TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Waspada Bullying pada Anak


Beredarnya video aksi bullying yang dilakukan oleh tiga siswa terhadap seorang siswi SMP di Purworejo. Siswi tersebut dipukul kepalanya hingga ditendang oleh teman sekelasnya. Tiga orang siswa yang menjadi pelaku terkenal nakal dan suka mengganggu temannya. (Suara.com). Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Tak sedikit pemberitaan ditemukan di televisi. 

Fakta tersebut terkategori bullying atau tidak. mari kita cari tahu pengertian bullying. Bullying dalam Wikipedia adalah penindasan, menggunakan ancaman, penyiksaan untuk mengintimidasi orang lain. Bullying merupakan tindakan buruk yang dilakukan secara sengaja dan tidak sengaja untuk menyakiti orang lain. Seperti kasus yang dipaparkan diatas terkategori bullying yang disengaja untuk menyakiti temannya.

Anak-anak yang harusnya menuntut ilmu dan berprestasi kini teralihkan dengan aktivitas mengganggu dan menyakiti orang lain. Berbagai faktor sehingga yang mempengaruhi hal tersebut baik dari segi pengalaman pribadi individunya karena pernah di-bully ataupun karena faktor lingkungan serta tontonan. 
Hal ini menimbulkan keprihatinan dari banyak pihak. 

Salah satunya dari pemerintah daerah, Kadisdik kota Banjarbaru menggalakkan kembali sekolah ramah anak guna mencegah bullying. Menurut teori tabularasa, anak itu diibaratkan seperti kertas putih. Maka dia dicoret atau dibentuk oleh lingkungan. Menjadi baik atau berkelakuan buruk, banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat dia bertumbuh. Disamping juga dipengaruhi oleh faktor keturunan. Seperti karakter yang diwarisi dari orang tuanya," kata Kadisdik Kota Banjarbaru, DR M Aswan.

Jika kita menelisik lebih dalam, tak hanya kasus bullying saja yang menimpa remaja saat ini namun banyak kasus lain seperti tawuran, seks bebas dan lainnya. Apakah dengan solusi sekolah ramah anak akan bisa menghapus segala sikap anak yang bertentangan dengan nilai sosial dan khusunya nilai agama.

Pendidikan umum saja tidak cukup diberikan kepada anak. Anak-anak bisa jadi akan cerdas untuk ilmu dunia sedangkan ilmu agama minim. Padahal dengan ilmu agama mampu mewujudkan jati diri mereka sebagai seorang muslim minim bahkan tak ada.

Inilah gambar generasi muslim saat ini. Dengan gaya hidup yang serba bebas dan serba boleh mereka bisa berbuat sekehendak hati tanpa memperhatikan lagi norma yang ada. Akibatnya, tak ada penghargaan lagi dengan kehormatan orang lain bahkan nyawa manusia. Yang penting happy menjadi standar kehidupan mereka. Agama dinomorduakan bahkan tak dianggap penting. Ibadah ritual hanya dijadikan rutinitas yang dikerjakan jika tak ada kesibukan. Pelajaran agama pun hanya diberikan selama sekali dalam seminggu disekolah. 

Bayangkan saja padahal agama yang harusnya menjadi pondasi kehidupan minim sekali diajarkan kepada generasi muslim. Sementara pengaruh diluar sangat besar tontonan yang bebes, ditambah lingkungan yang tidak kondusif. Walhasil kehidupan menjadi bebas sehingga kebablasan.

Islam memandang kasus bullying perkara penting yang harus diatasi untuk mencegah rusaknya generasi. Pendidikan menjadi faktor utama penentu jati diri seorang muslim. Individu muslim akan diberikan pendidikan sesuai dengan kurikulum Islam berlandaskan akidah islam. 

Pembentukan pola pikir dan pola sikap akan diwujudkan sehingga terbentuk individu yang memiliki syaksiyah islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.
Mereka selalu diingatkan bahwa setiap perbuatan mereka akan dihisab oleh Allah kelak di akhirat. Antar setiap muslim pun bersaudara tidak saling menyakiti. 

Sebagaimana hadist Rasulullah menyampaikan :
“Setiap muslim adalah bersaudara satu sama lain, tidak boleh menzhaliminya, tidak membiarkannya (terdzalimi), dan tidak juga merendahkannya, cukup seseorang berbuat keburukan dengan cara dia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim).

Selain itu negara juga memiliki peranan penting dalam mengontrol setiap aktivitas individu didalamnya. Memastikan kehidupan terjalin harmonis, damai dan terwujud ketaatan pada syariat. Peran masyarakat juga perlu untuk saling nasehat menasehati jika ada kesalahan yang dilakukan sehingga kerusakan yang terjadi bisa diminimalisir.[]

Oleh: Helda Apriliyanti (Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar