TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Salam Pancasila, Kenapa Islam Lagi Islam Lagi!


Viralnya salam Pancasila dan pertentangan umat Islam muncul akhir-akhir ini. Salam yang digagas oleh Judian Wahyudi, ketua BPII (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) beberapa waktu lalu telah menghebohkan jagad bumi pertiwi. Pasalnya penggantian salam Islam, Assalamualaikum diganti dengan salam Pancasila menyinggung dan menyakiti kaum muslimin. Seolah menunjukkan betapa ketidaksukaannya dengan embel-embel yang berbau Islam. 

Klarifikasi pun muncul berkenaan viralnya netizen yang memprotes baik dengan halus atau tidak halus. Judian mengklarifikasinya. Bukan mengganti namun di publik salam yang dipakai adalah salam pancasila (news.detik.com/22/2/2020) 

Apapun klarifikasi tentang salam, secara kondrati umat Islam tersinggung. Beberapa hal antara lain: 
1. Indonesia mayoritas muslim, mengapa harus Islam yang mentolelir keberagaman? 
2. Muatan salam umat muslim, dengan assalamualaikum memberikan pahala. Wajib menjawab bagi yang mendengar dan Sunnah bagi yang mengucapkan. 
3. Nampak Islamophobia dengan ide salam Pancasila. Prasangka dan diskriminasi terhadap umat Islam. 

Pertanyaan besarnya, mengapa umat Islam seolah menjadi sumber masalah keragaman? Ada masalah apa dengan umat Islam? Ada dendam apa dengan umat Islam? Mengapa lagi-lagi Islam yang tersakiti? Apakah Islam sumber masalah atas kesejahteraan negeri ini? Apakah ketika Islam ditiadakan, masalah akan kemiskinan, korupsi, bencana, sulitnya mencari lapangan pekerjaan dll akan sirna? 

Sumber masalah di Indonesia.

Indonesia negeri yang konon gemah Ripah loh jinawi. Negeri yang tak akan membuat penduduknya mati karena kelaparan. Negeri ini mampu menjadi negeri swasembada pangan. Karena anugerah Allah SWT terhadap negeri khatulistiwa ini. Tongkat ditanam bisa jadi makanan, didalam buminya ada bahan-bahan tambang seperti nikel, batu bara, emas, dll. 

Negeri ini kaya, belum lagi laut yang mengelilinginya memunculkan berbagai ragam hayati seperti ikan, terumbu karang, rumput laut dll. Negeri yang indah, menggerakkan wisatawan untuk menikmati panorama alamnya. Harusnya dengan sejuta anugerah itu bisa mensejahterakan penduduknya, mampu menjadi negara maju bersaing di kancah internasional. Nyatanya? 

Kemiskinan kian hari kian sempurna, Utang Indonesia semakin meningkat, korupsi dimana-mana, hukum tebang pilih, kejahatan perkosaan, pembunuhan, pencurian, perampokan semakin merajalela. Keamanan pun kian terseok, pergaulan bebas berada dititik nadzhir, LGBT semakin marak dan sederatan masalah-masalah di Indonesia yang lain. 

Mengapa masalah seperti itu kian banyak? Lagi-lagi harus melihat dengan objektif. Aturan apa yang dipakai di negeri ini? Jelas bahwa aturan yang harus dipakai oleh umat manusia adalah aturan sang pencipta. Pencipta menciptakan sekaligus memberi aturan. Namun Indonesia tidak menerapkannya. Indonesia terlalu jumawa, Indonesia memakai aturan manusia. Manusia-manusia yang dengan keserakahannya membuat aturan sendiri. Membuat UU sendiri. Tanpa sedikitpun melirik apalagi melibatkan Robb pencipta dan pengatur. Ini sumber masalah terbesar yang dilakukan negeri ini. 

UU minerba, membolehkan perusahaan untuk mengambil kekayaan bumi dan isinya dengan keserakahannya. Hingga hutan-hutanpun gundul, cekungan terjadi pada gunung-gunung bumi Pertiwi. Minyak bumi diambil dengan serakah. Beberapa desa di Sidoarjo harus menelan pahitnya bencana atas kecerobohan penambangan minyaknya. Dan lagi, dan lagi, terus terjadi. 

Islam menyelesaikan masalah

Di dalam Qur'an surat al-'alaq ayat 5-6 disebutkan: 
عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡؕ
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
كَلَّاۤ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَيَطۡغٰٓىۙ‏
6. Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas. 

Semua sudah diajarkan di dalam Islam. Islam menjadi Rahmat bagi seluruh alam. Ini terbukti saat Islam ditetapkan, taruhlah kebijakan yang diambil Umar bin Abdul Aziz perihal ekonomi tentang zakat, beliau sangat hati-hati dan memperhatikan rakyatnya. Umar memerintahkan agar zakat diberikan pula kepada mereka yang sedang dihukum dan terlilit utang. Hingga tak satupun rakyatnya yang mau menerima zakat karena dalam masa itu rakyat sangat sejahtera. 

Di samping kebijakan itu Umar bin Abdul Aziz pun memberikan kebijakan tidak memberikan gaji terlalu tinggi pada pejabatnya, serta sangat jeli dan ketat mengawasi pejabatnya agar tidak melakukan korupsi. Semua kebijakan didasarkan pada syariat Islam. 

Tidak ada satu kebijakan yang keluar dari syariat. Dan terbukti tidak ada masalah yang berarti. Sehingga apa alasannya menjadikan Islam sumber masalah?! Bahkan harusnya sudah saatnya kembali pada aturan Allah SWT dalam mengatur umat, bukan dengan aturan yang dibuat manusia-manusia serakah.

Oleh : Mamik Laila 
(Komunitas Penulis Anjuk Ladang)

Posting Komentar

0 Komentar