Ummat Islam Tanpa Khilafah, Bagai Anak Tanpa Orangtua


Bulan Maret adalah bulan yang selalu menjadi kenangan bagi kaum muslimin. Kenangan yang terisi dengan memori buruk dan bahkan tidak pernah terpikir sedikitpun oleh generasi sebelumnya.  Peritistiwa tanggal 3 Maret 1924, sebuah peristiwa dahsyat yang mengubah wajah kepemimpinan dunia. Jauh sebelumnya selama berabad-abad, dunia hanya mengenal satu bentuk aturan dan kepemimpinan bagi seluruh ummat Islam di dunia. Tragedi pahit itu adalah runtuhnya Kekhilafahan Ustmaniyah di Istambul oleh seorang agen Inggris, Mustafa Kemal Attaturk.  Agen yang telah dipersiapkan untuk meruntuhkan institusi politik dan pemerintahan ummat Islam yang telah berdiri pertama kali di Madinah hingga berakhir di Turki.  

Selama kurang lebih 14 abad, kepemimpinan Islam di bawah sistem Kekhilafahan telah membawa kemajuan peradaban (civilization) dan budaya (culture) yang tinggi bagi ummat manusia di muka bumi. Bukan hanya ummat Islam yang merasakan keindahan dan keadilan hukum-hukumnya, tetapi non muslim pun terkesima menyaksikan ketinggian Islam dan kekuatan pemikiran yang ada didalamnya. Sungguh, sebuah peradaban yang akan terus menjadi nostalgia terindah. Namun runtuhnya Kekhilafahan  bukanlah untuk diratapai atau dikenang semata karena sudah jadi sejarah. Melainkan ia dijadikan sebagai pelajaran juga penyemangat. Sebab kabar gembira dari Rasulullah saw bahwa ia akan kembali lagi.
ثم تكون خلافة على منحاج النبوة…
“… dan akan kembali Kekhilafahan yang mengikuti metode Kenabian”. 

Ummat Islam Tanpa Khilafah, Bagai Anak Tanpa Orangtua

Kata Khilafah menjadi trending topik di dunia sejak muncul bahkan hingga runtuhnya. Sebab ketika Mustafa Kemal dan Barat meruntuhkannya, Khilafah tetap menjadi perbincangan  dikalangan elit politik dan menjadi focus perbincangan Negara-negara Barat dan koleganya                                                                                                                                    
Sebelum bubar, mereka fokus meruntuhkannya. Setelah runtuh, mereka fokus menghalanginya tegak kembali. Berbagai upaya telah dan akan terus direncanakan oleh pembenci Islam untuk menghadang tegaknya kembali institusi politik ummat Islam tersebut. 
Upaya pembenci Islam yaitu Barat Kapitalis dan koloni-koloninya dalam menghadang kebangkitan Islam sejak runtuhnya, tidaklah main-main. Apapun mereka lakukan. 

Secara fakta, kerja keras mereka untuk mengkampanyekan ide-ide kebebasan dan hak asasi di tangah-tengah kaum muslimin dan dunia dapat dikatakan menuai hasil yang memuaskan. Sebab, semua menuntut kebebasan, menuntut hak sehingga muncul banyak pertikaian, dan perang. Penguasa merasa berhak menindas rakyat, rakyat juga terus menuntut hak dengan segala cara. Halal-haram semua ditabrak dan tidak diperdulikan. Apalagi melihat kondisi generasi abad 21 yang sudah berkiblat ke Barat (the west). Dan agenda westernisasi yang telah 90 tahun lebih berjalan menjadikan Barat sebagai tempat dan impian hidup manusia modern. Meskipun pada hakikatnya tidak seindah pencitraannya.

Generasi muda kaum muslimin 80 tahun terkahir tentu tidak lagi menyaksikan dan merasakan bagaimana hukum Islam diterapkan dalam suatu Negara. Adapun yang masih bisa melihat puing-puing pemerintahan Islam dimasa-masa keruntuhannya, hanya bisa melihat secuil dan tidak merasakan lagi secara keseluruhan gambaran utuh tentang Kekhilafahan. Sehingga sangat sulit bagi ummat Islam hari ini memperoleh gambaran tentang pemerintahan Islam (Khilafah) sebenarnya. 

Justru, pemerintahan Islam hanya dihayalkan melalui standar pemikiran demokrasi Barat yang telah merusak manusia dan ummat Islam. Diperparah lagi dengan pemikiran-pemikiran Barat yang telah mendarah daging dalam benak kaum muslimin selama puluhan tahun yang sulit untuk dibersihkan kembali.  

Pemikiran-pemikiran Barat yang sadar maupun tidak sadar diadopsi kaum muslimin, menjadi senjata Barat untuk menikam pemerintahan Islam dengan tikaman yang luar biasa bahkan mematikan. Namun tidak banyak yang menyadarinya. 

Kini, 99 tahun suadah, Kekhilafahan itu diruntuhkan. Dibunuh karena kebencian, dendam, dan juga dengki. Ratusan tahun Barat telah berupaya meruntuhkannya, baik dari luar dan dalam, dengan pemikiran dan juga senjata. Hingga mereka menuai hasilnya pada 99 tahun yang lalu. Sejak saat itu, ummat Islam dibagi-bagi dengan sekat nation state dan dijajah serta diberlakukan hukum-hukum Barat untuk memimpin negeri-negeri muslim. 

Penjajahan berkedok kemerdekaan, pelayaran, penemuan, bantuan terus didengung-dengungkan agar ummat Islam meneriman ide-ide mereka dengan rido dan ikhlas. Dan ummat Islam telah benar-benar melupakan bahwa Barat (Inggris dan sekutunya) adalah dalang penghancur benteng pertahanan kaum muslimin. Benteng yang ibarat seperti orangtua untuk melindungi anak-anaknya, kini telah tiada.  Ummat Islam telah menjadi yatim sejak runtuhnya Kekhilafahan. Tiada pengayom, tiada pengurus, tiada pelindung, dan tiada pembela.
Masihkah perlu bukti? Lihatlah jeritan muslimah di Palestina sudah puluhan tahun sejak pendudukan Israel, tidak pernah berhenti bukan? Palestina justru disalahkan PBB, jika melakukan pembelaan. Dianggap brutal dan terroris. 

Lalu Israel itu kurang jahat apalagi agar dikatakan brutal dan teroris? Suriah yang dulunya kota indah nan menawan dan rukun dengan keragaman, hancur berkeping-keping seperti tak pernah ada kehidupan. Adakah yang menolong dan membela dengan mengirimkan kekuatan? Justru semua menyerang dengan kekuatan masing-masing. Beranikah Turki dengan Erdogannya sebagai Negara terdekat bahkan sesama muslim untuk melawan Russia, Iran, dan Amerika karena menghancurkan Suriah? Justru Turki malah terlibat. Siapa yang berani mengusir hina tentara AS dari Afganistan? Siapa yang akan mendatangkan air bersih dan makanan dengan jumlah puluhan konteiner untuk warga Yaman? Lebih 8000 anak-anak tidak berdosa mati kelaparan disana akibat konflik kekuasaan yang tidak berkesudahan hingga mengakibatkan kemiskinan dan korupsi yang tinggi. 

Kemudian siapa yang akan mengembalikan muslim Rohingya dengan jaminan keselamatan ke Arakan? Siapa yang bisa mengeluarkan muslim Uyghur dari camp isolasi Komunis China? Siapa yang mampu membebaskan Kashmir dari tekanan pemerintah Hindu India yang super dzalim? Lalu apa yang mampu menyelamatkan Indonesia dari keserakahan, kebohongan, korupsi, hutang luar negeri, pajak yang tinggi, pendidikan dan kesehatan yang mahal, kerusakan moral remaja, serangan LGBT, dan bebas dari penguasa-penguasa bodoh lagi tamak? Sungguh, jawabannya adalah tidak ada! Sebab tidak ada pelindung, tidak ada pembela dan tidak ada yang peduli terhadap nasib ummat Islam. 

Alangkah mirisnya ketika melihat kaum muslimin berjabat tangan dan duduk bersama dengan para pembunuh orangtua (Khilafah) mereka.  Padahal meraka adalah pembunuh dan sedang berkata kepada kaum muslimin: “Sungguh aku telah membunuh oragtua kalian yang lemah, yang layak dibunuh karena perawatannya yang buruk pada kalian. Aku berjanji kepada kalian akan memberikan perawatan yang memberikan kebahagian dan kenikmatan yang nyata.” Lalu mengulurkan tangan mereka yang masih menggenggam pisau berlumuran darah orangtua (khilafah) tersebut. Ummat Islam pasca runtuhnya Khilafah ibarat seorang anak yang  hanya mendengar kisah orangtuanya dari sang pembunuh (Barat dan agennya). Sehingga mampu berjabat tangan dan dekat dengan para pembunuh tersebut. Namun jika anak itu mengetahui atau melihat langsung kebenarannya dan menyadari fitnah yang dilontarkan pada orangtuanya yang dibunuh, bagaimana mungkin seorang anak sanggup menerima uluran tangan pembunuh orangtuanya? 

Apa yang didapatkan ummat islam pasca kehilangan perisai (Khilafah)? Barat Pembunuh  justru memperlakukan anak-anak (kaum muslimin) seperti dalam permainan mangsa antara serigala dan domba. Pembunuh itu berperilku sebagai serigala yang memeihara mangsanya, dibiarkan jalan sedikit-sedikit, berlari-lari kecil disekitarnya. Tetapi saat ia mulai merasakan ada niat untuk melarikan diri dari mangsaan, serigala akan menerkam dan mematikannya. Begitulah perlakuan Barat kepada ummat Islam pasca meruntuhkan kehkhilafahan. Benar-benar seperti kondisi anak tanpa orangtua. 
Khilafah Adalah Harapan, Bukan Ancaman.

Akibat ulah Barat yang membunuh kekhilafahan, kemudian menjelek-jelekkannya kepada anak-anaknya (kaum muslimin), akhirnya banyak dari generasi Islam takut dengan kata Khilafah. Apalagi ditambah agenda monsterisasi kehadiran ISIS yang memberikan kesan menyeramkan terhadap penegakan khilafah. Padahal itu hanyalah hayalan para pembunuh kekhilafahan. Seharusnya sebagai muslim, tidak perlu termakan provokasi Barat pembenci Islam. Jika Khilafah adalah ajaran Islam dan bahkan ulama mengatakan adalah mahkota dari kewajiban, maka belajarlah pada ulama-ulama shaleh dan hanif. Atau tanyalah para pejuangnya.

Hembusan nafas kebencian Barat terhadap Islam dan kaum muslimin jelas akan terus dimainkan demi menghadang tegaknya kembali kekhilafahan. GW Bush Jr. dalam setipa kali berpidato kenegaraan, konon menyebutkan kata “Khilafah” sebanyak 4 kali/pidato. Bahkan Khilafah juga terus menjadi poin sangat penting dalam perbincangan ideologi kapitalis saat ini. Amerika dan sekutunya tidak akan pernah memberikan ruang untuk perjuangan penegakan kembali Kekhilafahan yang berideologikan Islam.  karena  Barat Kapitalis dan rekannya memahami betul bahwa Islam bukanlah tandingan bagi ideologi buatan manusia, seperti sekuler-kapitalis dan sosialis-komunis yang mereka ciptakan. 

Barat dan koloninya wajar jika takut dan benci Khilafah yang berideologikan Islam. Sebab pada hakikatnya itu muncul dari ketidakberimanan mereka kepada Allah dan juga kedengkian. Lalu, sebagai muslim, apa dasar argument untuk membenci Khilafah? Alasan pluritas? Intoleransi? Semua tidak terbukti. Kekhilafahan mengayomi dan menampung pluralitas. Khilafah adalah Negara yang sangat toleran bagi non muslim. Khilafah yang mengadopsi Islam sebagai ideologi, menjadikan Syariat sebagai hukum adalah sistem politik dan pemerintahan yang menjadi harapan semua manusia khususnya kaum muslimin. 

Jadi, Khilafah tidak layak dijadikan ancaman. Jernihlah menilai, adillah berbicara. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Harapan untuk seluruh negeri, seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia Raya. Rasulullah saw mengatakan bahwa dalam kurun 100 tahun akan terjadi pergantian kepemimpinan (wajah babak baru). Dengan kata lain, tinggal setahun lagi lonceng kematian Barat Kapitalis akan berdering, dan fajar kebangkitan Islam di bawah naungan Khilafah akan segera tiba. Amin. Wallahu’a’lam bissawab.[]

Oleh Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen dan Pengamat Politik

Post a Comment

0 Comments