TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Baru Terduga Tapi Sudah Didor, Dimana Nalar dan Nuraninya?


Berita memilukan kembali hadir mengoyak nalar dan nurani umat Islam. Dilansir melalui laman kiblat.net 13/4/2020 mengabarkan seorang pemuda bernama Qidam Al-Fariski Mofance (22 tahun), warga Desa Kilo Kecamatan Poso Pesisir Utara tewas di tangan aparat pada Kamis, (09/04).

Ironisnya, Qidam Al Farisi (22) dituduh dan diberitakan di media terlibat jaringan MIT (Mujahidin Indonesia Timur), seperti dilansir oleh laman berita online radarsulteng.id pada Jumat, 10/4/2020.

Kiblat.net menjelaskan kondisi Qidam saat jenazahnya diterima keluarganya. Dalam sebuah tayangan video, saat diterima keluarga jenazah Qidam nampak penuh dengan luka tusuk, sayatan memanjang di sisi tubuh dan luka tembak.

Berdasarkan keterangan keluarga, leher Qidam dalam kondisi patah. Kulit paha hingga dekat kemaluan terlihat disayat memanjang. Selain itu ditemukan juga luka tusukan pisau di leher dan sayatan di dada sebelah kiri dan kanan. Tak hanya itu, bekas luka tembakan juga nampak di dada depan hingga tembus belakang.(https://www.kiblat.net/2020/04/12/disangka-teroris-qidam-al-farisi-tewas-didor-aparat-di-belakang-polsek-poso-pesisir-utara/)

Sungguh zalim yang dipertontonkan di muka umat Islam. Belum selesai duka umat Islam atas banyaknya kasus kriminalisasi ulama dan aktivis Islam, sekarang umat Islam disuguhkan oleh kabar yang menyakitkan atas kabar yang menimpa saudara Qadim Alfarisi.

Solidaritas Umat Islam Poso telah mengeluarkan pernyataan mengecam tindakan pihak kepolisian dan mereka yakin Qidam Al Fariski bukan anggota kelompok maupun yang dihubungkan dengan terorisme. (https://www.faktakini.net/2020/04/pernyataan-sikap-solidaritas-umat-islam.html?m=1)

Sungguh keliru, jika aparat melakukan tindakan zalim sampai menewaskan Qidam. Lalu, bagaimana umat Islam bisa simpati kepada aparat jika yang ditpertontonkan seperti ini?

Lebih-lebih kasus ini baru dugaan, seharusnya Qadim diizinkan untuk membela dirinya. Jangan main hakim sendiri, karena Qadim punya hak untuk membela dirinya atas tuduhan yang menimpanya.

Inilah bukti buruknya hukum di negeri ini, tumpul ke atas, tajam ke bawah khususnya umat Islam. Sampai sekarang, masih banyak kasus korupsi yang tak jelas hasil akhirnya dan belum ketemu pelakunya. Aneh jika terhadap kasus terorisme dan radikalisme, sikap penegak hukum begitu 'grusa-grusu' hingga sampai ada dugaan siksaan yang menewaskan korban terduga.

Atas dasar apa mereka melakukan hal tersebut? Apakah mereka lupa bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban? Apakah mereka lupa jiwa yang telah hilang nyawanya akan menuntut di pengadilan tertinggi yaitu yaumul hisab?

Penguasa tidak boleh diam, harus menegakkan hukum seadil-adilnya. Karena, hilangnya nyawa seorang Muslim lebih berharga dari dunia dan seisinya. Islam adalah agama yang menjaga akal dan jiwa, haram hukumnya membunuh seseorang tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syariat.
Sekarang pertanyaanya apakah keadilan bisa ditegakkan di negeri ini? 

Jika kezaliman yang terus dipertontonkan tidak ada solusi lain kecuali umat Islam harus bersatu dan mengupayakan penerapan Islam secara kaffah. Karena hanya hukum Islam yang mampu mewujudkan keadilan hakiki dan menumpas segala bentuk kezaliman yang ada di muka bumi. Wallahu'alam.[]

Oleh Ika Mawarningtyas
Analis Muslimah Voice

Posting Komentar

0 Komentar