, dan menyebarkan propaganda Islamofobia. 

Di Inggris, polisi kontraterorisme telah menyelidiki puluhan kelompok sayap kanan yang dituduh memicu insiden anti-Muslim selama beberapa pekan terakhir. Tidak hanya di Inggris bergitu juga di Amerika Serikat yang menyebarkan propaganda anti muslim secara daring. Menyebarkan teori konspirasi palsu bahwa gereja-gereja di negara itu akan dipaksa untuk tutup selama pandemi, sementara masjid akan tetap terbuka untuk beribadah. (republika.co.id)
Taktik yang sama digunakan kelompok radikal kulit putih di Amerika Serikat. Diberitakan Huffington Post, kelompok supremasi kulit putih AS mengembuskan rumor bahwa lockdown di kota-kota AS akan dicabut menjelang Ramadhan agar Muslim bisa ibadah di masjid. Padahal, kata mereka, gereja-gereja saja ditutup saat Paskah. (Today.line.me)

Pertanyaannya adalah Mengapa orang membenci islam dan umat muslim? Dalam suatu studi melaporkan bahwa Selama ini Islamophobia Islam dipersepsikan sebagai sebuah ancaman, baik di dunia maupun secara khususnya di Inggris. Islam di sebut sebagai pengganti kekuatan Nazi maupun komunis yang mengandung gambaran tentang invasi dan infiltrasi. Hal ini mengacu pada ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan berlanjut pada ketakutan serta rasa tidak suka kepada sebagian besar orang-orang Islam. Kebencian dan rasa tidak suka ini berlangsung di beberapa negara barat dan sebagian budaya di beberapa negara.

Selain itu penempatan stigma negatif yang ditujukan kepada Islam dan Umat Islam, seperti stigma fundamental, radikal, kolot, terbelakang, dan sebagainya. Penerapan standar ganda demokrasi, adanya larangan berjilbab bagi perempuan muslimah di Prancis, penghinaan bagi Nabi Muhammad Saw yang dilakukan di Denmark dan sebagainya. Ketakutan dan kebencian yang tidak mendasar terhadap Islam dapat terjadi karena salah faham, karena kecemburuan, atau karena pola pikir yang keliru terhadap Islam. Atau memang karena memusuhi dan membenci islam.

Kata islamophobia mula-mula dipakai sekitar 1912 dalam bahasa Perancis “islamophobe”. Étienne Dinet dan Sliman Ben Ibrahim menggunakan istilah ini dalam buku La Vie de Mohammed, Prophete d'Allah (Kehidupan Muhammad, Sang Nabi Allah). Kedua penulis itu berbicara tentang politik, Resmi Perancis kompilasi melawan tentara-tentara muslim dalam perang dunia pertama sebagai islamofobia. (Ainul Yaqin, 2018)

Istilah Islamophobia muncul juga karena ada fenomena baru yang membutuhkan penamaan. Prasangka anti muslim berkembang begitu cepat pada beberapa tahun terakhir ini sehingga membutuhkan kosa kata baru untuk mengidentifikasikan. Penggunaan istilah baru yaitu Islamophobia tidak akan menimbulkan konflik namun dipercaya akan lebih memainkan peranan dalam usaha untuk mengoreksi persepsi dan membangun hubungan yang lebih baik (Young European Muslims, 2002). 

Sedangkan menurut Runnymede Trust (1997) Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001 (Cascianic, 2004). Runnymede Trust (1997) mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim," dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama. 

Sehingga Islamophobia dapat dikatakan sebagai bentuk ketakutan berupa kecemasan yang dialami seseorang maupun kelompok sosial terhadap Islam dan orang-orang Muslim yang bersumber dari pandangan yang tertutup tentang Islam serta disertai prasangka bahwa Islam sebagai agama yang “inferior” tidak pantas untuk berpengaruh terhadap nilai-nilai yang telah ada di masyarakat. (Moordiningsih, 2004)

Sejatinya sejak Amerika yang telah menguasai dunia dengan propaganda kebebasan dan demokrasinya, maka mereka perlu melancarkan serangannya terhadap dunia islam yang dianggap sebagai batu sandungan dalam mencapai tujuannya yaitu mencapai puncak peradaban dunia dengan berjayanya kapitalis. 

