SOCIAL DISTANCING dan LOCKDOWN: Mampukah Menghadang Pandemi Virus Corona?

Pada hari Senin (2/3/2020), Presiden Jokowi mengkonfirmasi adanya dua orang di Indonesia yang positif terjangkit Virus Corona. Mereka adalah dua orang warga negara Indonesia yang berusia 64 tahun dan putrinya yang berusia 31 tahun. Kedua orang Indonesia telah melakukan kontak dengan orang Jepang, yang mengunjungi Indonesia dan kemudian dinyatakan positif di Malaysia.

Sejak kasus pertama hingga kini. Bukan malah berkurang justru malah bertambah. Selama 2 pekan lebih sejak diumumkan, angka positif COVID-19 di Indonesia pada hari Jumat (20/3/2020) menjadi 369 kasus. Jumlah pasien sembuh dari COVID-19 sebanyak 17 orang. Sedangkan yang meninggal dunia sebanyak 32 orang.
Sementara  di seluruh dunia, jumlah kasus terkonfirmasi positif sebanyak 242.713 kasus. Korban meninggal sebanyak 9.867 orang dan 84.962 orang sembuh.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi wabah corona. Sayangnya upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil yang optimal. Hari demi hari justru semakin banyak korban yang terpapar Covid-19. 

Ketika ada yang menyarankan untuk lockdown maka saran ini ditolak karena pemerintah beralasan lockdown akan berpengaruh besar terhadap roda ekonomi masyarakat. Tentu hal ini mengecewakan pihak pendukung lockdown. Mereka menduga bahwa pemerintah lebih mengutamakan keuntungan materi dibandingkan nyawa rakyatnya sendiri.

Hal ini tentu berbeda dalam sistem Syariah. Ketika terjadi wabah di suatu tempat, maka Rasulullah segera memerintahkan lockdown sehingga wabah tidak menyebar ke wilayah lain yang belum terdampak.

A. Dampak Penetapan Covid-19 sebagai Pandemi Global

Awal tahun 2020 ini dunia digegerkan dengan berita merebaknya virus corona yang bermula dari kota Wuhan, China.
Virus corona yang saat ini mewabah merupakan virus corona jenis baru atau dikenal dengan nama Corona Virus Desease (Covid-19).

Covid-19 merupakan keluarga besar dari virus SARS and MERS yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Virus ini merupakan virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia, yang kemudian pertama kali didentifikasi di kota Wuhan, China pada Desember 2019.

Laporan pemerintah China menyatakan, virus corona mulai mewabah di Wuhan, China, pada bulan Desember 2019 lalu. Para pejabat negara mengatakan virus corona mungkin berasal dari hewan liar yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan (Huanan Seafood Market) yang terletak di pusat kota Wuhan. Apalagi sejumlah penderita awal yang terjangkit Covid-19 itu adalah karyawan pasar makanan tersebut.

Menurut Dr Gao Fu, direktur pusat pengendalian dan pencegahan penyakit China sebagaimana dilansir dari The Straits Times, Kamis (23/1/2020), beliau menyatakan bahwa pihak berwenang percaya virus itu kemungkinan berasal dari binatang buas di pasar makanan laut meskipun sumber pastinya masih belum bisa ditentukan.

Virus corona dapat ditularkan antara hewan ke manusia dan manusia ke manusia. Gejala klinis akan muncul setelah 2-14 hari setelah terinfeksi, namun dapat menular meski belum menunjukkan gelaja infeksi.

Sebelum menjadi pandemi, virus corona disebut sebagai wabah ketika menjangkiti penduduk Wuhan, Tiongkok pada awal Januari 2020. Virus ini menyebabkan pneumonia sehingga jumlah kasus penyakit tersebut langsung meningkat dengan signifikan.

Lalu, virus corona menyebar ke wilayah geografis lebih luas, seperti menginfeksi penduduk di luar Wuhan, bahkan seluruh Tiongkok. Dengan begitu, virus ini ditetapkan sebagai epidemi.

