TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Titipan Rasa Sang Maha Kuasa

"Mencintai pasangan halal itu kewajiban, jatuh cinta sebelum akad itu ujian"
Kalimat ini sudah tidak asing lagi ditelinga. Sedangkan pertanyaan yang menggelitik adalah jatuh cinta sebelum akad bila itu ujian, apakah cinta itu takdir ataukah pilihan?

Ibnu Hazm mengatakan, "Seorang laki-laki berkata kepada Umar r.a., 'Wahai Amirul Mukminin, aku pernah melihat seorang wanita, kemudian ku jatuh cinta kepadanya.' Umar r.a. menjawab, 'Itu berada di luar kekuasaan manusia.'"

Hadist yang diriwayatkan Bukhari, yaitu kisah tentang Barirah, suaminya berjalan di belakangnya pada saat ia telah diceraikan sehingga statusnya menjadi wanita yang bukan mahram bagi mantan suaminya itu. Airmata mantan suaminya terlihat meleleh pada pipinya. Maka Nabi Saw. bersabda, "Wahai Abbas, tidakkah kamu takjub terhadap cinta Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits?" Kemudian beliau bersabda kepada Barirah, "Rujuklah dengannya." Ia menjawab, Apakah kamu memerintahkan aku?" Beliau menjawab, "Aku hanya menganjurkan saja." Barirah berkata lagi, "Aku sudah tidak membutuhkannya lagi." Bersamaan dengan itu, beliau juga tidak melarang tumbuhnya cinta pada diri Mughits. Karena kenyataannya cinta itu tidak dapat dibendung dan bukan merupakan suatu pilihan.

Adakalanya cinta muncul tiba-tiba saat pandangan pertama, tapi bukan yang sengaja mengumbar pandangannya. Terkadang cinta itu muncul karena mengikuti hawa nafsu, akibat salahnya interaksi. Bahkan ada yang telah sekuat tenaga menjaga interaksi dan pandangannya, namun cinta masih juga menyapa. Tentu saja adanya benih-benih cinta dan sebab musabab munculnya inilah yang menjadi penentu cinta itu tercela ataukah takdir Illahi semata, sebagai bentuk titipan rasa Sang Maha Kuasa.

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah pernah bertutur tentang cinta yang muncul dapat dikatakan takdir ketika benih-benih itu muncul saat pandangan pertama, yang kemudian dia palingkan pandangan itu sekuat tenaga, namun cinta masih melekat dihatinya. Menurut beliau cinta ini kemunculannya tiada tercela. Namun cinta yang hadir karena terjadi interaksi secara intens yang menyebabkan timbulnya rasa cinta, inilah cinta yang kemunculannya karena mengumbar nafsu, inilah cinta yang tercela. Termasuk cinta yang hadir akibat mengumbar pandangan dan membiarkan pikiran dipenuhi keinginan-keinginan.

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah pun menuturkan cara meredam rasa cinta itu, apa pun penyebab munculnya cinta, ketika cinta terlanjur menyapa, hindari interaksi dengannya, jaga pandangan terhadapnya, singkirkan angan dan keinginan yang muncul di dalam hati. Bila telah bersungguh-sungguh mengusahakannya, rasa cinta itu akan sirna, namun beliau menuturkan pula, bila usaha menepis rasa telah dilakukan semaksimalnya tapi rasa cinta itu tidak jua menghilang, maka terimalah itu sebagai takdir Sang Pemilik Rasa, menjadi ujian hati.

Hal yang pasti, cinta memang bukan pilihan, karena siapa pun tidak mungkin dapat menghilangkannya sendiri. Sedangkan cinta itu sendiri bukan suatu dosa. Tentunya bukan rasa cintanya yang akan dihisab nantinya, namun sebab munculnya rasa dan penyikapannya.

Selayaknya jika punya visi misi seharusnya tidak berhenti pada satu nama, namun akan sangat sulit ketika hati terpaut terjebak pada sebuah nama.

Inilah ujian terberat sekaligus menyakitkan. Sekuat tenaga menjauh namun terkadang keadaan malah menjadikannya dekat. Semampunya tak memberi kesempatan interaksi tapi suka mencuri sembunyi-sembunyi. Apakah ini yang terjadi?
Seharusnya tak ada istilah cinta dalam diam. Jangan coba-coba menjadi bagian dari itu. Hindari cinta sebelum akad semaksimalnya. Jika tidak, terluka itu pasti.

Akan sangat indah, bila yang dinanti adalah dia jodoh yang ditakdiri Illahi. Seperti Yusuf dan Zulaikha, menjauhi cinta karena taat, disatukan Allah dalam sebuah ikatan halal yang kuat.

Namun tak semua takdir semanis itu, pada akhirnya, suatu saat nanti, akan tau, mengapa Allah titipkan rasa ini. Mengapa harus berjuang menjauh dalam himpitan ingin mendekat. Mengapa tersebut nama dalam setiap doa.

Dan menjadikan sadar bahkan hati ini pun, bukan milik diri. Banyak-banyak lah berdoa. Allahu Robbi, janganlah engkau hukum kami, atas sesuatu yang kami tidak kuasa atasnya, hati ini.

Oleh Dewi'S

Posting Komentar

0 Komentar