TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Bebaskan Napi di Tengah Wabah, Rakyat Semakin Resah

sumber foto: liputan6.com

Baru 4 hari menghirup udara bebas berkat program asimilasi COVID-19, Agustian kembali ditangkap. Pria berusia 24 tahun itu ditangkap karena kepergok warga mencuri sepeda motor. (detik.com, 12 April 2020)

Di saat negara-negara lain seperti Malaysia dan Turki mengerahkan narapidana di Negaranya untuk membantu proses produksi APD para tenaga medis. Di Negeri ini, petinggi negara malah mengambil tindakan membebaskan puluhan ribu napi. Hal itu dinilai untung karena menimbulkan hematnya anggaran negara.

Penghematan anggaran negara sebesar 260 miliar rupiah yang terjadi setelah 30 ribu narapidana dan anak pidana mendapatkan asimilasi di rumah serta mendapat hak integrasi berupa pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, dan cuti bersyarat itu merupakan angka rupiah yang sangat fantastis bukan?

Namun miris, kebijakan pembebasan yang dilakukan atas dasar mencegah paparan virus corona ini malah menimbulkan masalah baru di masyarakat. Yakni bertambahnya kecemasan masyarakat, mulai dari virus corona yang semakin merebak, sulitnya memenuhi kebutuhan, dan kini napi-napi yang beraksi.

Bahkan sebagian masyarakat turut mengecam dan menilai bahwa kebijakan ini hanya akal-akalan. Hendak terbitnya Revisi UU Pemasyarakatan yang merupakan sikap istimewa kesekian bagi para koruptor, rakyat mencermati pemerintah hanya sedang mencari momen untuk melepaskan para koruptor dari jerat hukuman.

Seharusnya pemerintah dapat lebih jauh menimbang akan kebijakan yang hendak dilakukan. Kalimat yang berbunyi "mengatasi masalah tanpa solusi" tepat sekali disandarkan pada kebijakan hari ini. Solusi yang ada sekadar solusi tambal sulam yang entah kapan selesai.

Dan Islam dengan ajarannya yang sempurna sebagai agama dan aturan kehidupan mempunyai solusi tuntas untuk mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah. Sudah ada di dalam Islam sebuah konsep preventif dan kuratif untuk mencegah dan mengatasi kerusakan. Sebagaimana hadits populer yang diriwayatkan oleh Al Bukhari terkait pencegahan wabah yang mengakibatkan kecemasan di masyarakat hari ini:

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada jangan kalian tinggalkan tempat itu.”

Bukankah apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam tersebut merupakan solusi tuntas? Dengan dilakukan lockdown secepat itu maka penyebaran virus pun tidak akan berkembang pesat seperti hari ini.

Kecemasan rakyat berikutnya terkait sulitnya pemenuhan kebutuhan pokok di saat pandemi pun sebenarnya dapat diatasi dengan Islam. Sebagaimana dalam konsep Islam, negara memiliki peran untuk mengambil alih penuh pengelolaan SDA milik negara, tanpa memberi kesempatan kepada asing untuk mengelolanya. Dengan begitu, hasil pengelolaan SDA dapat mengalir seluruhnya kepada masyarakat, sehingga kebutuhan pokok pun terpenuhi.

Begitu pun dengan pembebasan narapidana hari ini. Hukum-hukum yang diterbitkan oleh Islam adalah hukum yang menjerakan, sehingga membuat takut para pelakunya. Maka yang dilakukan apabila proses hukum yang menjerakan itu belum selesai, tidak ada tindakan pembebasan begitu saja kepada para pelaku kejahatan apalagi sampai menimbulkan gaduh di masyarakat.

Selain bersifat preventif dan kuratif, hukum Islam pun bersifat efektif dan efisien. Karena tidak semua pelaku pelanggaran diberi sanksi dipenjara, sehingga negara tidak harus mengeluarkan anggaran untuk biaya hidup para kriminal di penjara. Contohnya 

Hadits Abdullah bin 'Amr Radhiyallahu 'Anhu dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

"Ketahuilah diyat pembunuhan yang mirip dengan sengaja yaitu yang dilakukan dengan cambuk dan tongkat adalah seratus ekor unta. Diantaranya empat puluh ekor yang sedang hamil"

Sanksi untuk pelaku tindakan pembunuhan di atas merupakan salah satu contohnya. Melihat hadits di atas pula kita kembali lagi kepada sifat hukum Islam yang menjerakan. Para kriminal tentunya akan berpikir berulang kali untuk melakukan kejahatan yang serupa.

Dan agar ketenangan yang kita damba saat ini tidak hanya menjadi mimpi, saatnya kita kembali pada solusi yang bersumber dari Sang Ilahi. Sejatinya, hamba yang berjuang mengembalikannya tidak akan menjadi hamba yang merugi.[]

Oleh: Nuraeni Erina Aswari

Posting Komentar

0 Komentar