Penyebaran epidemi yang berlanjut ke negara-negara lain, mengakibatkan penularan lokal dan menimbulkan wabah di negara itu, disebut sebagai pandemi. Dalam kasus virus corona, Italia, Iran, dan Korea Selatan kini memiliki kasus terbanyak setelah Tiongkok.

Hingga akhirnya, World Health Organization (WHO) menetapkan coronavirus disease (Covid-19) sebagai pandemi pada Rabu (11/3). Penetapan itu didasarkan pada persebaran virus secara geografi yang telah mencapai 114 negara.

Pasca penetapan ini, WHO meminta semua negara untuk melakukan beberapa hal berikut:

1. Mengaktifkan dan meningkatkan mekanisme tanggap darurat

2. Berkomunikasi dengan publik tentang risiko dan bagaimana mereka dapat melindungi diri sendiri

3. Menemukan, memisahkan, menguji, dan mengobati setiap kasus Covid-19 dan melacak setiap kontak yang berkaitan.

B. Penanganan Pandemi Covid-19

1. Penanganan Pandemi Covid-19 dalam Sistem Kapitalisme

Sistem kapitalisme adalah sistem ekonomi yang memberikan kebebasan penuh bagi tiap orang untuk mengendalikan kegiatan ekonomi seperti perdagangan, industri, dan alat-alat produksi dengan tujuan mendapatkan keuntungan. 

Dalam pengertian lain, kapitalisme merupakan sistem ekonomi di mana semua kegiatan ekonomi dilakukan oleh pihak swasta dan bukan pemerintah. Di sini, tugas pemerintah hanya sebagai pengawas saja.

Dalam menangani pandemi Covid-19, negara yang menerapkan sistem kapitalisme melakukan dua pendekatan utama untuk menghentikan laju penyebaran COVID-19, yaitu:

1. Social distancing

Social distancing adalah usaha untuk meminta warga tidak melakukan kontak fisik yang terlalu dekat antara satu sama lain, karena kedekatan jarak berpotensi menyebarkan virus lewat tetesan air liur.

Istilah social distancing menurut Center for Disease Control (CDC) adalah menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak dengan manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang.

Tujuan sosial distancing adalah untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang lain dalam jarak dekat. Selain itu social distancing juga bertujuan untuk mengurangi penularan virus dari orang ke orang.

Beberapa negara yang melakukan social distanting untuk mengatasi peredaran Covid-19 antara lain: Jepang, Hongkong, Singapura, dan Korea Selatan.

Di Jepang sudah terjadi 1.523 kasus corona termasuk, 696 kasus diantaranya tertular saat berada di kapal pesiar Diamond Princess. 34 warga di Jepang meninggal karena terjangkit Covid-19.

Sempat ada kekhawatiran setelah penyebaran di kapal pesiar tersebut, virus akan dengan cepat merebak di kalangan warga lainnya, apalagi 25 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas, yang masuk kelompok paling rentan meninggal terkena virus. Jepang sejauh ini berhasil mencegah penyebaran, salah satunya setelah menutup sekolah sejak bulan Februari.

Sama seperti Jepang, Singapura dan Hong Kong juga hanya membatasi pergerakan warga. Di Singapura sejauh ini ada 243 kasus, belum ada laporan yang meninggal dan lebih dari 100 orang dinyatakan sembuh. Di Hong Kong hingga kini tercatat 157 kasus, enam diantaranya meninggal dan 88 dinyatakan sembuh. Seperti halnya di Singapura, pemerintah Hong Kong dengan cepat berusaha menemukan kasus corona yang ada di wilayah mereka.

Sementara itu, Korea Selatan memiliki pendekatan yang berbeda, yakni dengan melakukan tes COVID-19 dengan cepat dan dalam jumlah besar. Mereka juga menggunakan teknik baru, seperti menyediakan klinik bergerak, dimana warga bisa datang tanpa harus datang ke rumah sakit atau klink yang berisi pasien lain. Korea Selatan mencatat lebih dari 8.300 kasus positif dengan 75 kematian.

