TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

COVID-19 Menghentikan Mesin Ekonomi Kapitalisme


Tersebarnya wabah COVID-19 di seluruh penjuru dunia secara cepat dan luas dengan beragam dampak multi dimensi seharusnya membuka mata dunia bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang lemah. Selain dampak kemanusiaan, wabah COVID-19 juga berdampak pada berhentinya mesin perekonomian kapitalisme yang selama ini mendominasi mainstream sistem ekonomi dunia. Apa maksudnya? 

Salah satu pilar utama pembentukan sistem ekonomi kapitalisme adalah adanya asumsi dasar pasar sebagai media transaksi dan distribusi sumber daya ekonomi bagi para pelaku perekonomian. Keberadaan pasar ini seharusnya memenuhi beberapa kriteria agar dapat menjadi media persaingan sempurna diantara para pelakunya sehingga mekanisme transaksi dan distribusi dapat berjalan secara baik. 

Diantara kriteria tersebut misalnya, informasi tersedia secara bebas dan dapat diakses secara terbuka tanpa biaya yang berarti bagi para pelaku, tidak ada hambatan untuk masuk atau keluar pasar, mekanisme permintaan dan penawaran dilakukan secara fair sebagai bagian pembentukan harga, para pelaku memiliki pilihan bebas menentukan transaksi dan bersikap rasional, dan lain sebagainya. Dengan asumsi pasar persaingan sempurna inilah mula awalnya beragam konsep dasar ekonomi dibangun.

Hanya saja dalam perkembangannya, banyak ekonom yang menemukan bahwa kondisi di lapangan tidak sebagaimana yang mereka bayangkan. Ada informasi tidak seragam (asymmetry information) diantara para pelaku transaksi, adanya hambatan dan biaya signifikan dalam bertransaksi, pelaku yang tidak rasional (irrational behavior), dominasi satu atau beberapa kelompok dalam menentukan harga (mono atau oligopoly), serta beragam kondisi tidak ideal lain di pasar menjadikan konsep atau teori yang dibangun tidak berjalan sebagaimana seharusnya. 

Dari sinilah kemudian muncul beragam mazhab perekonomian yang berusaha untuk meneliti beragam ketidakberesan (disorder) di pasar untuk memperbaiki kondisi sehingga teori yang ada dapat berjalan dengan baik. Ada mazhab institutional, behavioral, political, monetarist, dan sebagainya. 

Meskipun terdapat ragam pendekatan dan konsepsi yang berbeda, semuanya disandarkan pada satu ideology dasar yang sama bahwa pasar merupakan sistem terbaik mengembangkan dan mendistribusikan sumber daya diantara para pelaku ekonomi. 

Bersama dengan pandangan materialism dan liberalism, konsep dasar ini berkembang dengan menjadikan capital sebagai instrument terbaik dalam akselarasi perolehan keuntungan. Untuk itu penting dibentuk lembaga yang dapat menyedot modal di tengah masyarakat yaitu perbankan dan lembaga keuangan serta sebagai mediator untuk menggelontorkannya di sektor yang membutuhkan modal besar.

Meskipun telah mengalami evoluasi dari teori klasik, neo klasik, Keynesian, neo Keynesian, post Keynesian dan seterusnya, fokus studi pada pasar, pelaku, perilaku pelaku, instrument yang terlibat, mekanisme yang berjalan pada ekonomi kapitalisme tidaklah berubah. 

Evaluasi pemikiran ekonomi tersebut juga sejalan dengan perkembangan sosial politik masyarakat yang ada melintasi beragam kondisi nyata yang terjadi. Terdapat toreksi teori yang ada karena tidak mampu menjawab fenomena ekonomi yang terjadi pada masanya. Itupun dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Lalu bagaimana kapitalisme menghadapi wabah COVID-19 yang terjadi dengan cepat seperti saat ini? Tampaknya Kapitalisme menghadapi detik-detik keruntuhannya. Bagaimana bisa ekonomi dapat berjalan apabila pasar-pasar terpaksa dihentikan? 

Transaksi dan perputaran sumber daya ekonomi praktis tidak berjalan. Pertumbuhan ekonomi akan terhenti. Bahkan proyeksi beragam lembaga ekonomi dunia menyebut angka minus atas prediksi dampak wabah COVID-19. Jika mesin ekonomi pasar berhenti, bagaimana pertumbuhan dan distribusi sumber daya dapat berjalan?

Inilah kesalahan mendasar dalam kapitalisme yaitu fokus utama permasalahan ekonomi bagi manusia bukanlah pertumbuhan, tetapi distribusi sumber daya ekonomi. Sebagian kapitalis menjawab (dengan argument dan riset empiris) bahwa pertumbuhan ekonomi juga akan menciptakan distribusi perekonomian secara tidak langsung, meskipun sedikit melalui kumulasi modal dan perputarannya (trickle down effect). 

Perbaikan pasar sebagai media transmisi dan distribusi sumber daya ekonomi telah pula diteliti secara luas dan mendalam kekurangannya pada pelaku, perilaku, mekanisme dan keterlibatan pemerintah dalam menjaga (regulator) sistem yang berjalan. 

Termasuk dalam bentuk kebijakan (policy) dan penerapannya secara langsung pada perekonomian. Tetapi di bagian mana yang belum terungkap dan diperbaiki?

