Tragedi Melawan Covid 19

Pandemi Covid-19 awal melanda dikota Wuhan China akhir desember 2019 yang memakan banyak korban. Kota yang awalnya termasuk kota tersibuk di China kini menjadi kota mati, yang setiap sudutnya menggambarkan kecemasan dan wasapada atas keselamatan jiwa. Hingga saat ini sudah tercatat sekitar 152 negara yang sudah terinfeksi virus covid-19.

Covid-19 (virus corona) ialah virus yang mematikan yang diduga berasal dari binatang kelelawar yang dikonsumsi rakus oleh manusia. Virus corona sangat cepat penularannya. Dikutip dari cnbcidonesia.com, 18/03/2020, adapun menurut Wrold Health Organization (WHO), virus corona (covid-19) menular dari orang ke orang, yaitu dari orang yang terinfeksi virus corona ke orang yang sehat. Virus ini menyebar dari tetesan kecil yang keluar dari hidung atau mulut, ketika bersin atau batuk. Tetesan ini kemudian mendarat di benda atau permukaan yang disentuh oleh orang sehat. Lalu orang sehat ini menyentuh mata, hidung atau mulut mereka. Virus corona juga bisa menyebar ketika tetesan kecil itu dihirup oleh orang sehat, ketika orang sehat itu berdekatan dengan orang yang terinfeksi virus corona. Oleh karena itu dianjurkan menjaga jarak satu meter lebih dari orang yang sakit. Saat ini belum ada penelitian bahwa virus corona bisa menular dari udara.

Indonesia negara tertinggi angka presentase kematian corona capai 8,4 persen. KOMPAS.com-  Angka pasien positif covid-19 di Indonesia kemarin (18/03/2020) mencapai 227 kasus dengan 19 kematian dan 11 pasien sembuh. Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr Panji Hadisoemarto MPH, merasa tidak terkejut. Permasalahan utama adalah Indonesia mengalami Under-diagnosis. Bila lebih banyak kasus bergejala ringan ditemukan, tentu presentase kematian akan menurun. Dan berita terkini kasus covid-19 mencapai 309 kasus dan 25 pasien meninggal. 

Under-diagnosis yang lamaban mempersulit pendektesian penyebaran virus yang meluas. Dengan kecepatan penyebaran yang sangat cepat seharusnya pemerintah belajar dari negara yang lebih dahulu terserang covid-19 segera mempersiapkan kemungkinan terparah yang terjadi. Dengan pelarangan masuknya WNA ke Indonesia. Menutup akses angkutan seperti bandara, pelabuhan, dan angkutan umum lainnya. Menyiapkan petugas medis yang kompeten, menyediakan obat-obatan dan tempat isolasi yang memadai. Mengakses segala informasi covid-19 dan penyuluhannya yang sampai ke masyarakat. 

Pemerintah terkesan lamban dalam penyelesaian wabah covid-19. Banyak pihak menganjurkan untuk LOCKDOWN. Sebuah sistem yang salah diterapkannya sistem kapitalis berpahamkan kapital yang hanya mementingkan kepentingan kapital tanpa melihat kesejahteraan rakyatnya. Hanya memikirkan kepentingan ekonomi para kapitalis. Diberitakan pemerintah masih menerima 49 WNA dari China.

Memberi izin kapal pesiar MV Colombus dan Viking Sun untuk berlabuh di perlabuhan semarang. Tambah lagi ekspor masker keluar negeri, ini menunjukan sifat aslinya sistem kapitalis atas sistem ekonomi yang merauk untung tanpa menghiraukan kesejahteraan orang banyak.

Pemerintah hanya menghimbau rakyatnya untuk belajar dirumah, berkerja dari  rumah dan beribadah dirumah. Himbauan ini seakan janggal diterima oleh rakyat yang notabene bercokol paham kapitalisme dan sekulerisme, gimana tidak, rakyat belajar dari pemerintah sendiri dari sistem yang rusak dan kufur. Terpahamkan sistem kapitalis telah melahirkan empat kebebasan yang sangat diagung-agungkan.

Pertama, kebebasan beribadah yaitu pemahaman tentang kebebasan memeluk akidah bagi masing-masing individu, cara pelaksanaan dan tempat dikembalikan  ke individu. Jadi himbauan tentang beribadah masing-masing dirumah dan meniadakan shalat jumat, misa bagi umat nasrani dan perayaan nyepi selama dua pekan seakan merenggut kebebasan tersebut seharusnya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah seraya berdoa agar terhindar dari segala wabah yang ada. 

