TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

CARA NEGARAWAN BALAS DENDAM


Beberapa tahun terakhir sudah, 
banyak kawan-kawan saya yang difitnah.  
Karier mereka dicegah.  
Bisnis mereka dijadikan sampah.  
Bahkan acara-acara mereka dibuat bubrah.  
Penyebabnya hanya satu: phobia KhiIafah !

Padahal khiIafah itu ajaran Rasulilah.
yang diteruskan para shahabat yang ijma'nya tak bisa salah.
Tapi itu membuat galau dan cemas para penjajah.
Maka mereka akan merancang makar agar kita kalah.
dengan adu domba antara "yang radikal" dan "yang tengah".
Agar cita-cita rahmatan lil ' alamin itu berubah.
Dan bahkan jejak Islam terhapus dari sejarah.  

Tapi percayalah.
bahkan bila telah tegak dan jaya KhiIafah,
kawan-kawan saya tidak dendam dengan pongah,
karena mereka negarawan sejati yang islamnya kaffah.

----------------------------------------------------------------------------------

Ini teladan kisah seorang muslim negarawan sejati
BUYA HAMKA

(saya copas dari https://id.quora.com/Bagaimanakah-cara-balas-dendam-paling-elegan-versi-kamu/answer/Muhammad-Toha-2)

Pada suatu hari, Buya Hamka, seorang tokoh nasional yang juga sastrawan dan ulama besar, kedatangan tamu. Sepasang kekasih. Yang perempuan mengaku bernama Astuti. Yang pria bernama Daniel Setiawan.

Hamka terkejut, ketika Astuti memperkenalkan diri. Dia mengaku putri sulung Pramudya Ananta Toer, seorang tokoh sastra terkenal yang pernah mendekam di pengasingan Pulau Buru, karena dituduh simpatisan PKI.

Astuti mengutarakan maksud kedatangannya. Dia menyampaikan pesan dari ayahnya untuk menemui Hamka. Astuti bercerita hendak menikah dengan Daniel.

Yang menjadi masalah, Pram tidak setuju jika anaknya menikah dengan pria yang berbeda agama. Astuti seorang muslim. Sedangkan calon suaminya seorang Non Muslim. Sementara Pram sendiri, orang yang tak pernah menyebut memeluk agamanya tertentu.

Ayahnya meminta Astuti menemui Hamka agar bersedia mengajari Daniel tentang Islam, sekaligus menjadi saksi pernikahan keduanya.

Apa reaksi Hamka? Hamka sebenarnya layak menaruh dendam!

Beberapa tahun sebelumnya, pada tahun 1963-an, Harian Rakyat yang berbau komunis menempatkan berita headline yang menghebohkan jagat tanah air. Karya Sastra yang dikarang oleh Hamka yang berjudul; Tenggelamnya Kapal Van der Vijck, dituding hasil jiplakan. Hamka dituduh melakukan plagiat.

Tak cuma itu, Harian Bintang Timur dalam lembaran Lentera, juga memuat dan mengulas sebuah tuduhan. Hamka dituding telah mencuri karangan asli dari pengarang Alvonso Care, seorang pujangga Perancis.

Sejak saat itu, berbulan-bulan lamanya kedua koran komunis itu membuat tulisan-tulisan yang mendiskreditkan Hamka. Tidak hanya menyerang karya satranya, bahkan juga menyerang secara pribadi.

Siapakah orang di balik tuduhan-tuduhan miring itu? Namanya; Pramudya Ananta Toer.

Selang setahun kemudian, di tahun 1964, Buya Hamka yang kerap mengkritisi Sistem Demokrasi Terpimpin, yang menyebabkan kekuasaan Soekarno sangat besar dan absolut, difitnah oleh orang-orang yang membencinya.

Hamka dituding akan melakukan pembunuhan kepada Soekarno. Kelompok PKI ditengarai berada di balik fitnah dan tudingan tersebut.

Akibatnya, atas perintah Soekarno, Buya Hamka dijebloskan ke dalam penjara tanpa melalui proses pengadilan. Padahal, Soekarno dan Hamka adalah sahabat lama. Mereka sama-sama pernah berjuang untuk mendirikan dan mempertahankan republik ini.

Selama 2 tahun 4 bulan lamanya Hamka berada di jeruji besi, dan mendapatkan perlakuan yang kejam. Keluarganya dimiskinkan. Karya-karyanya dilarang. Dan nama baiknya dihancurkan.

Nah, justru pada hari itu, dihadapan Hamka, ada sosok perempuan yang karna ayahnya, Hamka dan keluarganya pernah hidup menderita.

Tetapi, Hamka memilih tidak menuntut balas.

Hamka justru menyambut pasangan itu dengan ramah. Bahkan Hamka pulalah yang langsung menuntun Daniel mengucap dua kalimat syahadat, mengajarinya keduanya tentang Islam, serta menjadi saksi nikah keduanya.

Bagaimana dengan Soekarno, yang pernah memenjarakan Hamka?

Pada suatu hari, tanggal 21 Juni 1970, dua orang bertamu ke rumah Hamka. Pejabat tinggi; Kafrawi, Sekjen Departemen Agama dan Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto.

Kedunya membawa wasiat dari Soekarno. “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku,” begitu pesan Soekarno.

“Jadi beliau sudah wafat?” kata Hamka bertanya kepada Kafrawi.

“Iya Buya. Bapak telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso,” jawab pembawa pesan tersebut.

Buya Hamka langsung gegas ke Wisma Yaso. Hamka berdiri paling depan untuk memimpin sholat jenazah, sebelum jenazah Soekarno diterbangkan ke Blitar untuk dimakamkan. Hamka pula yang mendoakan Soekarno, dan meminta semua yang hadir, untuk memaafkan Soekarno jika mempunyai salah dan khilaf.

Dalam kesempatan terpisah, beberapa tahun berselang, salah seorang teman Pramudya, Hoedaifah Koeddah, menanyakan alasannya mengirim calon menantunya kepada Hamka untuk mempelajari Islam.

Pram pun menjawab dengan penuh ketegasan. "Masalah paham kami tetap berbeda. Tetapi saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka,?" tutur Pram seperti dikutip dalam buku Ayah, karya Irfan Hamka.

Sedangkan atas nasibnya yang pernah dipenjara oleh Soekarno untuk tuduhan yang tak terbukti, Hamka justru pernah berujar; "Saya bersyukur pernah dipenjara. Sebab, jika saya tidak dipenjara, tidak mungkin saya bisa menulis buku tentang Tafsir lengkap Al-Quran," ujarnya.

Harap anda tahu. Selama di penjara inilah, Hamka membuat sebuah karya monumentalnya. Sebuah buku sebanyak 9 jilid tentang tafsir lengkap Al Qur'an 30 Juz. Buku itu dinamai: Tafsir Al Qur'an Al Azhar.

Begitulah Hamka…Seorang yang berhati besar, yang membalas dendamnya dengan hati yang lapang!

----------------------------------------------------------------------------------
Oleh : Prof Fahmi Amhar

catatan:
Bagi orang-orang yang buta sejarah, mereka lebih mengelu-elukan tokoh Pramudya Ananta Toer, bahkan pernah mengusulkan agar Pram dianugerahi Nobel Kesusasteraan.

Posting Komentar

0 Komentar