TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Fondasi Sains dan Peradaban Islam


TINTASIYASI.COM-- Sejumlah pemerhati peradaban Islam berpendapat bahwa Islam sama sekali tidak memberikan sumbangan pada peradaban, khususnya pada sains dan teknologi. Menurut mereka, Islam hanya memberikan toleransi pada kebebasan berpikir. Ini berbeda dengan peradaban Nasrani abad pertengahan yang tidak memberikan kebebasan berpikir, bahkan memusuhinya.

Karena itu –menurut mereka– yang membuat maju itu adalah kebebasan berpikir itu sendiri. Para ilmuwan hebat pada umumnya juga bukan orang yang terlalu ketat terikat pada dalil, tetapi lebih mengandalkan akal. 

Misalnya, mereka tidak memegang secara literal ucapan Rasulullah: “Habatussaudah itu obat segala penyakit kecuali maut” (HR Bukhari), tetapi justru mengembangkan berbagai metode kedokteran, bahkan kedokteran bedah. Walhasil, setiap perilaku orthodoksi, yakni kembali memegang teguh dalil, otomatis akan mengekang akal, sehingga berlanjut pada kemunduran berpikir. 

Terpuruknya peradaban Islam di dua abad terakhir ini –masih menurut mereka– adalah akibat dari menguatnya orthodoksi, yang ditandai dari menguatnya berpikir literal pada dalil, tumbuhnya fundametalisme, dan berkembangnya radikalisme. 

Oleh karena itu, umat Islam hanya akan maju dengan menempuh jalan yang sama yang telah dilalui umat Nasrani, yaitu melakukan upaya-upaya moderat, liberalisme pemikiran dan deradikalisasi.

===

Pendapat tadi sebagian memang ada benarnya, tetapi sebagian besar jelas bertentangan dengan fakta sejarah. Mungkin pendapat tadi memang tidak didasari oleh pemahaman sejarah yang menyeluruh, dan bisa pula karena salah memahami fakta sains dan teknologi yang tepat. Memang, sains dan teknologi bisa dipelajari lepas dari apakah ada realitas di luar alam semesta ini atau tidak. 

Artinya, bisa saja seorang saintis kemudian meyakini bahwa yang ada di dunia hanya benda-benda fisik belaka, sedangkan Tuhan, malaikat, setan, surga dan neraka semua hanya mitos. Akibatnya, di peradaban Barat banyak saintis yang kemudian menjadi atheis (tidak percaya adanya Tuhan) atau agnostik (percaya Tuhan, tetapi tidak seperti diajarkan agama-agama). 

Orang-orang semacam ini kelak akan menggunakan teknologi yang diciptakannya tanpa peduli nasib manusia lain.  

===

Lantas kalau memang Islam memiliki suatu metode tentang tatacara mengembangkan sains dan teknologi (epistimologi) bagaimana wujudnya?

Yang pertama adalah membaca

Ayat yang turun pertama-tama adalah ayat tentang perintah membaca! Bacalah dengan nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar dengan perantaraan kalam; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96:1-5)

Padahal Muhammad saat itu bukan orang yang biasa membaca buku yang berat (dia hanya punya kemampuan membaca praktis untuk pedagang). Lagipula saat ayat itu turun tak ada bacaan di gua Hira. Maka yang implisit di ayat itu adalah perintah membaca alam (mempelajari alam) dalam satu nafas dengan nama Allah, artinya belajar untuk mendekat kepada Allah dan dengan taat kepada syari’at Allah.

===

Ayat kedua adalah tentang menulis:

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, (QS. 68:1)

Selanjutnya Allah memerintahkan menggunakan akal, menyebut kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang melihat alam, berpikir, memahaminya dan mempertebal keimanannya:

Dan tak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah murka kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. 10:100)

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah yang berilmu ... (QS. 35:28)

===

Kemudian kita diperintahkan untuk menundukkan alam ini sesuai dengan sunnatullah. Ini adalah landasan teknologi.

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. 45:13)

Rasulullah sendiri telah meletakkan fondasi infrastruktur pengembangan iptek pada kaum muslimin. Banyak contoh-contoh yang diberikan Nabi dan lalu diteruskan oleh para salafus saleh, yang menjadikan ummat Islam dalam waktu singkat bisa mengungguli iptek yang pernah dikuasai oleh bangsa manapun sebelumnya, baik itu bangsa Persia, Romawi, Mesir, India maupun Cina.

Pertama adalah pembentukan penalaran ilmiah. Sejak mula, Islam tidak menerima pendapat tanpa argumentasi rasional, siapapun yang mengucapkan.  

"Kemukakan argumentasi kalian, jika kalian memang benar ". (QS. 27:64)

Islam tidak mengakui sangkaan (zhan) untuk hal-hal yang perlu keyakinan penuh dan ilmu yang akurat.

"Mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan, sedang sesungguhnya sangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun untuk kebenaran". (QS. 53:28)

===

Islam menolak subyektivitas emosi, sebab apapun kesimpulannya, ia berinteraksi pada hukum alam.

"Maka putuskanlah di antara manusia dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. 38:26)

===

Islam mengikis patuh buta (taklid), baik itu kepada nenek moyang, pemimpin, apalagi pada orang awam.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah". Mereka menjawab: "Kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami". Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?. (QS. 2:170)

===

Islam mementingkan pengamatan empiris terhadap langit dan bumi dan segala isinya. "di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?" (QS. 51:20-21)

Rasulullah memerintahkan pemberantasan buta huruf. Pada peristiwa Badar, Rasulullah menawan 70 orang. Sebagian dari mereka menebus dirinya dengan mengajar baca-tulis sepuluh anak kecil muslim hingga bisa. Orang Madinah waktu itu umumnya buta huruf. Di antara "alumni PBH" ini adalah Zaid bin Tsabit, yang kemudian menjadi penulis wahyu.

===

Kemudian sejumlah sahabat juga diperintahkan belajar bahasa asing, utamanya untuk menyampaikan risalah, namun kemudian untuk menyerap sains dan teknologi dari luar. Beliau juga memerintahkan pengumpulan data/statistik. Khuzhaifah bin Al-Yaman bercerta: Kami pernah bersama-sama Rasulullah, dan beliau bersabda, "Buatkan pendataan untukku siapa-siapa yang sudah masuk Islam". (HR. Bukhari-Muslim).

Data itu lalu digunakan untuk perencanaan. Sejarah menunjukkan bahwa setiap keputusan Nabi direncanakan secara matang, baik saat menyampaikan wahyu ke khalayak, saat hijrah maupun ketika mengatur strategi perang. Setelah merencanakan sebaik-baiknya itulah, baru kita menyerahkan hasilnya kepada Allah (tawakkal).

Beliau juga mengakui metode eksperimental. Pada kasus pencangkokan kurma yang ternyata gagal, Rasulullah bertanya: "Apa yang terjadi?". Mereka menjawab: "Baginda telah mengatakan begini dan begitu". Rasulullah bersabda: "Kalian lebih tahu urusan teknik dunia kalian". (HR Muslim). 

Di hadis lain, Rasul bersabda: "Ucapanku dahulu hanyalah dugaanku. Jika berguna, lakukanlah. Aku hanyalah manusia seperti kamu. Dugaan bisa benar bisa salah. Tetapi apa yang kukatakan kepadamu dengan Allah berfirman, maka aku tak akan pernah berdusta terhadap Allah (HR Ahmad).

===

Islam juga mengakui kepakaran dan memerintahkan memegang pendapat pakar dan ilmuwan. “...dan tidak ada yang dapat memberimu informasi seperti yang diberikan oleh pakarnya.” (QS. 35:14). Setiap hal ada ilmunya, setiap ilmu ada pakarnya. Dalam hal-hal teknis, Rasulullah selalu menggunakan bantuan para pakar, baik sebagai pemandu ketika hijrah, maupun ketika mengatur taktik perang.

Segala sesuatu yang mubah dan bermanfaat boleh diambil dari siapapun. Rasulullah bersabda: "Ilmu itu bagai ternak orang mukmin yang sedang tersesat. Di manapun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya" (HR Tirmizi). 

Atas dasar ini, maka umat Islam tidak pernah merasa risih belajar ilmu-ilmu yang tidak terwarnai pandangan hidup pemiliknya, seperti matematika, fisika, kedokteran, ilmu militer hingga administrasi.

===

Di sisi lain, Islam secara sistemik memberantas tahayul, bid’ah dan khurafat. Ketika putra Rasulullah wafat bersamaan dengan gerhana matahari, Rasulullah tidak memanfaatkan momentum tersebut untuk menambah “kehebatan” beliau, melainkan justru bersabda: "Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang tetapi keduanya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah..." (HR Bukhari 2, 152). 

Di sisi lain Rasulullah justru bersabda: "Barang siapa mendatangi paranormal dan menanyakan sesuatu, lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka salatnya tidak diterima selama 40 hari" (HR Muslim).

Dengan semua ini jelas, tanpa Islam, tidak akan ada kebangkitan peradaban yang barokah. Sains dan Teknologi tanpa Islam bisa saja berkembang, tetapi akan mudah disalahgunakan untuk menjajah.

Umat Islam yang tidak menguasai sains dan teknologi, dan menganggap seolah-olah ibadah (mahdah) adalah segala-galanya, akan rentan dijajah.

Hanya Islam yang memandu umat Islam untuk menguasai sains dan teknologi, akan membebaskan dunia dari penjajahan.[]

Oleh: Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar
Sumber artikel : @MuslimahNewsID


Posting Komentar

0 Komentar