TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Herd Immunity Alamiah Diterapkan Dalam Mengatasi Wabah, Solutifkah?


Ditengah Pandemi yang semakin menambah jumlah korban terinfeksi Covid-19 , Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar  Pandjaitan mengeluarkan statemen yang mendapat kecaman banyak publik. Beliau mengatakan soal virus corona tak tahan dengan cuaca panas . “Dari hasil modelling kami, cuaca Indonesia, (di) ekuator yang panas dan kelembaban udara tinggi membuat Covid-19 tidak kuat (hidup),” katanya saat melakukan rapat koordinasi, Kamis (2/4), seperti dikutip dari Kompas.com.

Pernyataan Luhut itupun dibenarkan oleh Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati. Dari kajian sejumlah ahli menyebut terdapat pengaruh cuaca dan iklim terhadap tumbuh kembang virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. " Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis," kata dia.

Padahal Badan Organisasi Kesehatan Dunia dalam rilisnya menyebut, tidak peduli seberapa cerah atau panas cuacanya, semua orang bisa terinfeksi Covid-19. “Untuk melindungi diri Anda, pastikan sering membersihkan tangan dan menghindari menyentuh mata, mulut, dan hidung Anda,” tulisnya.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa Pemerintah lepas tanggung jawab dalam mengatasi wabah. Pasalnyaa, ditengah desakan publik dan para ahli agar Pemerintah segera memberlakukan lockdown dalam mengendalikan sebaran virus tak kunjung digubris oleh Pemerintah. 

Hal ini juga mengkonfirmasi bahwa Pemerintah cenderung mengambil kebijakan Herd Immunity dengan mengorbankan nyawa rakyat. Jika benar demikian , maka sungguh berbahaya.
Bahaya Herd Immunity

Herd Immunity atau kekebalan kelompok yaitu dimana wabah penyakit akibat infeksi virus akan hilang ketika mayoritas populasi kebal, dan individu berisiko terlindungi oleh populasi umum. Dengan begitu virus akan sulit menemukan host atau inang untuk menumpang hidup dan berkembang. Untuk mencapai kekebalan kelompok, mayoritas populasi harus sembuh dari infeksi patogen agar sel memori imun merekam ciri-ciri patogen penyebab penyakit. Caranya bisa ditempuh dengan vaksinasi atau membiarkan tubuh mendapat paparan penyakit secara alami.

Ketika pandemik flu 1918 atau familiar disebut flu spanyol, dunia pernah dengan terpaksa menjalani langkah alami membentuk herd immunity. Penyakit ini dipicu oleh infeksi virus influenza, terjadi dari Maret 1918 hingga Juni 1920. Sekitar 500 juta orang atau sepertiga populasi dunia terinfeksi virus ini. CDC memperkirakan jumlah kematian mencapai 50 juta di seluruh dunia. “Tak ada vaksin, upaya pengendalian terbatas pada isolasi, karantina, menjaga kebersihan, memakai disinfektan, dan pembatasan. Itu pun tidak merata,” tulis CDC. 

Kekebalan kelompok dari infeksi alami berisiko menimbulkan sakit parah bahkan kematian. American Heart Association bahkan mengatakan pemulihan infeksinya memakan waktu lama hingga hitungan bulan bahkan tahunan. Bayangkan berapa banyak negara harus menanggung kerugian dengan menempuh cara ini. 

Populasi untuk kekebalan kelompok pada tiap penyakitpun berbeda persentasenya. Infeksi SARS-CoV-2 pada satu orang diperkirakan dapat menular kepada 2-3 orang lain. Rata-rata algoritma kekebalan kelompoknya harus mencapai 50-67 persen populasi. Dengan jumlah penduduk 271 juta jiwa (proyeksi 2020), Indonesia perlu membuat 182 juta rakyatnya terinfeksi dan membentuk herd immunity. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk lansia di Indonesia berkisar 10 persen. Dengan asumsi tersebut pemodelan kelompok rentan yang harus mendapat penanganan khusus mencapai 18,2 juta jiwa. Jumlah tersebut belum ditambah kelompom rentan lainnya yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, kanker, HIV, dll. 

Sementara jika dihitung dari persentase kematian akibat COVID-19 sebesar 8,9 persen, maka Indonesia akan kehilangan sekitar 16 juta jiwa dari total 182 juta jiwa yang terinfeksi (tirto.id). Jika Herd Immunity menjadi pilihan Pemerintah maka sungguh kebijakan yang dzolim dan berbahaya karena tidak menjadikan keselamatan manusia sebagai prioritas.

Solusi dalam Islam

Pemerintah seharusnya serius dalam melindungi rakyatnya dari pandemi virus corona. Sebagai pemimpin negara yang mayoritas penduduknya muslim sudah selayaknya pemerintah berkaca pada syariat islam bagaimana islam mengatasi wabah penyakit. 

Islam telah memberikan anjuran untuk mengatasi penyebaran penyakit. Dari kitab sahih Muslim Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bentuk penerapan hadis tersebut, maka negara Khilafah akan memberlakukan lockdown dan isolasi khusus bagi penderita wabah. Warga yang positif dijauhkan dari pemukiman penduduk. Sehingga yang sehat tetap bisa beraktifitas dan ekonomi tetap jalan. 

Tak hanya itu, dokter dan tenaga medis dipersiapkan secara matang sehingga bisa bekerja melayani pasien pandemi secara maksimal. Perlindungan terhadap tenaga medis pun sangat diperhatikan oleh negara. Ikhtiar untuk menemukan obat maupun vaksin untuk mengatasi pandemi terus dilakukan. Dan ini sudah dipraktikkan oleh Daulah Islam . Betapa berharganya nyawa dokter dan pasien dalam sistem khilafah.

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita kembali pada konsep islam yang benar-benar sukses dalam penanggulangan wabah. Dan konsep dalam islam saat ini satu-satunya harapan bagi persoalan penanggulangan wabah yang mengancam kehidupan manusia hari ini. Wallahu A’lam Bish-showwab.[]

Oleh : Nurul Afifah
(Ibu Rumah Tangga)

Posting Komentar

0 Komentar