2. Lockdown

Lockdown diambil dari bahasa Inggris, artinya adalah terkunci. Jika dikaitkan dalam istilah teknis dalam kasus Corona atau COVID-19, arti lockdown adalah mengunci seluruh akses masuk maupun keluar dari suatu daerah maupun negara.

Tujuan mengunci suatu wilayah ini agar virus Corona tidak menyebar lebih jauh lagi. Jika suatu daerah dikunci atau di-lockdown, maka semua fasilitas publik harus ditutup.

Sekolah, transportasi umum, tempat umum, perkantoran, bahkan pabrik harus ditutup dan tidak diperkenankan beraktivitas. Aktivitas warganya pun dibatasi. Bahkan ada negara yang memberlakukan jam malam.

Beberapa negara yang melakukan lockdown untuk mengatasi peredaran Covid-19 antara lain: China, Italia, Spanyol, dan Perancis.

Ketika virus Corona menyebar di kota Wuhan, China, pemerintah setempat memberlakukan kebijakan lockdown, disusul kota-kota lainnya di China yang penyebaran virusnya begitu massif.

China menjadi negara yang melakukan karantina terbesar dalam sejarah dalam menangkal virus corona, dengan menutup 16 kota sejak akhir Januari. 'Lockdown' di Provinsi Hubei, dimana kota Wuhan berada dilakukan secara bertahap.

Sebelumnya warga masih diperbolehkan keluar, namun kemudian dibuat semakin ketat dengan hanya beberapa perwakilan orang yang bisa membeli makanan atau ke apotik. Jumlah kematian di China melebihi 3.200 orang, paling tinggi di dunia dengan total yang sembuh 68.777 orang.

Sampai hari Selasa (17/3/2020) siang, sudah ada lebih dari 81.000 kasus COVID-19 di China, dengan kebanyakan terjadi di provinsi Hubei. Dalam 24 jam terakhir, hanya ada 21 kasus baru di China dengan 13 kematian.

Italia kini menjadi negara kedua terburuk kasus virus corona, setelah China, dengan 27.980 kasus, 2.158 kematian, dimana dalam 24 jam terakhir ada 349 orang yang meninggal. Di Italia, 'lockdown' diberlakukan secara nasional mulai 10 Maret lalu, yang melarang hampir seluruh kegiatan 60 juta warga. Pelarangan termasuk membuka toko, restoran, mendatangi tempat ibadah, dan ke sejumlah tempat lainnya.

Mengikuti Italia, Spanyol menjadi negara Eropa kedua yang menetapkan 'lockdown', sejak Sabtu lalu (14/03/2020). Kemudian disusul dengan negara Prancis yang menutup seluruh bisnis yang dianggap tidak penting bagi warga.

Pergeseran dari pendekatan 'social distancing' ke 'lockdown' terjadi di beberapa negara, dimana menurut pakar hal ini dilakukan ketika kasus sudah mencapai 1.000, maka negara sudah harus mempertimbangan dengan serius untuk kemungkinan 'lockdown'. 

Penerapan social distancing dan lockdown yang dilakukan secara bertahap dan tidak bersamaan menyebabkan korban terus berjatuhan. Karena pertimbangan kerugian materi, nyawa rakyat menjadi terabaikan.

2. Solusi Islam mengatasi Pandemi Covid-19

Islam adalah agama sekaligus ideologi yang sempurna. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. 

Wabah penyakit menular juga pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. 

Beliau bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasulullah saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. 

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu. (HR Al-Bukhari).

Sementara itu, pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan:

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ. فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏.

Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Menurut Imam al-Waqidi saat terjadi wabah Tha’un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.

Begitulah peran Penguasa sangat sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular. 

Kubangan Sistem kapitalisme yang mengungkung kaum muslimin saat ini menyebabkan umat Islam seperti anak ayam kehilangan induknya.

