SOSIALISME DAN KAPITALISME: AKAR PENYUBUR GERAKAN LGBT



Sejak beberapa waktu lalu, seruan memeringati International Women Day (IWD) alias Hari Perempuan Internasional 8 Maret terus bergaung. Sewarna dengan tema peringatan tahun lalu yakni Balance for Better, tahun 2020 ini kampanye IWD bertajuk Each for Equal. 

Tak jauh berbeda dengan tahun lalu, rangkaian diskusi yang digelar dalam rangka menyambut IWD tahun 2020 pun mengangkat isu serupa. Mewujudkan kesetaraan gender di segala sisi kehidupan, masih menjadi isu utama kampanye mereka. Di samping isu seputar penindasan dan kekerasan seksual terhadap perempuan, juga diskriminasi terhadap Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). 

/ Kapitalisme dan Tuduhan Akar Penindasan LGBT/

Terkait LGBT, para pegiat IWD yang juga aktivis sosialis memandang bahwa akar penindasan LGBT sama dengan penindasan perempuan, yakni kapitalisme.  Menurut mereka, kapitalisme muncul dengan menawarkan kebebasan lebih dibanding pada masa sebelumnya. 

Kebebasan ini memberikan keberanian bagi individu untuk mengekspresikan diri sebebas-bebasnya. Sehingga ekspresi-ekspresi yang tertutup saat masa feodalisme kemudian muncul termasuk ekspresi seksual.

Hanya saja, ekspresi seksual kaum LGBT dianggap menyimpang oleh kapitalisme karena tidak sesuai dengan konsep keluarga batih. Keluarga batih merupakan keluarga ideal yang terdiri dari suami (laki-laki), istri (perempuan) dan anak.  

Laki-laki melakukan peran produksi sebagai pencari nafkah, dan perempuan melakukan pekerjaan domestik dengan peran reproduksi sebagai penghasil keturunan.
Para borjuis mempropagandakan konsep keluarga batih pada pertengahan abad sembilan belas. Propaganda bertujuan agar keluarga menghasilkan keturunan yang akan berperan sebagai tenaga kerja di masa depan. 

Bila ekspresi seksual kaum LGBT dianggap wajar, maka akan marak terjadi hubungan seksual sesama jenis. Hal ini berpotensi mengurangi persediaan tenaga kerja di kemudian hari karena keluarga tidak menghasilkan keturunan. Pewarisan kekayaan antargenerasi juga tidak akan berjalan.  Akibatnya, hal ini mengganggu proses akumulasi kapital para kaum borjuis.

Penyimpangan dari konsepsi ideal yang dikonstruksikan tersebut juga berimbas pada adanya represi terhadap kaum LGBT. Masa kapitalisme dianggap menjadi awal adanya represi terhadap LGBT. Pada prakapitalisme, hanya ada pelarangan aktivitas seksual yang non-prokreasi (tidak menghasilkan keturunan), semacam oral dan anal seks. 

Baru pada masa kapitalisme, mulai terjadi pelarangan dalam hal identitas, ekspresi, hingga orientasi seksual.
Salah satu bentuk represi tersebut adalah adanya diskriminasi kaum LGBT pada dunia kerja. Contohnya, transgender yang terpaksa mengamen hingga menjual diri karena tidak mendapat pekerjaan akibat diskriminasi itu. 

Benarkah argumentasi kalangan sosialis bahwa kapitalisme sebagai akar penindasan LGBT? Bagaimana kita mendudukkan persoalan ini sesuai fakta dan mengurainya dengan cara pandang yang tepat?

/ Kapitalisme, Justru Penyubur LGBT /

Menisbatkan kapitalisme sebagai akar penindasan LGBT bukanlah argumen tepat. Tak sesuai dengan fakta yang ada. Sebagai ide yang lahir dari rahim sekularisme yang memasung agama hanya di wilayah privat manusia, lalu berkelindan dengan liberalisme sebagai ide anakan sekularisme juga, kapitalisme justru bak tanah subur bagi tumbuh dan berkembangnya LGBT. 

Dalam masyarakat penganut kapitalisme (sebutan lain bagi ideologi sekularisme), dalam rangka meraih target-target kehidupan yang bermuara pada pencapaian kesuksesan material,  liberalisme/paham kebebasan mutlak diakui. Secara umum, ada empat jenis kebebasan yang dipraktikkan. Yaitu kebebasan beragama, kepemilikan, berpendapat dan bertingkah laku.

LGBT merupakan manifestasi dari kebebasan bertingkah laku. Dalam masyarakat sekular, seseorang bebas berperilaku. Bebas menentukan orientasi seksual, berikut dalam melampiaskan hasrat seksualnya. Dengan siapapun dan cara apapun. 

Maka pelaku LGBT dalam aktivitasnya selalu berlindung di bawah ketiak Hak Asasi Manusia (HAM). HAM merupakan ide yang muncul dari prinsip hidup sekularisme liberal. Penentang LGBT sering dicap sebagai pelanggar HAM. Sebaliknya, pelaku dan pendukungnya disebut sebagai pembela HAM. 

Patut diwaspadai, bahwa di abad 21 ini LGBT tak lagi sebagai aktivitas individual atau komunitas sosial. Melainkan telah menjelma menjadi gerakan atau kekuatan politis. Bahkan patut diduga jika LGBT merupakan alat politik hegemoni Barat.
Mengapa? 

Amerika Serikat sebagai negara pertama dalam perpolitikan internasional, sekaligus biangnya kapitalis, telah melegalkan pernikahan sejenis di seluruh negara bagian AS pada 27 Juni 2015. Menyusul kebijakan serupa di dua puluhan negara lainnya. Hingga sekarang hendak merambah ke negeri-negeri muslim.