Kedua, kebebasan bertingkahlaku menerangkan setiap individu berhak bertingkahlaku selagi tidak melanggar hukum pidana. Jadi anjuran berkerja dirumah dan berdiam diri dirumah pastinya sudah merenggut hak para pemaham kapitalis. Seperti di Iran himbauan berdiam diri dirumah oleh pemerintah kepada warganya diacuhkan dan akibatnya membeludaklah warga yang terinfeksi covid-19.

Ketiga, kebebasan berpendapat, paham yang membebaskan mengeluarkan pendapat apapun berbanding terbalik dengan sikap penguasa yang menghakimi dan menuduh hoak pemberitaan tentang pertama kali kasus covid-19 yang ada di media sosial. 

Keempat, kebebasan kepemilikan, wajarlah banyak pengusaha yang memfaatkan situasi ini dengan mempersulit kebutuhan masker dan antiseptik yang sulit didapatkan di pasar dan malah di ekspor keluar negeri.

Inilah sistem kapitalis yang diterapkan. Falsafah sistem kapitalis tidak membatasi kebebasan tersebut. Negara yang membatasi dengan menggunakan kekuatan militer dan ketegasan undang-undangnay. Namun demikian negara hanya berfungsi sebagai sarana, bukan tujuan. Jadi kekuasaan tetap berada pada individu dan bukan negara. 

Walhasil wajar himbauan pemerintah hanya dianggap angin lalu oleh rakyatnyan sendiri. Faktanya walaupun telah keluarkqn himbauan tersebut toh masih banyak yang berkerja di luar rumah, masih banyak tempat hiburan, mal-mal dan pariwisata yang masih buka. Dan pelabuhan dan bandara juga masih ada yang beroprasi. Diperlukan perhatian bahwa hanya sebagian kecil rakyat saja yang paham atas bahaya covid-19. Ketidakpahaman bahaya covid-19 dan acuhnya rakyat pada usaha prevenrif yang dihimbau pemerintah ini akan membuat tragedi covid-19 seperti bom atom yang siap meledak dan menghancurkan segalanya. 

Berbeda jauh dari sistem islam, yang sistem pemerintahannya sistem Khilafah didasari dengan aqidah islam tuntunan dari Allah melalui petunjuk Al quran dan As sunah. Mengikat antara pemerintah dan rakyatnya dengan aturan Allah. Pemerintah sebagai wadah penerapan seluruh syariat islam yang wajib dipatuhi oleh warga negara islam, baik muslim maupun nonmuslim. Setiap warga negara wajib mematuhi pemerintah didasari perintah Allah SWT dalam firmanya QS An nisa ayat 59 yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemimpin diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al quran) dan Rasul (As sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".
Dari dalil diatas jelas bahwa hanya sistem islam yang dapat menyelesaikan pandemi covid-19 dengan syariat islam yang diterapkan oleh Khilafah.

Negara dan rakyat bergandengan tangan untuk menjalankan syariat islam dan menyelesaikan wabah yang terjadi. Seperti yang dicontohkan oleh Nabi. Memaksimalkan ikhtiar dan berdoa kepada Allah. Nabi menyatakan, "jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada disana maka jangan keluar darinya. Ini seperti kebijakan LOCKDOWN.

LOCKDWON yang diterapkan sistem islam sesuai perintah Allah dan Rasulnya. Mempersiapkan segala yang dibutuhkan oleh rakyat, baik kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan. Serta obat-obatan dan mendirikan pusat pengobatan diluar wilayah terpapar wadah dan membawa mereka yang terinfeksi virus berobat. 

Bukan hanya kebijakan negara yang penting kunci lain adalah peran umat. Umat yang mempunyai pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang sama dengan negara, mudah diatur. Dalam kondisi kesulitan umat dengan suka rela mengasuh, mendukung, menjaga dan membantu negara. Inilah pentingnya membangun negara dengan kekuatan umat. Karena dibangun dengan keyakinan dan pandangan yang sama dimiliki oleh umat yaitu aturan Allah SWT. Inilah kunci dari peradaban Islam selama 14 abad yang Insyaaallah Islam akan kembali memimpin dunia menjadi Islam rahmat bagi seluruh alam. Aamiin.[]

Oleh Ratna Sari Dewi

Posting Komentar

0 Komentar