Kapitalisme menganggap bahwa akses terhadap sumber daya ekonomi bersifat bebas. Apapun jenisnya semua bentuk sumber daya ekonomi dapat dimiliki dan dikuasai oleh siapapun yang bisa memperolehnya. Tidak ada pembagian yang jelas mana barang (jasa) publik, privat dan negara. 

Semuanya bisa diperoleh secara privat, baik individu maupun korporat. Bahkan semua barang dan jasa yang hanya boleh dikuasai oleh negara pun dapat dibeli dan dikuasai oleh individu atau korporat.

Jikalaupun ada yang menyebut barang publik, ruang publik, ataupun layanan publik yang ada sekarang, pada hakikatnya itu semua adalah ‘label’ atas barang dan jasa yang seharusnya dikelola oleh pemerintah. Kesemua itu ada pula yang dikelola yang swasta atas persetujuan pemerintah.

Jika kumulasi seluruh sumber daya ekonomi (aset) yang ada di dunia telah mencapai triliunan dolar (dan banyak yang belum ternilai) lalu dimana aset tersebut sekarang? Siapa yang memiliki? Siapa saja yang menikmati?

Sistem ekonomi yang ada telah menciptakan mekanisme penambahan aset secara berlipat, paling tidak berdasarkan valuasi moneter yang ada, tetapi pemilik dan penerima manfaat aset tersebut tidak beranjak dari lingkungan para pemodal. 

Dengan berhentinya pasar dan mekanisme ekonomi di tengah wabah COVID-19 ini, maka apa manfaat aset tersebut di tengah bencana kemanusiaan akibat virus?

Aset itu kini berhenti di rekening perusahaan besar dan pemilik modal besar di lembaga keuangan besar dunia. Meskipun bisa jadi distribusi infrastruktur aset tersebut tersebar di berbagai tempat, tetapi penerima manfaat utama tetaplah di tangan kapitalis. 

Islam sejak awal menunjukkan konsep dasar ini sebelum banyak mengeksplorasi sistem keadilan ekonomi yang diciptakannya, yaitu bahwa kepemilikan sumber daya terbagi menjadi 3 jenis kepemilikan individu, kepemilikan negara dan kepemilikan umum. Ketiganya dibedakan dalam islam karena karakteristik dan peruntukkannya sehingga jelas bagaimana perolehan, pengembangan dan pemanfaatannya.

Kategori kepemilikan umum dijelaskan dalam salah satu hadis Nabi SAW. Rasulullah saw telah menjelaskan dalam sebuah hadits bagaimana sifat fasilitas umum tersebut. Dari lbnu Abbas, bahwa Nabi saw bersabda:

“Kaum muslimin berserikat dalam tiga barang, yaitu air, padang rumput, dan api.”(HR. Abu Daud)

Anas ra meriwayatkan hadits dari lbnu Abbas ra. tersebut dengan menambahkan: Wa tsamanuhu haram (dan harganya haram), yang berarti dilarang untuk diperjualbelikan. lbnu Majah juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda :

“Tiga hal yang tidak akan pernah dilarang (untuk dimiliki siapapun) yaitu air, padang rumput, dan api.” (HR. Ibnu Majah).

Begitu halnya dengan kepemilikan negara. Aset milik negara merupakan hak seluruh kaum muslimin yang pengelolaannya menjadi wewenang negara, dimana negara dapat memberikan kepada sebagian warga negara sesuai dengan kebijakan yang diambilnya. 

Makna pengelolaan oleh negara ini adalah adanya kekuasaan yang dimiliki negara untuk mengelolanya semisal harta fai’, kharaj, jizyah dan sebagainya.

Apa makna pembagian kepemilikan atas sumber daya ekonomi tersebut? Tentu banyak hikmah yang terkandung didalamnya. Salah satunya adalah menghindari kekayaan yang hanya mengalir diantara orang-orang kaya saja. Allah SWT berfirman

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (Q.S. Al Hasyr: 7).

Dalam kapitalisme, kumulasi modal merupakan aspek penting untuk dapat melakukan akselarasi pertumbuhan (penambahan) modal menjadi lebih besar. Dan ini adalah sifat dasar dari harta atau aset yang kita miliki. Dengan ketentuan tersebut, tentu tidak setiap orang dapat memiliki atau menguasai aset yang dibutuhkan oleh orang banyak sehingga upaya distribusinya tidak bergantung pada ‘ilusi’ pasar sempurna atau keyakinan invisible hand. 

Ini adalah sebagian kecil dari pengaturan islam dalam hal perekonomian. Masih banyak lagi syariat islam yang memberikan panduan dalam berekonomi. 

Dalam aspek harta (aset) ini tidak hanya kepemilikan, tetapi juga pengembangan, pemanfaatan, dan distribusi yang diatur oleh syariat. Belum lagi terdapat mekanisme pasar syariah yang ‘menjamin’ terwujudnya media transaksi atau pertukaran barang dan jasa di tengah-tengah masyarakat.

Begitulah islam, agama yang diturunkan olah Sang Pencipta Alam Semesta, Maha Tahu lagi Maha Kuasa. Seluruh ciptaan tunduk dan berdzikir kepadanya atas segala Rahmat yang diberikanNya. Tidak ada satupun yang luput dari kekuasaan dan ilmuNya. Segala Puji Hanya BagiNYA, Rabb al ‘alamin.[]

Oleh Ihda Arifin Faiz, MSc
Founder dan CEO Rumah Syariah Institute


Posting Komentar

1 Komentar