Saling Tuduh Pembawa Wabah: China VS AS Berebut Simpati Dunia


Persetruan China vs Amerika terkait wabah corona kian memanas. Seiring krisis COVID-19 mereda di Cina, Beijing mulai ogah disalahkan atas pandemi ini. Pemerintah Tiongkok mulai muak disalahkan sebagai penyebab penyebaran global virus corona, dan kini pejabatnya justru menyerang balik tudingan tersebut. Para pejabat tinggi pemerintahan Tiongkok meyakini sebuah teori konspirasi bahwa militer Amerika Serikat lah yang pertama kali membawa COVID-19 ke Wuhan. Klaim ajaib ini dilontarkan oleh juru bicara kementerian luar negeri, Zhao Lijian, diplomat yang diangkat jadi jubir di tengah merebaknya penyebaran virus corona pada Januari lalu. Dia kini dipandang sebagai salah satu calon perdana menteri berikutnya bagi Partai Komunis Tiongkok. (vice.com. 16/03/2020)

Wajar saja jika China meradang karena terus disudutkan oleh Amerika. Amerika menuduh China sebagai dalang dibalik peneybarana wabah yang kini sedang melanda dunia. Namun Amerika tidak menerima tuduhan China tersebut sebagaimana China juga menolak hal yang sama. Amerika akan memanggil duta besar Cina di Amerika, Cui Tiankai, untuk dimintai penjelasan. Sebab China menyebar berita bahwa militer Amerika lah sesungguhnya yang lebih bisa disalahkan atas penyebaran virus covid-19 tersebut. Tuduhan tersebut awalnya dipicu saling serang antara Amerika dan Cina terkait penanganan virus Corona. Pemerintah Amerika lebih dahulu menyerang dengan mengatakan Cina lamban dalam mengendalikan penyebaran virus Corona. Selain itu, Amerika juga menuduh Cina tidak transparan terkait penyebaran virus. Hal itu, mengutuip Reuters, disampaikan oleh Penasehat Keamanan Nasional Amerika Robert O'Brien.Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian, kemudian membalas via Twitter. Ia mengatakan bahwa Amerika lah yang kurang transparan dalam menangani virus Corona. Dari situ lah ia kemudian menuduh Amerika yang membawa virus Corona ke Wuhan. Tidak hanya Kementerian Luar Negeri Amerika yang mempermasalahkan ucapan Lijian. Hal senada juga dilakukan Kementerian Pertahanan. Juru bicara Kementerian Pertahanan Alyssa Farah menyebut Cina mencoba menyebarkan kebohongan yang absurd.(tempo.co. 17/03/2020).

China dan Amerika terus menampakkan ke publik bagaimana sengitnya persaingan kedua Negara tersebut. Bukan hanya meregang dalam soal persaingan dagang global, namun juga berseteru dalam klaim dalang dibaling ribuan kematian manusia yang diakibatkan wabah covid-19. Virus yang kini dinyatakan berstatus pandemic telah membuat dunia kalang kabut dan panic luar biasa. Banyak yang kehilangan akal sehat sebab ketakutan akibat penularan virus yang begitu reaktif dan sangat cepat. Sebagai manusia lemah, wajar jika takut pada dampak virus yang berujung pada kematian. Apalagi jika kematian it uterus meningkat akibat wabah, maka bisa berdampak pada depopulasi dunia. Tetapi pertanyaannya adalah, kenapa muncul rumor yang sangat politis antara China vs Amerika dalam kasus wabah ini? untuk menjawab pertayaan tersebut, tentu memerlukan argumen  rasional. Bukan sekedar asumsi dan juga praduga tak bersalah. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang bisa dianalisis untuk mendudukkan rumor tersebut.

Pertama, China dan Amerika bukanlah sembarang Negara dimata dunia. Keduanya memiliki power untuk memberikan influence (pengaruh) terhadap dunia. Dengan kata lain, China dan Amerika adalah Negara yang sama-sama punya prinsip kehidupan. Karena itulah keduanya disegani dunia. China dengan atheisme yang lebih melekat komunis nya, dan Amerika dengan sekulerisme yang melekat kapitalisnya. Meskipun pada faktanya, Amerika dengan kapitalisme nya lah yang mendominasi dan China juga telah berselingkuh dengan kapitalisme, tidak lagi murni komunis. Jadi, Amerika menuduh China melakukan sesuatu yang berdampak pada dunia, tentu bukan tanpa data dan bukti. Begitu juga sebaliknya. China balik menyerang Amerika tentu juga karena memegang argumen yang kuat untuk menepis tuduhan Amerika. Keduanya pasti mempertahankan diri dari masing-masing serangan yang datang.