Ketiadaan Khilafah menyebabkan umat Islam tanpa pelindung sehingga dalam menghadapi wabah Covid-19, mereka harus berusaha sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, menjaga kesehatan, dan keamanannya dari serangan wabah yang sewaktu-waktu bisa menyerang diri dan keluarganya.

Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh umat Islam dalam menghadapi wabah Covid-19, antara lain:

1. Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan

Islam memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Bagi seorang muslim, mencuci tangan ini dilakukan dalam banyak kesempatan. Mulai bangun tidur, sebelum dan sesudah makan, saat berwudhu, dan sebelum sholat.

Seorang muslim juga diajarkan senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan menjaga kebersihan lingkungannya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

2. Memakan makanan yang baik dan halal  serta tidak berlebihan

Islam memerintahkan kepada umatnya untuk mempraktikkan gaya hidup sehat yaitu dengan memakan makanan yang halal.

Allah SWT berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا

Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian (TQS an-Nahl [16]: 114).

Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tak layak dimakan, seperti kelelawar. 

Allah SWT berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (TQS al-A’raf [7]: 31).

3. Meyakini bahwa wabah adalah bagian dari takdir Allah.

Segala yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari takdir Allah swt. Segala musibah yang terjadi di bumi termasuk Covid-19, semuanya sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Sebelum diwujudkan dalam bentuk nyata, itu sudah ada dalam perencanaan Allah swt.

Pandemi Covid-19 yang terjadi bukan hanya kelalaian manusia tapi juga merupakan bagian dari takdir Allah swt.

4. Bersabar dalam menghadapi wabah corona.

Bersabar dalam menghadapi segala cobaan adalah bagian dari sifat seorang muslim. Umat Islam senantiasa diajarkan untuk bersabar dalam menghadapi ujian baik berupa ketakutan, kelaparan, dan juga penyakit yang disebabkan oleh virus corona.

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ 

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ   ۙ  قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ 

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 156)


5. Berdoa, Berikhtiar, dan Bertawakkal kepada Allah

Semua makhluk yang ada di bumi ini ciptaan Allah, termasuk virus corona yang saat ini menyebar ke seluruh dunia. Oleh sebab itu seorang muslim selayaknya hanya takut pada Allah sang pemilik dan pencipta virus corona.

Tidak hanya menjaga kebersihan dan pola makan sehat, umat Muslim juga bisa memanjatkan doa-doa untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk virus corona.
Rasulullah saw. pernah membaca doa berlindung dari segala penyakit.

Dari Anas radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah saw. mengucapkan doa: Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang (kulit), gila, lepra, dan dari keburukan segala macam penyakit.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (1554) dan an-Nasa-i (VIII/270) melalui dua jalur, dari Qatadah dan Anas RA.

Selain berdoa seorang muslim harus tetap berikhtiar sesuai dengan kemampuan semisal memakai masker, mengisolasi diri, menjauhi keramaian selama wabah dan tidak lupa berserah diri kepada Allah Sang Pencipta alam semesta.

6. Bertaubat dengan memperbanyak Istighfar dan membaca sholawat

Musibah yang hadir bisa jadi karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا  كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ 

"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 30)

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.

Oleh sebab itu, sudah selayaknya setiap muslim bertaubat dengan banyak beristighfar agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah. Selain itu juga memperbanyak shalawat kepada Nabi karena Allah akan membalas kebaikan 10 kali dan menutup 10 kali kesalahan umat Islam yang bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.

3. Langkah-langkah Pemerintah Indonesia dalam mengatasi penyebaran wabah Covid-19

Pemerintah belum berencana mengambil langkah karantina total atau lockdown. Tim pakar Gugus Tugas Penanganan Virus Corona atau COVID-19, Wiku Adisasmito, mengatakan bahwa langkah pembatasan gerak ini bisa berpengaruh besar terhadap roda ekonomi masyarakat.

