TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dakwah (wajib) untuk Semua Umat Muslim

Jatuhnya kekuasaan Daulah Khilafah Turki Ustmani di tangan Inggris yang wilayahnya telah dibagi-bagi menjadi lima puluh lebih negara bagian dan melahirkan pemimpin-pemimpin boneka buatan Inggris, ternyata menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan bagi umat muslim hingga saat ini, mimpi untuk hidup lebih sejahtera dan aman hanya tinggal mimpi belaka, justru penderitaan umat dimulai ketika mereka dipimpin oleh pemimpin boneka buatan Inggris. 

Pasca keruntuhan Daulah Khilafah di Turki pada 3 Maret 1924 hingga kini umat muslim dinaungi oleh sistem kapitalisme, tak dapat dipungkiri realitas rusaknya kehidupan masyarakat akibat penerapan sistem kapitalisme rata menyeluruh mewarnai negeri-negeri kaum muslimin. Kemiskinan, kelaparan, pembantaian, pemerkosaan, diskriminasi, korupsi, seks bebas, narkoba, dan sekelumit permasalahan lainnya yang nyaris menghilangkan identitas keislaman mereka. Kewibawaan dan kehormatan kaum muslimin terlepas seiring dengan runtuhnya junnah (perisai) mereka yakni institusi Daulah Khilafah yang selama 13 abad menaungi umat muslim dalam melindungi dan menjaga aqidah, nyawa, akal, akhlak, kehormatan, keturunan dan harta mereka.

Kini, umat muslim harus menelan pil pahit, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak ada lagi yang akan melindungi mereka. Alhasil, umat tercerai berai dan melangkah tanpa arah yang jelas hingga menjadi mangsa empuk para penjajah yang haus akan 'darah' mereka. Predikat negatif telah tersemat pada diri kaum muslimin melalui propaganda busuk yang dihembuskan oleh kafir penjajah (barat) terhadap islam dan pemeluknya. Label teroris, radikal, intoleransi, dan sederet label negatif lainnya. Tak ada lagi rasa takut di hati musuh-musuh islam terhadap kaum muslimin. Dengan bengis musuh-musuh islam selalu berusaha tak kenal lelah memerangi islam dan pemeluknya. 

Hal ini sudah Rasulullah peringatkan dalam hadistnya : 
Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya.” Ada seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu?” Beliau menjawab, “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad: 21891 dan Abu Daud: 4297)

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Perhatikan firman Allah berikut ini : 
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyeru (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Al Imran : 110)

Allah telah memberikan predikat khoiru ummah kepada umat muslim, dan predikat ini hanya diberikan khusus kepada umat muslim tidak untuk umat-umat lainnya. Predikat khoiru ummah akan bisa diraih ketika umat muslim menegakkan aktifitas amar makruf dan nahyi munkar (dakwah). Apabila aktifitas ini ditinggalkan, berarti umat telah melepaskan predikat tersebut.

Kemaksiatan terbesar adalah pemimpin (negara)

Rasulullah saw bersabda: 
"setiap pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, tetapi tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengurusi mereka dan memberikan arahan kepada mereka, maka dia tidak akan bisa masuk surga bersama kaum muslimin itu."(HR. Muslim)

Dalil di atas dengan tegas Rasulullah memperingatkan agar setiap pemimpin harus bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi rakyatnya dan mengarahkan rakyatnya agar menjauhi kemaksiatan. Karena kepemimpinan tidak hanya amanah untuk menjamin keselamatan rakyatnya ketika di dunia namun kepemimpinan juga amanah untuk mengantarkan rakyatnya untuk menggapai syurgaNya Allah. 

Seorang pemimpin harus amanah dan tegas dalam mengambil sikap terhadap segala jenis kemaksiatan yang terjadi dan dengan adil memberikan sanksi kepada siapapun yang melanggar hukum-hukum Allah.

Namun bagaimana jika penguasa justru yang memfasilitasi terjadinya kemaksiatan?

Peradaban kapitalisme yang masih eksis hingga hari ini telah menghasilkan pemimpin boneka bentukan para kafir penjajah di negeri-negeri kaum muslimin. Kapitalisme yang asasnya memisahkan agama dari kehidupan atau negara tidak akan memberi ruang bagi agama untuk ikut andil dalam pemerintahan. Alhasil segala kebijakan para pemimpin boneka kerap berlawanan dengan apa saja yang diperintah dan dilarang oleh agama. 

Kesejahteraan rakyat  bukanlah hal yang utama, sebab pemimpin boneka bukanlah pelayan rakyat namun pelayan bagi para tuannya yaitu kafir penjajah. Mencari kemaslahatan bagi para tuannya adalah hal yang harus diutamakan, maka tak heran jika kebijakan pemimpin boneka selalu menzalimi rakyat dan menguntungkan para asing penjajah. 
Indonesia adalah salah satu contoh rusaknya tatanan politik akibat penerapan sistem kapitalisme. 

Negara dengan mayoritas umat muslim dan menjadi umat muslim terbesar di dunia, namun tidak menjadikan pemimpinnya menerapkan sistem islam. Bahkan penguasanya bisa dibilang anti terhadap islam, satu per satu para ulama dan pengemban dakwah telah dijebloskan ke dalam penjara karena begitu lantang mengkritisi kebijakan zalimnya. Dengan dalih ujaran kebencian para ulama dan para pengemban dakwah yang berseberangan dengan rezim dikriminalisasi.