Kedua, awal mula muncul wabah covid-19 memang diberitakan dari Wuhan, China. Dan kabar kebocoran laboratorium virology China oleh seorang inteligen Israel menjadi data utama yang telah dipegang masyarakat luas. Ditambah sebelumnya, China juga tidak pernah menepis rumor tersebut sebab yang diserang adalah laboratorium virology miliknya dan aktifitas didalamnya. Faktanya, China memang memiliki laboratorium itu sebagaimana Negara lain seperti Amerika, Rusia, Israel, dan lainnya. Meskipun pada saat yang sama, China juga seperti mimpi menghadapi wabah tersebut. Rakyatnya histeria melihat mayat yang konon berjatuhan di jalan raya dan dibiarkan begitu saja. Dalam situasi mencekam seperti itu, tentu fokus China adalah mempertahankan populasinya dan juga negaranya. Lockdown pun dilakukan selama 2 bulan dan dikabarkan kondisi China tengah membaik. Secara manusiawi tentu semua bersyukur lepas dari wabah.

Ketiga, sekarang China buka suara soal wabah yang datang mendadak ke negaranya. China memiliki catatan peristiwa tentang teka-teki masuknya wabah ke negaranya. Mereka punya data dan fakta. Seperti yang disampaikan oleh Zhao, diplomat yang diangkat jadi jubir pemerintah untuk kasus wabah covid-19. Meskipun hal itu ia juga akhirnya melunak dengan mengatakan tidak pasti namun bisa jadi dibawa oleh warga AS ke Wuhan yang berjumlah 350 September lalu. Teka teki itu disusun oleh China mulai dari kedatangan tentara AS ke China sebanyak 350, lalu sakit dan dirawat di RS China. Kemudian ditangani dokter yang menjadi korban pertama virus covid-19 di Wuhan. Juga beberapa warga China yang kembali dari Hawai untuk berlibur terinfeksi Corona. Artinya, China bisa menepis tuduhan Amerika. Belum lagi menurut China, bahwa wabah di Italy tidaklah sama dengan jenis virus yang ada di China. Semakin pelik alur ceritanya. Tetapi semakin terbaca kemana arah yang hendak dituju kedua Negara tersebut.

Keempat, banyak analisis beredar terkait isu wabah dengan perang dagang, senjata biologi pengembangan virus, sampai pada depopulasi penduduk dunia. Dengan memberikan argument , data dan fakta masing-masing analisis. Tidaklah berlebihn hal itu dikaitkan. Sebab, melihat pertarungan opini yang dilempar ke publik memberikan peluang banyak muncul pertanyaan dan analisis. Apalagi jika bicara Amerika dan China tidak akan bisa lepas bicara dari pertarungan dan konsep politik luar negeri mereka yang identik dengan konspirasi global, dan  khususnya Amerika dengan agenda new world order yang bersekutu dengan Israel. Dunia sudah tahu hal itu. Target-target mereka untuk dunia dan manusia di masa depan telah mereka disusun dan sedang dijalankan dengan berbagai taktik sesuai pijakan ideologinya.

Apapun rumor tentang konspirasi, propaganda dan juga senjata biologis, satu hal yang pasti adalah korban nyawa manusia sudah berjatuhan. Wabah corona telah menelan korban ribuan nyawa manusia dan yang terinfeksi puluhan ribu di berbagai belahan dunia. Sikap saling tuduh China dan Amerika sebenarnya memberikan sebuah sinyal kepada dunia bahwa ideologi mereka sama-sama ingin berkuasa dan menjalankan imprealisme bahkan dengan model yang tidak jauh beda. Buktinya mereka sama-sama punya agenda pengembangan virus melalui lab virology yang didirikan, sama-sama meraih simpati dunia soal dagang dan hutang. Dan kesamaan lainnya, sama-sama tidak ingin ideologi baru (Islam) muncul ke muka bumi lagi.

 Lalu bagaimana menyikapi perseteruan keduanya ditengah kemelut wabah yang sedang melanda? Ada beberapa sikap yang dapat diambil. Pertama, sebagai manusia yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, tentu percaya bahwa virus adalah bagian dari ciptaan Allah, makhluk. Sama seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Keberadannya tentu adalah dengan izin Allah. Lalu menebarnya wabah yang tidak dapat dikendalikan diyakini sebagai qadh Allah. Meskipun secara ilmiah, juga banyak teori-teori virus mulai dari asal-muasal hingga kemampuan mutasi gen pada virus tidak sama pendapatnya. Bahkan virus juga bisa dikembangkan melalui rekayasa genetika dengan kecangghina teknologi. Intinya, virus itu ada sebagai bagian dari makhluk ciptaan di bumi. Apakah ia ada karena sebagai mahkluk alami dan berkembang karena rekayasa genetik teknologi.

Kedua, yang perlu dipahami juga adalah bahwa saat ini, dunia dibawah kendali kapitalisme global. Dimana China dan Amerika adalah dalang utamanya. Terlepas dari asal wabah siapa sesungguhnya dalang penyebar pertama diantara mereka, atau mungkin juga memang karena kiriman Allah untuk mematahkan kesombongan kedua Negara tersebut. Tetapi satu hal pasti, kondisi semacam ini sangat membuat otak kapitalisme berputar mencari keuntungan disituasi sulit seperti ini. Mulai dari mahalnya penjualan alat deteksi virus yang ditawarkan oleh mereka dan koloninya, pengusaha yang meraup keuntungan dari masker, sanitizer hingga vaksin yang akan datang tentunya. Dengan alasan menyelamatkan nyawa manusia dari wabah, maka benda-benda tersebut ditawarkan dengan harga-harga yang dianggap pantas sesuai kemampuannya.

Ketiga, bulan lalu Israel telah mengumumkan menemukan vaksin corona jenis SARS. Dan penelitian vaksin tersebut telah memakan waktu 5 tahun. Namun kelihatannya, tanpa dibantu promosi Amerika, vaksin itu tidak dilirik. Berikutnya, beberapa hari lalu Amerika juga mengumumkan akan melakukan uji coba pertama vaksin mereka. Dan kini, China juga telah mengumumkan kepada publik bahwa vaksin covid-19 telah ditemukan. Lihat, bagaimana persaingan kedua Negara tersebut merebut simpatik dunia. Amerika juga datang dengan vaksinnya bak pahlawan. China juga tidak ketinggalan. Pastinya, jika orang sudah terinfeksi virus, butuh vaksin. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Tunggu saja gerak pemerintah. Mana yang lebih menarik simpatik bagi Indonesia dari promosi vaksin kedua Negara tersebut. Menarik tentu bukan hanya harga, dari segi tawaran bon misalnya. Soalnya bayar cashback juga gak bakalan mampu.

Keempat, begitulah permainan kapitalis global dalam mencengkram dunia. Mereka punya teori polisi dunia yang berbunyi, “ciptakan masalah, dan datanglah sebagai pahlawan”. Jika penemuan vaksin hanya butuh beberapa hari, kenapa harus sampai mengorbankan ribuan nyawa dan berbulan-bulan? Sebagai muslim khususnya, Allah telah memperingatkan untuk tidak menerima berita dari orang-orang kafir dengan cepat dan tanpa filter. Tidak boleh gegabah juga latah. Sebab, pada konteksnya, kehidupan ummat Islam dan dunia pada umumnya dipimpin oleh orang-orang kafir, munafik dengan ideologi busuk kapitalisme. Menganggap segala hal adalah peluang bisnis meskpiun nyawa mnausia tarahuannya.

Sikap hipokrit China dan Amerika hanya akan bisa takluk dan mengaku salah dihadapan satu Negara yang memiliki power ideologi juga. Dan Negara itu bernama Khilafah yang berdiri diatas ideologi Islam. Dengan tegaknya Khilafah, kedua Negara sombong dan angkuh tersebut akan bertekuk lutut. Ide-ide busuknya akan cepat terbongkar dan tidak akan membuat panik manusia dengan kepanikan yang menglahkan imannya. Khilafah telah pengalaman menangani wabah dimasanya, jadi tidak perlu diajari secara teknis. Masalah akan sigap ditangani dan tentunya dengan pertolongan Allah. Penanganan dan keyakinan hidup - mati manusia tentu berbeda antara Islam dan kapitalisme juga Sosialisme. Islam memberikan solusi permasalahan hidup yang tidak akan mengorbankan nyawa mnausia dengan sia-sia.  Wallahu a’alm bissawab.[]

Oleh Nahdoh Fikriyyah Islam/ dosen dan Pengamat Politik

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar