Rindu Menggelora pada Khilafah


Kepala Biro Multimedia Divhumas Polri Brigjen Pol. Budi Setiawan berpesan kepada masyarakat untuk aktif melapor jika menemukan konten radikal di media sosial. Ia menghimbau segera melaporkan konten berita bohong dan kampanye pro-Khilafah d media sosial. Hal itu disampaikan dalam diskusi bertajuk “ Upaya peran Pers dan Generasi Milenial dalam Membendung Paham Radikalisme”. (satuharapan.com. 23/02/2020)

Meskipun kata Khilafah selalu diidentikkan dengan istilah radikal, namun kelihatannya justru mengundang banyak orang-orang semakin mencari-cari dan penasaran dengan promosi Khilafah dan radikal yang digembar-gemborkan elemen-elemen tertentu. Bukan membuat masyarakat takut atau alergi, justru sebaliknya, membuat masyarkat semakin kenal dan berbondong-bondong terus mendatangi kajian-kajian Khilafah di lingkungan masing-masing. 

Benci-Benci Rindu Yang Menggelora

Kata pujangga, cinta dan benci itu sangat beda tipis. Bahkan hampir tidak bisa dibedakan. Orang yang mencintai sesuatu pasti terus menyebut-nyebut yang ia cintai. Begitu juga dengan seeorang yang membenci sesuatu. Ia juga akan terus menyebut benda yang ia benci tersebut. Sangat sulit membedakan cinta dan benar-benar benci pada hakikatnya. Bahkan yang merasakan pun mengalami kesulitan untuk menetukan apakah itu cinta atau benci. Baik rasa cinta maupun benci, keduanya memiliki hasrat rindu yang sama-sama membara. Rindu melihat yang dicintai, dan rindu mendengar kabar yang dibenci.

Dan kisah benci-benci rindu itu pernah terjadi di masa awal-awal Islam. orang-orang kafir Quraisy yang membenci dakwah Rasulullah saw dengan kebencian yang luar biasa. Segala cara mereka lakukan untuk membungkam dan menghentikan dakwah Islam di Mekkah. Tetapi Allah maha Kuasa atas sesuatu, justru yang terjadi malah sebaliknya, dakwah Islam semakin berkibar di Mekkah bahkan hingga keluar Makkah dan sampai ke telinga orang-orang pendatang. Orang-orang kafir Quraisy menyebar fitnah atas Rasulullah saw dan para pengikutnya kepada semua orang di Makkah. Hingga tersohorlah Rasulullah saw sebagai pembawa dakwah Islam, agama baru yang diturunkan untuk manusia dan semesta alam. 

Perilaku tidak adil dilancarkan oleh kafir Qurasiy kepada para sahabat Rasulullah saw hingga beberapa dari mereka juga syahid. Seperti Sumayyah dan juga suaminya Yasir. Adapun Bilal bin Rabbah yang ditindih dengan batu besar diterik matahari tidak mengubah sedikitpun keimanannya. Belum lagi pemboikotan terhadap kaum muslimin hingga tertimpa kelaparan, kemiskinan dan mencari suaka ke negeri lain. Bahkan pembunuhan Rasulullah saw pun juga direncanakan, namun Allah tidak berkehendak. Akan tetapi dibalik semua kejahatan, fitnah keji dan kebencian yang dilontarkan kafir Quraisy Mekkah, ada cinta dan rindu yang membara dalam jiwa mereka. 

Peristiwa yang diabadikan oleh para penulis sirah telah memberikan kabar kepada ummat Islam, bagaimana cintanya Abu Jahal dan rekannya terhadap isi Alquran yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Bait demi bait isi Alquran sangat mengagumkan bagi mereka. Saking cintanya, Abu Jahal tertangkap selalu menguping Rasuullah saw di tengah malam untuk mendegarkan bacaan Alquran Rasulullah saw di rumahnya. 

Abu Jahal dan rekannya mampu menghabiskan malam hingga fajar tiba untuk mendengar lantunan kalamullah. Bahkan mereka lupa untuk tidur. Apa yang membuat Abu Jahal dan rekannya demikian jika bukan  cinta yang dalam juga rindu yang menggelora terhadap yang dicintainya? Hingga menuntut mereka selalau hadir mendengar lantunan kalamullah tersebut. 

Sayangnya, cinta dan kerinduan itu ditepis karena kesombongan dan kengkuhan. Jabatan, rasa superior sebagai suku terhormat, dan juga serangan dakwah terhadap kebiasaan mereka yang buruk dan dilarang menurut Alquran membuat Abu Jahal dan rekannya enggan menerima Islam. apalagi jika posisi kekuasaan dan kehormatan mereka nantinya dirasa akan terampas setelah masuk Islam. 

Ditambah  ketidakjujuran mengakui kebenaran Alquran dan pengingkaran teradap Nabiyulallah Muhammad saw telah membuat Abu Jahal dan rekan-rekannya tertutup hatinya oleh Allah swt. Abu Thalib, paman Rasulullah saw juga mengakui kebenaran dan keindahan Islam. Namun karena gengsi hingga Allah juga tidak memberikan peluang bagi Abu Thalib mencicipi nikmat iman dalam Islam. 

Sepertinya hal yang sama kini dialami oleh gagasan Khilafah. Nafas kebencian terus dihembuskan, tetapi terus disebut-sebut namanya. Khilafah dimonsterisasi, tetapi terkadang diakui sebagai ajaran Islam meski didistorsi dan dikatakan hanya sejarah dan tidak cocok di Indonesia. 

Seandainya mereka jujur saja maka urusannya akan jadi mudah. Karena melihat geliat perkembangan poros perpolitikan nasional, apalagi terkait opini syariah dan perjuangan penegakan Khilafah semakin membahana. Kampanye kebencian justru membantu ide Khilafah semakin besar. Sungguh indah makar Allah menyusun skenario yang tidak bisa ditandingi para penghalang dakwah Islam.[]

Oleh Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen, Pemerhati Sosial dan Kemasyarakatan

Post a Comment

0 Comments