TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Inikah Toleransi: "Mencampuradukkan Keyakinan Agama Demi Prinsip Pluralisme Liberal?"


Saya heran dengan video yang ditayangkan oleh salah satu TV Nasional pada hari Selasa, 14 April 2020 yang berisi untaian bait puisi keyakinan agama lain yang dilantunkan oleh anak-anak yang secara simbolik mereka beragama Islam. Menurut saya bukan seperti itu cara kita menghormati dan bekerjasama dengan agama lainnya. 

MUI mestinya bersikap dan bertindak. Kita  sudah  "Toleran untuk tidak saling mengganggu antar pemeluk agama tetapi bukan berarti "dipaksa" untuk mengimani keyakinan agama lain yang berbeda akidahnya". Pantaskah seorang muslim melantunkan  bait-bait syair puisi keyakinan umat lain yang jelas berbeda akidahnya? Beginikah cara kita bertoleransi dan bekerja sama dengan agama lain?

Saya mencoba mengingatkan kembali kepada seluruh umat Islam tentang tragedi dunia yang menggambarkan sikap dan tindakan intoleran umat lain terhadap umat Islam. Belum lama ini ada tragedi yang menimpa umat Muslim India. Dan tragedi ini tentu saja bukanlah tragedi yang pertama, bahkan mungkin bukan pula akan menjadi yang terakhir yang akan terus menimpa umat Islam. Perlakuan demi perlakuan keji lainnya juga masih akan terus dialami oleh kaum Muslim di belahan dunia lainnya di mana mereka berada dalam posisi sebagai minoritas, seperti halnya umat Islam Uyghur di Xinjiang (China), Rohingya di Myanmar ataupun Suriah dan umat Islam di Palestina yang telah sekian puluh tahun tersiksa dalam jajahan Israel yang didukung penuh oleh kafir harbi Amerika dan Eropa.

Itulah bentuk perlakuan nyata dari sikap intoleran yang terus menimpa kaum Muslim di berbagai belahan dunia, akibat dari penyakit Islamofobia yang ditebarkan Barat dan wujud hipokritnya aturan sekularis yang tengah dianut oleh pengampu Pemerintahan negara di seluruh dunia. Yang selama ini mereka berteriak lantang dengan jargon-jargon menjunjung tinggi Hak Azazi Manusia (HAM), namun pada realitasnya mereka hilang suara tentang nasib umat Muslim yang tertindas secara nyata. Prinsip toleransi yang diagung-agungkan hanyalah untuk memenuhi instrumen dan arahan Barat yang sejatinya bukan untuk melindungi seluruh umat manusia terlebih umat Islam namun justru sebaliknya guna untuk menjadikan Islam sebagai sasaran dan kambing hitam.

Padahal jika melihat bagaimana kehidupan serta perlakuan umat Islam kepada non-muslim saat ini, jarang sekali bahkan tidak ada ditemukan kisah atau peristiwa pendiskriminasian dan perlakuan intoleran terhadap minoritas non-muslim yang berada dalam negara-negara yang warga negaranya bermayoritaskan umat Islam. Seperti di Arab, di Turki ataupun di Indonesia, walaupun status keberadaan Muslim adalah mayoritas, kelompok minoritas non-muslim tetap bisa hidup dengan tenang tanpa ada perlakuan diskriminatif dan tindakan kekerasan dari mayoritas umat Islam. 

Namun, dari adanya fakta tersebut, anehnya tetap saja Islam yang kerap mendapatkan tudingan miring dan perlakuan yang tidak adil. Saat keberadaan minoritas non-muslim justru terlindungi dan cenderung merasa aman di bawah sikap toleransi yang diberikan oleh umat Islam namun tidak mampu menghindarkan berbagai tudingan radikal dan intoleran yang senantiasa diarahkan pada mayoritas umat Islam. Inilah wujud keberhasilan konsep toleransi yang diajarkan barat yang terlahir dari paham sekularisme-liberalisme. Yang pada hakikatnya digencarkan memang untuk memerangi Islam. 

Demikian juga secara historisnya, tidak pernah ditemukan cerita kebrutalan dan penindasan dilakukan oleh institusi keagamaan di dunia Muslim, sebagaimana yang terlihat dari Gereja-gereja Eropa. Karena prinsip toleransi yang ditawarkan Islam sungguh sangat jauh berbeda dengan toleransi ala barat yang sangat kontradiktif dengan prinsip kebebasan yang mereka tawarkan. Prinsip toleransi yang diajarkan Islam adalah membiarkan umat lain untuk beribadah dan melaksanakan aktivitas dari keyakinan mereka tanpa harus mengusiknya.
Sekalipun di dalam Al Quran ada makna kafir yang tegas, dan ada aturan terkait hukum berhubungan dengan orang-orang kafir, namun tidak lantas Islam melarang untuk sama sekali bermuamalah dengan mereka. Bahkan dianjurkan untuk saling menolong, terlepas apapun agamanya, selama non-muslim tidak memerangi umat Islam.

Prinsip tegas yang diajarkan Islam tersebut yaitu bersumber dari Kalamullah “Untukmu agamamu, dan untukku, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6).Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). Maka makna sungguh jelas toleransi yang diajarkan Islam bukanlah toleransi kebablasan ala liberal, yang kemudian mencampur adukkan ajaran agama, yang justru bertentangan dengan prinsip kebenaran agama yang dipilih.

Terlihat juga dalam sejarah pada masa kejayaannya, Islam terbukti telah sempurna dalam menjaga dan mengamalkan prinsip toleransi terhadap non-muslim yang berada dalam negara kekuasaannya, hal tersebut dapat disaksikan melalui bagaimana Rasulullah SAW maupun para Khalifah setelah kepemimpinannya dalam mempraktikannya dalam kehidupan individu, masyarakat negara yang mereka urus. 

Sebagaimana kisah dalam kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab saat melakukan pembebasan Baitul Maqdis, Palestina. Pada saat itu Khalifah Umar menandatangani perjanjian damai dengan Pendeta Sofranius yang merupakan pemimpin umat Nasrani dengan memberikan jaminan kepada warga non-muslim agar tetap bebas memeluk agama dan keyakinan mereka. Umat kristiani tidak dipaksa untuk memeluk Islam dan tidak dihalangi untuk mendirikan tempat ibadah maupun beraktivitas beribadah sesuai keyakinannya, mereka hanya diharuskan membayar jizyah sebagai bentuk ketundukan dan jaminan perlindungan oleh pemerintahan Islam.

Begitu juga bisa kita lihat bagaimana toleransi yang tunjukan oleh Islam pada masa Kekhilafahan Utsmani. Hal ini sampai diakui kebenarannya oleh seorang orientalis Inggris, T.W. Arnold yang berkata, “The treatment of their Christian subjects by the Ottoman emperors—at least for two centuries after their conquest of Greece—exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe (Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa).” Ia pun mencatat bahwa keadilan Khalifah Islam sampai membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khalifah Islam dibanding dipimpin oleh Kaisar Romawi walau sama-sama Kristen. (The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, hlm. 1).

Melalui deretan fakta sejarah tersebut maka cukuplah mampu sebagai bukti nyata bagaimana arti toleransi yang diajarkan dan ditawarkan Islam sangatlah berbeda dengan toleransi yang ditawarkan barat dan negeri-negeri pengikutnya di zaman sekarang. Toleransi dalam ajaran Islam mampu mengayomi perbedaan dan keberagaman. Karena perbedaan hakikatnya adalah sunnatullah, baik perbedaan etnis, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, maupun agama di antara umat manusia. Di mana Islam secara jelas memberikan kebebasan dan jaminan kepada warga non-muslim, untuk mengatur sendiri segala hal dalam urusan makanan, minuman, pakaian, pernikahan, perceraian maupun aktivitas hari raya maupun ritual beribadah sesuai keyakinan agama mereka selama tidak menyalahi ketentuan dalam negara Islam apalagi jika ada upaya untuk memerangi Islam.

Oleh karena itu, ketika terjadi peristiwa pencapuradukkan keyakinan, sebenarnya itu bukanlah makna toleransi sebenarnya. Nasib umat Islam tidak boleh terus diujung tanduk, minoritas ditindas sedang menjadi mayoritas pun selalu dituduh intoleran. Umat ini harus segera "melek" dan bangkit dari tidurnya agar mampu menyejahterakan bumi ini tanpa harus menindas minoritas melainkan tetap menghargai dan menghormati mereka sekalipun berbeda akidahnya. Untuk rukun tidak harus memasuki wilayah akidah orang lain, apalagi mencampuradukkannya. Toleran harus, berbuat "ngawur" jangan. Ingatlah, rusaknya Islam bukan dari luar, melainkan justru dirusak dari dalam sendiri. Waspadalah..waspadalah dengan intoleransi berkedok pluralisme liberal.[]

Oleh Prof Suteki S. H. M. Hum
Pakar Hukum dan Masyarakat


Posting Komentar

0 Komentar