Tertindasnya martabat perempuan akibat FEMINISME


Perbedaan antara pria dan wanita belum banyak dipahami orang di zaman modern. Keadaan tersebut diperparah oleh kaum feminis yang berusaha mendoktrin ide-ide gagal paham mereka mengenai “kesetaraan” antara lelaki dan perempuan. Maka tidak heran apabila saat ini timbul banyak konflik antara keduanya. Bagi kaum feminis “setara” artinya “sama dalam segala hal”. Padahal secara ilmiah, pria dan wanita terlahir dengan komposisi berbeda dan mempengaruhi peran keduanya dalam kehidupan. 

Dan imaji “Wanita Sukses” masa kini sangat materialistis, yakni yang memiliki kedudukan, uang, dan gaya hidup. Wanita karier kini menjadi sebuah titel yang dibanggakan dan menjadi mandiri dari segi ekonomi menjadi tren yang dikejar oleh wanita.

Orang akan lebih terhormat dan merasa iri pada yang berharta, seakan-akan merekalah pemilik segalanya. Sebab itulah wanita jadi ikut berlomba-lomba untuk meraih materi sebanyak-banyaknya.

Sebaliknya kebanyakan orang menganggap bahwa wanita melaksanakan fitrahnya dalam berumah tangga dianggap “nggak keren”, tertindas dan terpaksa. Profesi ibu rumah tangga dipandang sebagai nasib para wanita berpendidikan rendah dan menganggap untuk apa wanita susah-susah menempuh pendidikan tinggi kalau hanya berakhir di rumah.

Sudut pandang masyarakat mengenai “kesuksesan” yang seperti itulah yang membuat kaum wanita merasa minder. Image ibu rumah tangga yang tidak bergengsi di mata masyarakat umum, menjadikan wanita kehilangan arah, akhirnya merasa ingin juga mengejar karier gemilang seperti para pria. Kemudian apapun dilakukan tak perduli dengan fitrah dan norma apapun itu.
Dan kini harga diri wanita tergadaikan demi materi duniawi. Industri perekonomian yang semakin menggila dengan budget tinggi disiapkan untuk wanita yang bisa dieksploitasi keindahan tubuhnya untuk menjadi konsumsi publik. Wanitapun seakan berada dibawah alam sadar karena tergiur dengan bayaran tinggi dan terjebak dengan keterikatan kontrak kerja. 

Jika harga diri sudah tergadaikan maka akhirnya wanita tersebut akan terjerumus menjadi objek pelecehan. Hal ini terjadi pada seorang Tara Basco membagikan postingan bentuk tubuhnya dengan menyelipkan pesan tentang “body positivity” sehingga pesan tersebut ramai dibicarakan masyarakat.
Menurut Kominfo Jonny J Plate foto yang diunggah Tara Basco di media sosial tidak melanggar UU ITE dan foto tersebut merupakan bagian dari bentuk seni karena sebagai bentuk menghormati terhadap tubuh sendiri. (detiknews,5/3/2020)

Selain dengan kejadian Tara Basco berbagai iklan, majalah, dan media lainnya model utama atau objeknya adalah wanita meskipun produk yang dipasarkan tidak berkaitan sama sekali dengan wanita dewasa, dan untuk menarik konsumen terutama pria maka bagian-bagian tubuh dan kecantikan paras wanita dewasa banyak ditampilkan.

Seperti pada pameran mobil atau rokok, SPG yang mengawal adalah wanita. Bukan sekedar wanita biasa, tapi mereka yang sengaja disetting untuk membelalakkan mata pria. Pakaian minim bahan dengan kualifikasi fisik langsing, tinggi dan menarik penampilan.

Sehingga secara tidak langsung wanita menjadi objek eksploitasi seksual. Dimana suatu produk laku terjual, sebab dirinya sebagai magnet penarik mata sang pengunjung. Kecantikan paras dan kemolekan tubuhnya merupakan konsumsi menyenangkan bagi pria. 

Tubuh wanita seolah asset untuk menapaki di bagian mana kaki ini berdiri. Terbukti dengan adanya ajang-ajang kecantikan, kualifikasi, dan persayaratan utamanya adalah segala hal tentang fisik. Tinggi badan, berat badan, nomor celana, lingkar pinggang dan lain-lain. Hal ini terjadi karena memang fisik wanita yang menarik untuk dipandang dan dijadikan tontonan. Kita dipaksa untuk memperhatikan fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Akibat feminisme para wanita memiliki pemikiran budaya-budaya barat dengan gaya hidup dan pola pikir atau cara pandang liberal seperti style baju yang keren, makanan yang enak hiburan yang menyenangkan. 

Kini kita semakin paham, bahwa feminisme merendahkan martabat seorang wanita. Dan Islam datang memberikan standart kebahagiaan yang berbeda dengan sistem sekuler dan sistem komunis yang menjadikan materi sebagai puncak pencapaian. Sedangkan standart kebahagiaan dalam Islam yaitu Ridho Allah Swt.

Kunci Surga bagi kaum wanita adalah Surga yang kekal abadi. Rasulullah bersabda :
“Jika seorang wanita selalu menjaga sholatnya 5 waktu. Berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya sebagaimana syariat yang mengaturnya, dan taat kepada suaminya. Maka, dikatakan kepada wanita, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang kalian inginkan.” (HR. Ahmad)

Inilah cara Islam memuliakan wanita yaitu memberikan baginya ruang sesuai dengan fitrahnya. Bukan malah memaksa wanita itu beraktivitas bertentangan dengan fitrahnya. Dan dalam Islam wanita merupakan nikmat Allah Swt yang paling mulia, apabila dia bertaqwa kepada Allah Swt dia adalah wanita sholehah yang diibaratkan sebaik-baiknya perhiasan dunia.

Dan tidak hanya itu, wanita dinilai sangat istimewa karena wanita dinobatkan sebagai sebagai tonggak peradaban dunia. Hal ini disebabkan karena dari rahim wanitalah para generasi-generasi penerus terlahir di dunia dan berkat didikan wanita pulalah para generasi tersebut mengarahkan kemana peradaban dunia ini akan dibawa.

Terdapat sebuah kutipan yang amat sangat menarik : “Wanita yang mendidik seorang anak laki-laki mungkin ia sedang melahirkan seorang “PEMIMPIN”, sedangkan wanita yang melahirkan dan mendidik seorang anak perempuan, maka ia sedang mendidik sebuah “PERADABAN”.

Kemuliaan seorang wanita terletak pada saat ia mengandung anak dan melahirkan anaknya (jihadnya wanita yaitu saat melahirkan), membesarkannya, mengurus keluarganya dan mentaati suaminya.

Bagi kaum wanita bersabar dalam ketaatan pada hukum-hukum syariat yang Allah Swt perintahkan pada kaum wanita merupakan rahmat Allah bukan juga deskriminasi atas kaum wanita sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh Islam yang mengatakan bahwa Islam mengekang kaum wanita.

Islam memberi aturan-aturan khusus bagi setiap kaum wanita agar mereka tetap terjaga secara akhlak dan juga kehormatannya sebagai seorang wanita. Dan Islam menjaga wanita dari sejak ia kecil hingga akhir hayatnya. 

Wallahu’alam Bishshawab.[]

Oleh : Dewi Rahayu Cahyaningrum
Dari  : Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember

Posting Komentar

0 Komentar