Menurut Abdul Qadim Zallum (2001), dalam melancarkan serangannya maka mereka bersandar kepada basis-basis utama berikut ini:

Pertama, posisi AS dalam konstelasi politik internasional danpengaruhnya yang kuat terhadap dunia islam. Tujuan utama dari serangan ini adalah untuk menghancurkan islam dengan cara menggiring dan mengajak umat islam untuk menganut kapitalis-demokrasi.

Kedua, kepemimpinan AS dan negara-negara kapitalis lainnya. AS telah melemahkan pengaruh negara-negara tersebut di dunia islam. Padahal mereka semua saja tidak berbeda dengan AS dalam memandang islam, yakni sebagai bahaya yang mengancam pengaruh dan kepentingan mereka.

Ketiga, legitimasi dan alat internasional yakni PBB dan piagam PBB, termasuk berbagai badan dan organisasi yang menginduk kepada PBB. Semua alat ini telah dikendalikan oleh AS guna menjalankan strateginya agar memberikan legitimasi pada AS secara tindakan dalam bidang politik, ekonomi, militer dan sebagainya.

Keempat, sarana-sarana media massa internasional dijadikan senjata paling mematikan untuk melancarkan serangan. Opini dan propaganda Islamophobia sengaja diciptakan dan dibentuk melalui corong ini. Selain untuk menjaga slogan-slogan yang mereka gunakan. 

Namun paling utama  adalah untuk merekayasa dan menggambarkan citra buruk mengenai islam serta membangkitkan rasa benci dan permusuhan dunia terhadap islam dan pemeluknya. Predikat-predikat yang disematkan sebagai bentuk islamophobia adalah “fundamentalis”, “radikalis”, “ekstremis”, “teroris”, dan sebagainya sebagaimana yang terjadi saat ini “coronajihad”. Tidak diragukan lagi, senjata opini media inilah yang sangat berbahaya, terutama dengan adanya revolusi industri dan komunikasi-informasi abad ini.

Kelima, Keberadaan para penguasa yang menjadi agen AS dan sekutu-sekutunya; termasuk orang yang berada di sekitar penguasa, orang-orang lemah pragmatis, para intelektual yang tertipu dengan kebudayaan dan metode kehiduapan Barat serta sebagian orang-orang yang berpura-pura membela islam seperti para oknum dari kalangan ulama jahat, intelektual sekuler-liberal dan aktivis gerakan.

Selain itu cara dan sarana yang digunakan juga beraneka ragama diantaranya : menyesatkan umat melalui media massa, memanipulasi pemahaman dan hukum islam, menerapkan peraturan kufur dan melegislasi berbagai hukum dan UU. 

Mereka juga mengadakan berbagai macam perjanjian dan kesepakatan agar dunia islam tetap berada di bawah kendali dan cengkraman asing, menjalankan skenario untuk menghinakan umat islam dengan cara memusnahkan nilai-nilai luhur dalam ajaran islam seperti Jihad, Khilafah dan dakwah. 

Termasuk diantaranya adalah dengan membungkam para pejuang dan pengemban dakwah islam dengan cara penangkapan, penganiyaan, penyiksaan termasuk pembunuhan. Tidak hanya itu mereka sekaligus menyebarkan rasa ngeri dan teror kepada masyarakat dengan islamophobia. Padahal sampai saat ini tidak ditemukan fakta dan sejarah bahwa umat islam telah berprilaku sebagaimana yang telah dicitrakan yaitu membuat ketakutan. Padahal hari ini lebih dari 1 milyar pemeluk agama islam yang para tetangganya merasakan aman dan nyaman. 

Kalaupun ada kesalahan itu pemeluknya yang salah dalam mengaplikasi ajaran islam bukan islam itu sendiri. Bahkan bagi sebagian besar pemeluk agama islam, tidak akan pernah bertindak sebagaimana yang dituduhkan. Walhasil islamophobia tidak sekedar phobia yang alamiah namun merupakan strategi barat yang dibuat, diciptakan dan digunakan untuk menyerang islam dan umat islam. 

Benarlah firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS Ali Imran 118)
Wallahu’alam.[]

Oleh : W. Irvandi

Posting Komentar

0 Komentar