THE POWER OF SAYUR LODEH TUJUH WARNA: Betulkah Mampu Sebagai Tolak Bala Corona?


Miris. Di tengah suasana duka pandemi virus Corona, sebuah pesan liar menghambur ke grup-grup WhatsApp (WA) masyarakat Yogyakarta. 

Pesan berbentuk meme dengan latar foto Sultan HB X ini menyerukan kepada warga Jogja bahwa sekarang adalah masa pageblug (wabah penyakit berbahaya), sehingga saatnya rakyat Mataram memasak sayur tujuh warna. Terdiri dari:  kluwih, terong, waluh (labu), cang gleyor (kacang panjang), kulit mlinjo, godong so (daun mlinjo) dan tempe. Disertai doa semoga semuanya selamat dari musibah ini. 

***

Di tengah masyarakat modern yang kian religius, ternyata seruan via grup-grup WA tersebut diamini oleh sebagian masyarakat. Buktinya, pasar dan  warung diserbu emak-emak yang antusias membeli bahan sayur lodeh tersebut. Bahkan hingga antre. Permintaan  terhadap sayur tujuh warna melonjak tajam.

Mereka meyakininya sebagai upaya tolak bala (menolak musibah). Apalagi dianggapnya ini sebagai dawuh (perintah) Ngarso Dhalem. Sehingga ketika ada yang mencoba untuk menasihati bahwa pesan ini hoaks (kabar bohong), mereka tetap berpegang teguh pada keyakinannya. 

Kejadian ini mirip saat terjadi gempa dahsyat dan Gunung Merapi meletus hebat beberapa tahun lalu. Seruan sayur lodeh pun bermunculan.

Padahal, pada tahun 2005 lalu saat pesan yang sama hadir untuk menolak bala agar terhindar dari ancaman badai di laut, Sri Sultan HB X membantah bila keraton telah mengeluarkan perintah agar warga Yogyakarta membuat sayur lodeh. Menurut GKR Hemas (istri Sultan), imbauan untuk waspada kemudian ditanggapi berlebihan di masyarakat sehingga muncul berbagai pesan di antaranya perintah sayur lodeh itu. (detiknews, 13/2/2005).

Seperti pada peristiwa tahun 2005, seruan sayur lodeh tahun ini juga tidak bersumber dari keraton. Dirilis Kumparan (21/3), Kabag Humas dan Protokol Setda DIY telah menegaskan bahwa pesan berantai tersebut adalah hoaks. Berarti seruan sayur lodeh hanyalah inisiatif dari beberapa orang/kalangan masyarakat. Kemungkinannya, mereka betul-betul meyakini sebagai tolak bala, "seru-seruan" agar suasana kian terasa genting, atau sebab lainnya. Wallaahu a'lam. Yang jelas, sebagian kalangan lainnya mempercayai, hingga antre di warung demi mendapatkan bahan masak sayur ini. Duh Gustiii...

***

Yaa Robb! Sedih menyaksikan fenomena masyarakat seperti ini. Di tengah musibah yang semestinya menyisakan ruang untuk muhasabah, lebih mendekat dan taat pada Sang Maha Penguasa Jagad Raya, justru melakukan hal yang kian menjauhkan dari Allah Swt. Bahkan bisa menjerumuskan pelakunya pada jurang dosa. 

Tanpa disadari, perilaku ini termasuk syirik. Syirik ialah menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya dalam hal ibadah, berdoa, minta pertolongan, dst. Begitu pula, meyakini the power of sayur lodeh alias sayur lodeh memiliki kekuatan untuk menghilangkan musibah maka ini syirik.

Padahal Allah Swt telah berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65).

Bahkan andai ia berdalih, sayur lodeh hanya sebagai wasilah/sarana yang mengantarkan permohonan kepada Allah agar dijauhkan dari musibah. Hal ini juga tak dibenarkan oleh syariat. Ajaran Islam itu sangat indah dan mudah. Jika kita ingin meminta sesuatu kepada Allah, langsung mintalah dengan berdoa. Tidak butuh sarana atau perantara apapun jua. Lebih utama, dilakukan sesuai adab-adab berdoa. 

Jangan pula keyakinan irasional ini diteguhkan dengan alasan sebagai upaya nguri-nguri budaya Jawi atau kearifan lokal. Budaya, adat, tradisi yang berasal dari kebiasaan masyarakat setempat jika tak bertentangan dengan ajaran Sang Khalik, silakan dipraktikkan. Tapi jika bertentangan dengan aspek akidah, ibadah dan syariah dalam Islam, maka tinggalkan. 

Jika ingin tetap mengonsumsi sayur lodeh tujuh warna, niatkan untuk meraih zat gizi yang terkandung di dalamnya. Secara ilmiah,   memperbanyak makan buah dan sayur yang beraneka warna baik untuk kesehatan. Karena tiap warna mewakili mikronutrien yang berbeda. Mikronutrien (zat gizi mikro) merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, namun mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan hormon, aktivitas enzim serta mengatur fungsi sistem imun dan sistem reproduksi. 

Sekali lagi, "innamal a'malu bi niyyah," sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya. Jika niat memasak sayur lodeh demi memenuhi zat gizi keluarga, in syaa Allah mendapatkan kebaikan. Tapi bila diniatkan sebagai tolak bala, bukankah justru akan mengundang murka-Nya? 

***

Sebagai pandemi, virus Corona telah go international dan cenderung di luar kendali. Di Indonesia, jumlah sebarannya kian meluas, jumlah penderita pun bertambah. Akankah kemaksiatan demi kemaksiatan yang masih dilakukan penduduk negeri ini justru hanya akan menambah daya mematikan virus ini? Na'udzubillaahi min dzaalik.

Cukuplah firman Allah Swt. berikut sebagai peringatan bagi orang beriman.

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka bertindak sesuai keinginannya." (QS. Al A'raf: 96).[]

Oleh: Puspita Satyawati
(Aktivis Muslimah Yogyakarta)

Posting Komentar

1 Komentar

  1. kalo di artikan sayur lodeh itu ada mengandung makna untuk bertaqarub ilaallah ..

    ini filosofi jawa ttg sayur lodeh 7 rupa:

    Sayur lodeh 7 macam itu sesungguhnya sekumpulan ikon yang punya makna:

    Kluwih: kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne (keluarga lebihkan dalam memberi nasehat dan perhatian)

    Cang gleyor : cancangen awakmu Ojo lungo² (ikatlah badanmu, jangan pergi-pergi)

    Terong : terusno anggone olehe manembah Gusti Ojo datnyeng, mung Yen iling tok. (Lanjutkan tingkatkan dalam beribadah, jangan hanya jika ingat saja)

    Kulit melinjo : Ojo mung ngerti njobone Ning kudu Reti njerone Babakan pagebluk. (Jangan hanya paham akibatnya saja, tapi harus paham secara mendalam penyebab wabah)

    Waluh : uwalono ilangono ngeluh gersulo (Hilangkan keluhan dan rasa galau –harus tetap semangat-)

    Godong so : golong gilig donga kumpul wong Sholeh sugeh kaweruh Babakan agomo lan pagebluk (Bersatu padu berdoa bersama orang yang saleh, pandai soal agama, juga wabah penyakit)

    Tempe : temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah (benar-benar fokus mohon pertolongan kepada Tuhan)

    Seharusnya dengan sayur lodeh 7 macam itu masyarakat yogya ingat tujuh nasehat itu.

    BalasHapus