Di lain pihak orang-orang yang menghina Islam dan para ulama yang lurus dibiarkan melanggeng bebas tanpa tersentuh hukum. 

Predikat khoiru ummah hanya bisa diraih melalui dakwah

Secara bahasa dakwah adalah seruan, secara istilah dakwah adalah seruan kepada orang lain agar melakukan perbuatan makruf dan meninggalkan kemunkaran.

Banyaknya kemaksiatan yang terjadi saat ini disebabkan karena ditinggalkannya aktifitas dakwah, dimana saat ini makna dakwah dipersempit hanya sebatas di atas mimbar-mimbar dan hanya dapat dilakukan oleh para ulama, kyai dan ustadz. Dengan kata lain, dakwah hanyalah sebuah selingan dikala menghadiri majelis-majelis ilmu namun tidak dijadikan aktifitas utama dalam kehidupan. Maka wajar merebaknya kemaksiatan dimana-mana karena dakwah dianggap hanya berlaku di masjid dan majelis ilmu namun tidak di kehidupan umum. 

Hal itu mengakibatkan umat tak memiliki pemahaman dan kesadaran saat melihat kemaksiatan yang nampak di depan matanya, umat menjadi 'masa bodo' ketika melihat kemaksiatan yang terjadi. 
Kondisi rusaknya tatanan kehidupan masyarakat diakibatkan karena saat ini umat islam tak lagi berpegang teguh pada ajarannya, hegemoni sistem kapitalisme telah mengukung mereka pada solusi semu dan pragmatis dari persoalan hidup yang mendera mereka. Pemikiran umat islam terhalang oleh ideologi kufur yang telah mencederai aqidah mereka sehingga mereka sulit memahami hakikat islam yang sebenarnya bahwa islam adalah aqidah sekaligus peraturan shahih dari Sang Pencipta. 

Realitas kehidupan yang rusak saat ini membutuhkan suatu perubahan menyeluruh agar umat muslim bisa bangkit dan keluar dari sistem yang rusak. Namun perubahan itu tidak akan terwujud tanpa ada pemahaman dan kesadaran yang shahih tentang islam dan hakikat kehidupan. Tentu saja pemahaman dan kesadaran shahih tersebut tidak akan bisa terwujud tanpa adanya aktifitas amar makruf nahyi munkar (dakwah). 

Apa hukum berdakwah?

Dalam nash Al Qur'an Allah telah banyak menerangkan tentang perkara dakwah, salah satunya seperti dalam surat At Taubah ayat 71.

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ﴿التوبة : 

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. At Taubah : 71)

Dari dalil di atas Allah memerintahkan kaum muslim untuk menegakkan aktifitas amar makruf nahyi munkar (dakwah) baik itu laki-laki maupun perempuan, semua sama dalam hal kewajiban mengemban dakwah. Makna dari dalil di atas sudah qath'i yaitu terdapat seruan berdakwah, ada pujian bagi yang melakukannya dan ada ancaman azab bagi yang meninggalkannya. Allah berfirman:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al Anfaal : 25)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam juga menegaskan dalam sabdanya : 
" Sesungguhnya menusia, bila melihat kemunkaran sedangkan mereka tidak berupaya mencegahnya. Maka tunggulah saatnya Allah akan menurunkan azabNya secara menyeluruh." (HR. Abu Dawud)

Islam menggambarkan umatnya bagai sebuah tubuh yang komponen di dalamnya saling mempengaruhi, dalil di atas menerangkan bahwa azab Allah tidak hanya berlaku bagi orang zalim namun juga kepada orang yang rajin beribadah tetapi mendiamkan kezaliman yang terjadi. Itu berarti, azab yang Allah turunkan tidak memandang apakah manusia tersebut zalim atau rajin beribadah. Azab Allah akan turun bila manusia mencampakkan peringatanNya dan ditinggalkannya aktifitas amar makruf nahyi munkar.

Terseretnya umat muslim dalam kubangan kemaksiatan diakibatkan aktifitas dakwah yang tidak kondusif saat ini. Penerapan sistem kapitalisme lah yang sampai kapan pun tidak akan pernah ridho islam menjadi pedoman hidup manusia dan memimpin dunia. Orang-orang kafir (barat) tidak akan membiarkan islam menorehkan kembali peradaban emasnya, anak cucu kaum muslim harus menjadi budak kepentingan mereka untuk itulah mereka tak kenal lelah mencoba memisahkan islam dari benak kaum muslimin. 

Oleh karena itu agar kaum muslimin bisa keluar dari kubangan maksiat ini terlebih dahulu kaum muslim harus bisa melepaskan dirinya dari jerat kapitalisme, namun hal itu bukanlah perkara yang mudah karena sistem kapitalisme telah mentajasad dalam diri mereka, keseharian mereka dan segala macam problem kehidupan mereka masih menjadikan kapitalisme sebagai solusi. Maka disinilah peran para ulama dan pengemban dakwah untuk bersinergi memahamkan umat tentang kerusakan dan kebobrokan kepemimpinan dan sistem kapitalisme. 

Jadi, hanya melalui dakwah pemikiran yang dapat membimbing pola pikir masyarakat agar tercipta suatu pemahaman di benak mereka tentang kebobrokan kepemimpinan dan sistem kapitalisme, dan agar mereka mau beralih kepada islam dan memperjuangkan hukum-hukum Allah agar tegak di bumi ini. Wallahu 'alam bishowab.[]

Oleh : Tri Cahya Arisnawati
(Ibu rumah tangga dan pemerhati umat)

Posting Komentar

0 Komentar