Wiku mengatakan masyarakat seharusnya sudah paham bahwa Indonesia memiliki pekerja lapangan yang tinggi. Mereka hidup dari menggunakan upah harian. Karena itu, sistem lockdown jika diterapkan, akan sangat berpengaruh kepada mereka.

Langkah paling efektif yang bisa diterapkan pemerintah adalah social distancing atau menjaga jarak sosial antar masyarakat. Kesadaran untuk menjaga jarak, menjaga kebersihan diri, dan melakukan etika batuk atau flu, dapat secara efektif menghambat penyebaran Virus Corona.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang diambil pemerintah sebagaimana arahan yang disampaikan Presiden Jokowi secara resmi pada hari Minggu (15/3/2020) di Istana Bogor.

1. Memerintahkan kepada Menteri Kesehatan dan kementerian terkait untuk meningkatkan langkah-langkah ekstra dalam menangani pandemik global Covid-19.

2. Pemerintah terus berkomunikasi dengan WHO dan mempergunakan Protokol Kesehatan WHO, serta berkonsultasi dengan para ahli kesehatan masyarakat dalam menangani penyebaran Covid-19 ini.

3. Pemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, yang diketuai oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Letjen TNI Doni Monardo. Gugus tugas ini telah bekerja secara efektif dengan mensinergikan kekuatan nasional, baik di pusat maupun di daerah, melibatkan ASN, TNI dan POLRI, serta melibatkan dukungan dari swasta, lembaga sosial dan perguruan tinggi.

4. Meminta kepada seluruh gubernur dan bupati serta wali kota untuk terus memonitor kondisi daerah dan terus berkonsultasi dengan pakar medis dalam menelaah situasi.

5. Meminta kepala Daerah untuk terus berkonsultansi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menentukan status daerahnya siaga darurat ataukah tanggap darurat bencana non alam.

6. Pemerintah Daerah dibantu jajaran TNI dan POLRI serta dukungan dari pemerintah pusat untuk terus melakukan langkah-langkah yang efektif dan efisien dalam menangani penyebaran dan dampak Covid19.

7. Membuat kebijakan tentang proses belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa. Membuat kebijakan tentang sebagian ASN bisa bekerja di rumah dengan menggunakan interaksi online, dengan tetap mengutamakan pelayanan yang prima kepada masyarakat.

8. Menunda kegiatan-kegiatan yang melibatkan peserta banyak orang. Meningkatkan pelayanan pengetesan infeksi Covid-19 dan pengobatan secara maksimal, dengan memanfaatkan kemampuan rumah sakit daerah, dan bekerja sama dengan rumah sakit swasta, serta lembaga riset dan pendidikan tinggi, yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan.

9. Memberikan dukungan anggaran yang memadai untuk digunakan secara efektif dan efisien.

10. Pemerintah memastikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup dan memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

11. Pemerintah juga telah memberikan insentif kebijakan ekonomi, sebagaimana telah diumumkan oleh Menko Perekomian dan jajaran menteri perekonomian, untuk menjaga agar kegiatan dunia usaha tetap berjalan seperti biasa.

12. Meminta kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap produktif dengan meningkatkan kewaspadaan agar penyebaran Covid-19 ini bisa kita hambat dan kita stop.

13. Menyarankan rakyat untuk kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah dan bekerja bersama-sama, saling tolong menolong ,dan bersatu padu, gotong royong, agar penyebaran Covid-19 ini bisa tertangani dengan maksimal.

Sayangnya, respon pemerintah terkesan lambat dalam penanganan virus korona. Kasus yang terjadi terlebih dulu di negara-negara lain sepertinya tidak dijadikan pelajaran. Jarak waktu sejak diketahui hingga berhasil memasuki negeri ini sebenarnya dapat digunakan untuk mempersiapkan menghadapi virus ini. Mulai dari tindakan preventif hingga penanganan seharusnya sudah dipikirkan untuk dilakukan sebelum si virus datang.

Pemerintah pun terkesan tidak serius dalam menangani penyebaran virus korona. Keterlambatan pengungkapan adanya kasus ini adalah salah satu indikasinya. Kepala Negara baru memberikan pernyataan resminya setelah mendapatkan teguran dari WHO untuk menyatakan kondisi darurat dengan diumumkannya Pandemi COVID 19. Informasi tentang kasus ini pun ditutup-tutupi dengan operasi senyap yang melibatkan badan intelejen. Status Bencana Nasional tidak segera diumumkan. Padahal, potensi penyebaran virus ini sangat cepat karena mengikuti deret eksponensial. 

Langkah Pemerintah Pusat yang menyerahkan pada kewenangan Pemerintah Daerah dalam penanganan kasus virus korona juga bukan langkah yang strategis. Pemerintah Pusat terkesan tidak mau mengambil tanggung jawab secara penuh terhadap penanganan kasus ini. Hal ini tentu saja tidak menyelesaikan permasalahan. Jika suatu daerah tertentu memberlakukan lock down untuk menghambat dan menghentikan laju penyebaran virus sedangkan daerah lain tidak melakukan hal yang sama, maka kemungkinan penyebaran virus masih dapat terjadi.

C. Strategi yang tepat dalam menghadapi wabah covid-19 di Indonesia

Dunia hari ini mengalami kepanikan luar biasa tidak terkecuali Indonesia. Dunia sedang menghadapi makhluk kecil bernama virus corona (Covid-19). Meski tingkat kematian yang timbulkan kecil namun daya sebar yang luar biasa cepat menjadikan wabah ini memberikan efek panik yang luar biasa.

Penerapan social distancing yang dilakukan pemerintah terbukti tidak efektif dalam mengatasi wabah Covid-19 di negeri ini. Hal itu ditunjukkan dengan terus bertambahnya korban. Oleh sebab itu diperlukan strategi yang tepat dalam menghadapi wabah seperti pandemi Covid-19, antara lain:

1. Memerintahkan untuk mengisolasi para penderitanya di tempat khusus yang jauh dari pemukiman penduduk. 

Selama diisolasi, mereka diperiksa secara detil dan dilakukan pengobatan dengan pemantauan ketat. Jika dinyatakan sembuh total, maka diperbolehkan untuk meninggalkan tempat isolasi tersebut.

2. Melakukan langkah lockdown kepada rakyatnya untuk menghindari bertambahnya jumlah korban. 

Namun, langkah ini tidak akan dapat berjalan efektif jika tidak dalam satu komando. Karena itu, diperlukan sinergi bersama antara pemerintah dengan rakyatnya. Baik itu Pemerintah Pusat maupun Daerah. Dengan kekompakan ini, diharapkan tujuan lock down dapat tercapai dengan baik.

3. Mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan yang lain.

Kepala Negara adalah pimpinan yang bertanggung jawab terhadap seluruh warga negara yang dipimpinnya. Dan tugas seorang pemimpin adalah untuk mengurusi rakyatnya. Seorang pemimpin tidak akan memperhitungkan untung rugi dalam urusan rakyatnya. Keselamatan rakyat adalah hal utama yang harus dipikirkan. 

Walaupun lock down dapat menyebabkan perekonomian tidak berjalan seperti biasa, namun langkah ini akan tetap dilakukan.
Sebelumnya, langkah-langkah strategis pun dilaksanakan dengan optimal. Jika diperlukan, Negara akan mengadakan tes massal kepada rakyatnya agar diketahui siapa saja yang sudah terpapar virus sehingga segera mendapatkan pengobatan. 

Transparasi informasi diperlukan agar dapat diambil tindakan yang diperlukan. Penanganan pasien positif virus pun menjadi tanggung jawab Pemerintah. Tidak hanya penyediaan fasilitas dan tenaga medis yang mumpuni, termasuk biaya yang diperlukan meskipun jika jumlahnya sangat besar.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ

Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentingannya (pada Hari Kiamat)
(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). 

Wallahu a’lam.[]

Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Post a Comment

0 Comments