Tak berhenti di sini. Kaum LGBT menggunakan instrumen PBB dalam memuluskan perjuangan mereka. UNHCR pada 1994 menetapkan bahwa hukum yang memuat diskriminasi tersebab orientasi seksual adalah pelanggaran HAM. Mayoritas negara Eropa melalui UNHCR di tahun 2003 mengusung Resolusi Brazil yang menyatakan bahwa hak-hak kaum lesbian gay adalah juga hak fundamental dalam HAM. 

Tahun 2006 untuk pertama kalinya, tanggal 17 Mei ditetapkan sebagai IDAHO (International Day Against Homophobia) yaitu kampanye dunia dalam rangka mengakhiri kriminalisasi hubungan sesama jenis. 

Momentum tanggal ini didasarkan pada tanggal dihapusnya homoseksual sebagai klasifikasi penyakit oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1990. Dan Departemen Kesehatan RI pun lantas mengadopsinya dalam Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGI) III tahun 1993. 

Pada tahun 2006 ini juga dilahirkan The Yogyakarta Principles yang dijadikan acuan dalam Sidang Umum PBB pada 13 Desember 2008 ketika resmi mengakui hak-hak kelompok LGBT dalam The UN Declaration On Sexual Orientation and Gender Identity. 

Sekadar agar dianggap normal dan kehadiran LGBT diterima masyarakat, UNDP dan USAID menggelontorkan dana sebesar US$ 8 milion alias 108 millyar rupiah melalui program normalisasi bernama Being LGBT in Asia.  Program telah berjalan di Cina, Filipina, Thailand dan Indonesia selama tiga tahun (Desember 2014-September 2017)

Maraknya LGBT di negeri ini disinyalir tak terlepas dari upaya melanggengkan hegemoni ideologi kapitalisme di dunia Islam dengan merusak sumber daya manusianya. Liberalisasi telah terjadi di bidang pemikiran, ekonomi dan politik, kini perilaku seksual pun digiring untuk kian liar. Tak hanya interaksi  dengan lawan jenis, pun dengan sesama jenis. 

Jadi, sejatinya  sosialisme dan kapitalisme sama-sama menghendaki eksistensi LGBT menghias peradaban manusia. Merekalah penyubur akar LGBT hingga tumbuh dan berkembang di berbagai bangsa. 

Tersebab kedua ideologi ini sama-sama menafikan peran agama sebagai pengatur kehidupan manusia. Sama-sama memilih aturan manusia untuk memandu seluruh lini  hidup. Sama-sama menjadikan kesenangan dan tercukupinya kebutuhan materi sebagai tujuan hidupnya. Tentu saja, sama sama memandang bahwa norma agama menjadi penghalang bagi perjuangan meraih hak kebebasan mereka.

/ LGBT, Berbahaya dan Terlaknat dalam Islam /

Tak dipungkiri, masifnya dukungan terhadap LGBT telah membuka kran penyebaran idenya secara liar. Padahal LGBT bertentangan dengan syariat Islam dan mengancam peradaban.  

Secara medis, dampak negatifnya tak terbantahkan. 78% pelaku homoseksual terjangkit penyakit menular, gay 2x lebih tinggi terkena resiko kanker anus dan mulut dibandingkan pria normal, rentan terhadap penyakit HIV/AIDS, serta wanita transgender resiko terinfeksi HIV 34x lebih tinggi dibanding wanita biasa. 

Adapun dari aspek sosial, dampak buruk yang ditimbulkan ialah mengancam eksistensi keluarga. menghambat pertumbuhan umat manusia, merusak kehidupan bermasyarakat, bahkan menimbulkan tindakan kriminal.

Tak hanya berbahaya. LGBT juga merupakan perilaku terlaknat dalam pandangan syariat. Islam memandang homoseksual sebagai perbuatan yang sangat keji. Bahkan lebih buruk dari perilaku binatang sekalipun. Di dalam dunia binatang, tidak dikenal adanya pasangan sesama jenis.  

Perilaku LGBT hukumnya haram dalam Islam dan dinilai sebagai tindak kejahatan/kriminal yang harus dihukum.  Perbuatan ini dilaknat oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. 

Jika khilafah tegak, pelakunya akan diberikan sanksi tegas. Lesbian dikenakan tazir yaitu hukuman  yang  tidak dijelaskan oleh nash khusus, jenis dan kadarnya diserahkan pada qadli, bisa berupa cambuk, penjara, publikasi, dll. Untuk transgender, jika ia berbicara atau berbusana menyerupai lawan jenis, hukumannya diusir dari pemukiman. Adapun gay, jumhur ulama bersepakat pelaku gay mendapat hukuman mati. 

Jelaslah bahwa pergerakan LGBT sangat berbahaya bagi masa depan negeri ini. Jika perilaku menyimpang ini kian berkembang, siapkah kita menerima peringatan-Nya berupa bencana dan malapetaka? Sebagaimana yang pernah Allah Swt timpakan kepada kaumnya Nabi Luth alaihissalam.

Perlawanan terhadap perilaku LGBT tak bisa secara total dilakukan jika kita masih mempertahankan sekularisme berikut segenap ide turunannya. Justru inilah ladang subur berkembang biaknya LGBT. 

Maka, tak ada solusi mendasar kecuali kembali kepada aturan Islam yang akan sempurna diterapkan dalam naungan daulah khilafah islamiyah ala minhajin nubuwah. In syaa Allah, manusia akan senantiasa terjaga fitrah kemanusiaannya.[]

Oleh: Puspita Satyawati (Analis Politik dan Media)

Posting Komentar

0 Komentar