TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Da Covid Code-19: Keteledoran, Kedodoran, dan Kebocoran

[Seri 4 Membuka Kunci Corona]


  Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Gambaran pelajaran dari peristiwa Corona Virus yang menggejala di seantero dunia. Mulanya biasa saja hingga mengabaikannya. Kini seolah kedodoran melawan keganasan corona. Lantas, bagaimana nasib para penguasa-penguasa dunia? Inilah tentu tahun-tahun berat penguasa-penguasa dunia.

  Harus diakui peristiwa Covid-19 bukanlah tanpa sebab. Selain karena qadha Allah, ada sikap manusia yang bisa saja mengabaikan aturan Sang Pencipta. Di Indonesia, rasa sedih melihat sikap pejabat yang duduk di kursi amanah. Bagaimana sikap mereka ketika ditanya terkait Corona yang menggejala? Publik pun sudah mengetahui sikapnya. Tak perlu dicatat di sini. Cukup jejak digital dan berita yang menyimpannya rapi.

  Setidaknya sikap keteledoran berupa meremehkan peristiwa yang menggejala jangan terulang kembali. Hal ini dikarenakan menyangkut hajat hidup dan nyawa manusia. Jika saja peristiwa ini tidak disikapi dengan baik, maka kekalahan itulah yang akan diterima. Alhasil liga Covid-19 akan dimenangkan oleh Corona jika manusianya tak mampu menghalau dan mencegahnya.

  Banyak negara yang kedodoran menghadapi pandemi covid-19. Hal ini karena sistem kesehatan dan gaya hidup manusia begitu jauh dari nama sempurnya. Contoh sistem kesehatan yang dalam model kapitalistik demokrasi saat ini cenderung dikomersilkan. Negara kerap abai bahkan cenderung mengabaikan kondisi rakyatnya. Rakyat sering diminta untuk menjaga gaya hidup sehat, apa daya rakyat tak mampu memenuhinya. Bisa saja alasan ekonomi atau ketidaktersediaan pangan.

  Sistem kesehatan juga kerap diasuransikan. Bisnis kesehatan sangat menggiurkan karena memanfaatkan kegelesihan manusia ketika nanti sakit jika tidak ada dana. Belum lagi obat-obatan dan alat kesehatan. Maka benar juga ketika nabi Muhammad mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering dilupakan yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Akses kesehatan ini bisa jadi murah, jika negara mengurusi dengan benar tanp dipengaruhi kepentingan bisnis. Karena kesehatan adalah kebutuhan asasi manusia.

  Tatkala pandemi kian ganas. Rakyat diminta tinggal di rumah. Akses ekonomi dan lapangan kerja semakin sempit. Bertemu juga dengan pelepasan narapidana dari jeruji penjara. Ada problem baru berupa pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Negara pun akhirnya menggelontorkan dana untuk bantuan sementara. Dana milyaran dan triliunan digelontorkan. Rakyat yang terdampak mendapat bantuan berupa uang dan bahan pokok. Ada hal yang harus diwaspadai yaitu kebocoran dana bantuan. Sering pula banyak pejabat atau oknum tertentu yang tersangkut korupsi dana bantuan. Apa pun bisa terjadi dalam kondisi seperti ini, meski rakyat kerap disakiti.

  Alhasil ada tiga pelajaran penting yang bisa diambil dari peristiwa ini.

Pertama, kemunculan penguasa yang kerap berbeda sikap. Rakyat kerap dibuat bingung. Di belahan negeri yang terdampak Corona pun sama. Niatnya bercanda agar rakyat tak panik, apa daya sudah banyak korban berjatuhan karena corona. Maka di sinilah dibutuhkan kecerdasan sosial dan sikap kenegarawanan yang mencerminkan kemampuan menghadapi wabah.

Kedua, corona telah memukul banyak sektor mulai ekonomi hingga sosial. Dampaknya pun membuat negara manapun berpikir seribu kali. Bayangkan, ada perubahan sosial dalam bekerja, narapidana dibebaskan yang kembali berulah, hingga muncul kelaparan karena kemiskinan dan akses ketahanan pangan yang lemah.

Ketiga, sikap manusia yang sering melupakan manusia lainnya. Mencari kesempatan di kala kesempitan bagi manusia yang cinta dunia membutakan segalanya. Masa bodoh dengan mereka yang terkena wabah. Alhasil, bantuan yang kerap diberikan tak dapat maksimal. Banyak sekali yang menjadi korban di atas korban.

Oleh karena itulah tiga sikap: keteledoran, kedodoran, dan kebocoran jangan terulang, karena akan ada badai baru yang siap menghadang. Kita pun akhirnya tahu bagaimana para penguasa itu sejatinya dengan tersibak pelan-pelan dari peristiwa Corona.[]

Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)

Posting Komentar

0 Komentar